Agustina Upayakan Pasar Dugderan Semarang Jadi Warisan Budaya Indonesia
deni setiawan February 08, 2026 06:09 PM

TRIBUNJATENG COM, SEMARANG – Pemkot Semarang mengupayakan agar Festival Dugderan mendapatkan pengakuan sebagai Warisan Budaya Indonesia.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti mengungkapkan, langkah ini diambil agar nilai sejarah dan identitas kota tetap terjaga.

"Kami sedang berjuang agar Pasar Dugderan menjadi bagian dari warisan budaya Indonesia."

"Kalau ini menjadi warisan budaya, siapapun Wali Kotanya wajib mengadakan Pasar Dugderan," kata Agustina, Minggu (8/2/2026).

Baca juga: Fakta Terkini di Pemkot Semarang, Banyak ASN Menolak Jabatan Lurah, Kenapa?

• Sosok Isrodin Dirikan Sekolah di Hutan Lereng Gunung Slamet: Tak Ingin Ada Anak Putus Sekolah

• Kenangan Gubernur Ahmad Luthfi dengan Wakil Bupati Klaten: Benny Seperti Anak Sendiri

Festival Pasar Rakyat Dugderan tahun ini pun kembali digelar di kawasan Alun-alun Masjid Agung Semarang (Kauman) dan telah dibuka pada Sabtu (7/2/2026). 

Pasar Dugderan akan berlangsung hingga 16 Februari 2026.

Mengusung tema “Bersama dalam Budaya, Toleransi dalam Tradisi,” festival tahunan ini menghadirkan panggung hiburan yang menampilkan kesenian lokal dan musik "Dangdut Jadoel" dari Orkes Melayu (OM) Lorenza.

Selain hiburan modern, nuansa nostalgia juga dihadirkan melalui penggunaan busana tempo dulu oleh jajaran pejabat Pemkot Semarang serta kehadiran mainan ikonik seperti kapal otok-otok, celengan gerabah, hingga kerajinan gerabah yang menjadi memori kolektif warga lintas generasi.

"Ini adalah tradisi yang dilakukan sejak zaman Belanda masih menjajah Indonesia."

"Tahun ini kami buat lebih ramai. Dengan tema, teknik, pakai baju-baju jadul."

"Mungkin tahun depan temanya apa lagi, yang menarik," ungkap Agustina.

Kawasan sepanjang Jalan Ki Narto Sabdo hingga Alun-alun barat kini disulap menjadi pusat ekonomi kerakyatan dengan zonasi yang tertata rapi.

Ratusan pelaku UMKM dan Pedagang Kaki Lima (PKL) binaan turut berpartisipasi menjajakan produk lokal, kuliner, hingga mainan tradisional. 

"Biarlah alun-alun ini dipakai secara maksimal untuk ruang publik. Dugderan harus menjadi panggung rakyat, semua orang yang ingin jualan biarkan saja jualan."

"Yang penting tertib dan pelaku usaha kecil yang menjadi paling utama prioritas," lanjut Agustina.

Agustina juga menegaskan koordinasi lintas sektor antara Disdag, Dishub, Satpol PP, hingga aparat keamanan juga telah disiapkan untuk memastikan rekayasa lalu lintas dan kebersihan kawasan tetap terjaga selama sepuluh hari ke depan.

"Mudah-mudahan ini tetap ramai hingga 16 Februari. Kami akan akhiri dengan arak-arakan Dugderan dari Balaikota ke Masjid Kauman," imbuhnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.