Terjebak Asap Kebakaran Hutan, Relawan Alami Sesak Napas dan Muntah saat Pemadaman Api di Rasau Jaya
Tribun-video February 08, 2026 07:42 PM
Download aplikasi berita TribunX di Play Store atau App Store untuk dapatkan pengalaman baruTRIBUN-VIDEO.COM - Ketua Masyarakat Peduli Api (MPA) Rasau Jaya Umum, M. Ali Kadri (62), menceritakan kronologis kejadian yang dialaminya saat terjebak asap pekat ketika melakukan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Kamis, 29 Januari 2026 sore.Ali Kadri mengatakan, peristiwa tersebut terjadi ketika tim gabungan tengah melakukan pemadaman, lalu tiba-tiba arah angin berubah sangat kencang sehingga asap berputar balik dan menghantam petugas.“Pada saat itu asap memang sangat pekat. Angin memutar balik arah dan menghantam kami, sehingga kami benar-benar terjebak di dalam asap,” ujar Ali Kadri kepada Tribunpontianak.co.id.Ia menjelaskan, kondisi tersebut dialami oleh sejumlah personel gabungan dari MPA, Manggala Agni, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), serta relawan lainnya.Seluruh personel terpaksa menghentikan aktivitas pemadaman untuk mencari oksigen di permukaan.“Kami semua berusaha keluar dan mencari oksigen. Alhamdulillah, dibantu kawan-kawan dari MPA dan Manggala Agni,” katanya.Menurut Ali, saat kejadian angin bertiup sangat kencang tanpa disertai hujan. Asap tebal tersebut menghantam tim selama kurang lebih 15 hingga 20 menit, membuat jarak pandang menjadi sangat terbatas.“Jarak pandang paling sekitar 15 meter, gelap karena asap. Angin sangat kencang dan tidak ada hujan,” jelasnya.Ia menyebutkan, saat itu dirinya berada di posisi belakang tim karena bertugas mendukung rekan-rekan yang berada di garis depan.Namun, perubahan arah angin membuat seluruh tim, termasuk dirinya, ikut terjebak asap.“Kami semua akhirnya memutar balik karena sudah tidak mampu menahan asap. Masih ada yang bertahan, tapi kami yang tidak sanggup memilih keluar,” ucapnya.Dampak asap tersebut mulai dirasakan Ali Kadri pada malam hari. Ia mengalami pusing, lemas, kesulitan bernapas, hingga muntah.“Malamnya saya langsung muntah. Bau yang keluar itu bau asap. Dada terasa sakit dan napas terasa berat,” katanya.Keesokan harinya, ia dibawa ke puskesmas oleh rekannya untuk mendapatkan perawatan medis.“Saya dibawa ke puskesmas, diinfus, dan dipasang oksigen. Kata dokter, saya kekurangan cairan karena banyak muntah dan kelelahan,” jelas Ali.Setelah menjalani perawatan dan beristirahat selama dua hari di rumah, kondisinya berangsur membaik, meski masih merasakan nyeri di dada.“Sampai sekarang masih terasa sakit di dada, mungkin pengaruh asap yang saya hirup,” katanya.Ali Kadri mengungkapkan, ia telah terlibat sebagai anggota MPA sejak 2018, dengan jumlah anggota sekitar 10 orang, dan seluruhnya bekerja secara sukarela tanpa digaji.“MPA ini murni sosial, tidak digaji. Sehari-hari kalau tidak ada kebakaran, kami berkebun. Tapi kalau musim kebakaran, hampir setiap hari kami turun,” ungkapnya.Ia menilai, tantangan terberat dalam pemadaman karhutla bukan api, melainkan asap tebal yang dipengaruhi arah angin.“Yang paling berat itu melawan asap. Angin sering berlawanan arah dengan kami, oksigen susah, sampai ada kawan yang terpaksa melepas selang karena tidak mampu,” katanya.Sebagai penutup, Ali Kadri mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, terutama saat musim kemarau.“Satu orang membakar bisa mengakibatkan sepuluh bahkan lebih dari dua puluh orang terkena dampaknya. Tolong jangan membakar sembarangan,” tegasnya.Ia juga berharap ada perhatian dari pemerintah atau instansi terkait terhadap para relawan MPA yang bekerja secara sukarela di lapangan.“Mudah-mudahan ada perhatian dan uluran tangan untuk kawan-kawan MPA, karena kami benar-benar bekerja sosial demi menolong masyarakat,” pungkasnya.Artikel ini telah tayang di TribunPontianak.co.id dengan judul Kisah Menegangkan Ali Kadri Terjebak Asap Padamkan Karhutla hingga Alami Sesak Napas dan Muntah, https://pontianak.tribunnews.com/kalbar/1160988/kisah-menegangkan-ali-kadri-terjebak-asap-padamkan-karhutla-hingga-alami-sesak-napas-dan-muntah?page=all#goog_rewarded.Program: Saksi KataSumber: Tribun PontianakEditor: Faiz Fadhilah#SaksiKata #kebakaran #kebakaranhutan #relawan #KisahRelawan #kalimantanbarat