Kelas Menengah Indonesia Terus Menyusut pada 2025, Daya Beli Tertekan dan Konsumsi Melambat
M Zulkodri February 08, 2026 06:03 PM

 

BANGKAPOS.COM--Jumlah kelas menengah di Indonesia kembali mengalami penurunan pada 2025.

Penurunan ini bahkan lebih dalam dibandingkan tahun sebelumnya, seiring dengan melemahnya daya beli masyarakat dan pertumbuhan konsumsi yang tidak sekuat kelompok ekonomi lainnya.

Hal tersebut tercatat dalam laporan terbaru Mandiri Institute yang memotret kondisi struktur ekonomi masyarakat Indonesia sepanjang 2025.

Dalam laporan itu disebutkan bahwa kelas menengah semakin menghadapi tekanan, baik dari sisi pendapatan maupun kemampuan belanja.

Pada 2025, jumlah kelas menengah tercatat sebanyak 46,7 juta orang.

Angka ini turun dari 47,9 juta orang pada 2024, atau berkurang sekitar 1,1 juta orang dalam satu tahun.

Penurunan ini jauh lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya menyusut sekitar 0,4 juta orang.

Dengan jumlah tersebut, kelas menengah kini mencakup sekitar 16,6 persen dari total penduduk Indonesia.

Calon Kelas Menengah Justru Bertambah

Di tengah menyusutnya kelas menengah, Mandiri Institute mencatat tren yang berlawanan pada kelompok aspiring middle class atau calon kelas menengah.

Kelompok ini justru mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Jumlah aspiring middle class meningkat dari 137,5 juta orang pada 2024 menjadi 142 juta orang pada 2025.

Dengan angka tersebut, kelompok ini kini mencakup sekitar 50,4 persen dari total penduduk nasional.

Aspiring middle class adalah kelompok masyarakat yang secara ekonomi berada sedikit di bawah kelas menengah.

Mereka memiliki pendapatan dan pola konsumsi yang mendekati kelas menengah, namun masih rentan terhadap guncangan ekonomi, seperti kenaikan harga atau perlambatan ekonomi.

Peningkatan jumlah calon kelas menengah ini menunjukkan bahwa sebagian masyarakat yang sebelumnya berada di kelas menengah kini turun kelas, sementara kelompok rentan perlahan naik mendekati kelas menengah.

Kelompok Rentan Naik Tipis, Jumlah Penduduk Miskin Turun

Selain calon kelas menengah, kelompok rentan (vulnerable) juga mengalami kenaikan, meski tidak terlalu besar.

Pada 2025, jumlah kelompok rentan tercatat sebanyak 67,9 juta orang, naik tipis dari 67,7 juta orang pada 2024.

Kelompok rentan mencakup sekitar 24,1 persen dari total penduduk Indonesia.

Kelompok ini sangat sensitif terhadap perubahan ekonomi dan berisiko jatuh ke dalam kemiskinan apabila terjadi tekanan ekonomi yang lebih berat.

Sementara itu, jumlah penduduk miskin justru mengalami penurunan.

Pada 2025, jumlah masyarakat miskin tercatat sebanyak 23,9 juta orang, turun dari 25,2 juta orang pada 2024.

Dengan demikian, proporsi penduduk miskin berada di kisaran 8,5 persen dari total penduduk nasional.

Di sisi lain, kelompok masyarakat kelas atas atau kaya masih sangat kecil jumlahnya.

Pada 2025, kelompok ini hanya sekitar 1,2 juta orang atau setara 0,4 persen dari total penduduk, naik tipis dibandingkan 1,1 juta orang pada tahun sebelumnya.

Tekanan Kelas Menengah Makin Berat

Mandiri Institute menilai penurunan jumlah kelas menengah pada 2025 menjadi sinyal bahwa tekanan ekonomi yang dihadapi kelompok ini semakin berat.

Kelas menengah dinilai berada dalam posisi yang sulit karena tidak lagi mendapatkan bantuan sosial, namun juga belum cukup kuat menghadapi kenaikan biaya hidup.

Tekanan ini tercermin dari pertumbuhan konsumsi per kapita kelas menengah yang lebih rendah dibandingkan kelompok ekonomi lainnya.

Pada 2025, konsumsi per kapita kelas menengah hanya tumbuh sebesar 4,1 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Angka ini berada di bawah pertumbuhan konsumsi per kapita nasional yang mencapai 4,6 persen.

Bahkan, pertumbuhan konsumsi kelas menengah menjadi yang paling rendah dibandingkan kelompok masyarakat lain.

Sebagai perbandingan, konsumsi masyarakat miskin tumbuh 4,7 persen yoy, kelompok calon kelas menengah tumbuh 4,8 persen yoy, kelompok rentan tumbuh 5 persen yoy, dan kelompok kelas atas mencatat pertumbuhan konsumsi tertinggi sebesar 6,8 persen yoy.

Pola Belanja Kelas Menengah Berubah

Dari sisi komposisi pengeluaran, konsumsi kelas menengah pada 2025 masih ditopang oleh belanja non-makanan atau non-food.

Sektor ini tumbuh relatif lebih kuat sebesar 6,4 persen yoy, meningkat dibandingkan pertumbuhan 3,2 persen pada 2024.

Namun, Mandiri Institute mencatat bahwa pertumbuhan konsumsi non-food tersebut lebih banyak didorong oleh pengeluaran gaya hidup, bukan kebutuhan dasar.

Pengeluaran transportasi menjadi pendorong utama, dengan pertumbuhan mencapai 22,5 persen yoy. Lonjakan ini sejalan dengan meningkatnya mobilitas masyarakat, khususnya perjalanan jarak pendek sepanjang 2025.

Selain itu, konsumsi barang tahan lama juga meningkat cukup tajam. Pembelian handphone, misalnya, tumbuh hingga 31,2 persen yoy.

Hal ini menunjukkan bahwa meski daya beli tertekan, kelas menengah masih mengalokasikan pengeluaran untuk kebutuhan komunikasi dan teknologi.

Sebaliknya, konsumsi makanan justru mengalami perlambatan signifikan. Pada 2025, pertumbuhan konsumsi food hanya sebesar 0,9 persen yoy, jauh lebih rendah dibandingkan 4,6 persen pada tahun sebelumnya.

Belanja Esensial Tetap Jadi Penopang

Selain transportasi dan barang tahan lama, konsumsi non-food kelas menengah juga ditopang oleh pengeluaran esensial lainnya, seperti kesehatan, pendidikan, serta produk kebutuhan sehari-hari atau Fast Moving Consumer Goods (FMCG).

Namun, perlambatan konsumsi makanan menjadi sinyal bahwa kelas menengah mulai menahan belanja kebutuhan dasar, sebagai bentuk penyesuaian terhadap tekanan biaya hidup dan ketidakpastian ekonomi.

Kondisi Berbeda di Setiap Daerah

Meski secara nasional jumlah kelas menengah menurun, Mandiri Institute mencatat bahwa kondisi antarwilayah tidak seragam.

Beberapa provinsi justru masih mencatat pertumbuhan jumlah kelas menengah.

Jawa Barat menjadi provinsi dengan penambahan kelas menengah terbesar, yakni sekitar 358.000 orang.

Disusul oleh Jawa Timur dengan tambahan sekitar 152.000 orang, serta DI Yogyakarta yang bertambah sekitar 63.000 orang.

Sebaliknya, penurunan jumlah kelas menengah paling dalam terjadi di Sumatera Selatan, Banten, dan Jawa Tengah.

Kebijakan Perlu Disesuaikan Daerah

Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, menilai perbedaan kondisi antarwilayah menunjukkan bahwa tekanan terhadap kelas menengah bersifat tidak merata dan sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi daerah masing-masing.

Menurutnya, kebijakan yang diterapkan juga perlu disesuaikan dengan karakteristik setiap daerah.

“Daerah yang masih mengalami pertumbuhan kelas menengah perlu difokuskan untuk menjaga momentum. Sementara daerah yang mengalami penurunan perlu diarahkan pada peningkatan kualitas pekerjaan dan penguatan daya beli,” tulis Andry Asmoro dalam laporan Mandiri Institute, Jumat (6/2/2026).

Ia menekankan bahwa penguatan kelas menengah menjadi kunci penting bagi stabilitas ekonomi nasional, mengingat kelompok ini selama ini menjadi motor utama konsumsi dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.(*)

Sumber : Kontan.co.id/Kompas.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.