- Amerika Serikat mengumumkan sanksi baru terhadap Iran pada Jumat (7/2/2026).
Sanksi ini menargetkan perdagangan minyak dan petrokimia Iran.
Pengumuman dilakukan hanya beberapa jam setelah pembicaraan tidak langsung antara AS dan Iran berakhir di Oman.
Padahal, kedua pihak sebelumnya memberi sinyal akan melanjutkan negosiasi nuklir.
Departemen Luar Negeri AS menyebut sanksi mencakup 15 entitas, dua individu, dan 14 kapal.
Mereka dituduh terlibat dalam perdagangan ilegal minyak dan produk petrokimia Iran.
Sanksi tersebut juga bertujuan untuk memutus aliran pendapatan yang digunakan untuk mendanai penindasan di dalam negeri.
Langkah ini disebut sebagai bagian dari kampanye “tekanan maksimum” pemerintahan Presiden AS Donald Trump.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan dialog harus bebas dari ancaman dan tekanan.
Dalam unggahan di media sosial X, Araghchi menyebut, Iran memasuki diplomasi dengan sikap waspada.
Ia mengatakan delapan bulan terakhir telah menciptakan ketidakpercayaan yang besar.
Ketegangan kedua negara meningkat sejak AS menyerang fasilitas nuklir Iran pada Juni lalu.
Situasi diperparah oleh gelombang protes anti-pemerintah di Iran pada akhir tahun lalu.
Teheran menuduh AS dan Israel berada di balik kerusuhan tersebut.
# donald trump # Abbas Araghchi # petrokimia # iran # amerika serikat