Pengolahan Sampah Sirkular Modern TPS3R Balak Banyuwangi, Mampu Olah Sampah Jadi Bahan Bakar Pabrik
Rendy Nicko Ramandha February 08, 2026 06:48 PM

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, BANYUWANGI -  Pengolahan sampah menjadi salah satu prioritas pembangunan di Banyuwangi. Dalam upaya penanganan yang lebih ramah lingkungan, kini Banyuwangi getol menggalakkan pengolahan sampah sirkular, salah satu yang terbesar adalah Tempat Pengolahan Sampah Reduce Reuse Recycle (TPS3R) Balak, Kecamatan Songgon, Banyuwangi.

TPS3R Balak ini berdiri di atas lahan seluas 1,5 hektar dengan kapasitas pengolahan sampah 84 ton dalam sehari.

Proses pengolahan sampahnya dilakukan secara modern dengan bantuan teknologi mulai dari proses pemilahan, pengolahan sampah organik dan non organik hingga pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif atau RDF (bahan bakar pabrik).

“Pengelolaan sampah di TPS3R Balak dirancang untuk memastikan sampah rumah tangga dapat ditangani secara efektif, mulai dari sumber hingga pemrosesan akhir,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Dwi Handayani, Minggu (8/2/2025).

Baca juga: Puluhan Rumah di Banyuwangi Rusak Akibat Angin Kencang, Pemkab Gerak Cepat Lakukan Penanganan

Yani mengatakan pengelolaan sampah dilakukan menggunakan teknologi untuk meminimalkan residu dan tidak menimbulkan bau. Setiap hari ada petugas sampah keliling kampung untuk mengambil sampah warga.

Saat ini TPS Balak melayani warga di 64 desa di 10 kecamatan di Banyuwangi.

“Semua sampah yang datang ke TPS3R akan dipilah dengan mesin konveyor berdasarkan kategori organik dan anorganik. Saat ini ada 120 pekerja di TPS3R Balak yang berasal dari warga sekitar,” kata Yani.

Setelah dipilah, untuk sampah non organik yang berharga seperti botol/gelas plastik, kertas/dupleks akan dipres lalu dikirim ke pabrik daur ulang atau industri pengolahan.

Sisa dari sampah non organik seperti bungkus sachet atau plastik yang tidak punya nilai ekonomis akan diolah menjadi RDF atau bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan.

“Sudah puluhan ton RDF dari TPS3R Balak dikirim ke Gresik untuk bahan bakar industri semen,” kata Yani.

Sedangkan untuk sampah organik, akan diolah menjadi kompos dengan metode window komposting. Sedangkan Lindi atau air yang dihasilkan sampah organik akan diolah menggunakan Ipal (instalasi pengolahan air limbah) agar tidak mencemari lingkungan.

“Semua sampah di TPS3R dikelola tanpa menyisakan residu sampah. Jika ada pun akan dibawa ke TPA tidak menginap di TPS3R,” terang Yani.

Ditambahkan Yani, pemkab berencana membangun lagi TPS3R di kawaan Sobo, Banyuwangi.

TPS3R Sobo sendiri akan dibangun di area seluas 1,8 hektar dengan kapasitas pengolahan sampah 45 ton/hari.

"Secara kapasitas memang lebih kecil karena hanya mengelola sampah di kecamatan Banyuwangi saja. Meski lahanny lebih luas," jelas Yani.

“Pemkab juga akan membangun drainase serta memperbaiki infrastruktur pendukung seperti jalan untuk kenyamanan warga,” imbuhnya.

Salah satu warga Desa Balak, Bu Kikit mengaku mendapat manfaat dengan adanya pengolahan sampah ini. Warga kini bisa terbiasa membuang sampah dengan memilahnya, dari yang sebelumnya sampah dibakar. 

“Iurannya terjangkau, Rp. 10 ribu/bulan. Kalau untuk bau jarang sekali, kalau memang bau kita tinggal bilang ke petugas segera diatasi. Tidak masalah kok, pengolahannya bersih dan rapi,” terangnya. 

(Aflahul Abidin/TribunJatimTimur.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.