TRIBUNJAMBI.COM – Seorang guru agama bernama Sitti Halimah kini harus menjalani perawatan di rumah sakit, bukan karena sakit biasa, melainkan diduga akibat tekanan mental dan perlakuan tidak menyenangkan yang dialaminya di lingkungan sekolah.
Peristiwa tersebut terjadi di SDN 001 Sebatik Tengah, Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.
Kasus ini menjadi perhatian publik setelah Muhammad Nurhidayat, putra Sitti, menuliskan curahan hatinya di media sosial hingga viral dan menuai beragam reaksi.
Dugaan sementara, persoalan dipicu masalah pribadi yang berujung pada tertahannya tanda tangan kepala sekolah pada berkas administrasi milik Sitti.
Akibatnya, tunjangan sertifikasi Sitti selama satu tahun senilai Rp45 juta dilaporkan tidak dapat dicairkan.
Tekanan yang diduga terus berlangsung disebut berdampak pada kondisi kesehatan Sitti yang menurun drastis.
Ia kemudian dilarikan ke RSUD Tarakan dan menjalani perawatan dengan infus terpasang.
Baca juga: Lowongan Kerja Jambi Hari Ini Minggu 8 Februari 2026, Ada Hyundai Arista hingga Honda Thamrin
Ketegaran yang Mulai Runtuh
Selama ini, Sitti Halimah dikenal sebagai sosok guru yang tegar di mata keluarga dan murid-muridnya.
Di hadapan anak-anaknya, ia tetap berusaha tersenyum seolah tidak terjadi masalah di tempatnya mengajar.
Namun, di balik sikap tenang tersebut, diduga tersimpan tekanan batin yang berat.
Informasi yang beredar menyebutkan Sitti sempat tidak diperbolehkan berada di ruang guru.
Ia juga disebut hanya bisa beraktivitas di perpustakaan dengan fasilitas terbatas.
Selain itu, muncul dugaan adanya tindakan kekerasan fisik berupa pelemparan kursi dan sekop sampah yang diarahkan kepadanya.
Unggahan Sang Anak Jadi Sorotan
Kisah ini semakin menyita perhatian setelah unggahan Muhammad Nurhidayat tersebar luas di media sosial.
Dalam tulisannya, ia menceritakan dugaan perlakuan yang dialami ibunya selama bekerja di sekolah tersebut.
Ia menyebut ibunya tidak diperkenankan masuk ruang guru, tidak dilibatkan dalam kegiatan sekolah, serta tidak dimasukkan dalam grup komunikasi sekolah.
Selain itu, ia menuliskan bahwa berkas administrasi ibunya tidak ditandatangani sehingga tunjangan sertifikasi selama setahun tidak cair.
Ia juga mengungkap dugaan kekerasan fisik yang membuat kondisi mental dan kesehatan ibunya menurun.
Investigasi Masih Berjalan
Hingga saat ini, pihak kepala sekolah SDN 001 Sebatik Tengah belum memberikan keterangan resmi terkait tudingan tersebut.
Upaya konfirmasi dari sejumlah awak media juga disebut belum mendapat respons.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nunukan, Akhmad, menyatakan pihaknya sedang melakukan penelusuran dan investigasi atas laporan tersebut.
Dukungan terhadap Sitti juga datang dari Ikatan Alumni STIT Ibnu Khaldun (IKA STIT IKN).
Ketua IKA STIT IKN, Bakhrul Ulum, mengecam dugaan perlakuan yang dianggap tidak pantas terhadap seorang guru.
Ia meminta Dinas Pendidikan mengambil langkah tegas sesuai hasil pemeriksaan demi menjaga marwah dunia pendidikan.