Mitra Bulog Serap Gabah Petani Rias, HPP Ikuti Penetapan Pemerintah Pusat
Ajie Gusti Prabowo February 08, 2026 07:50 PM

TOBOALI, BABEL NEWS - Para pekerja terlihat mengangkut satu per satu karung-karung gabah berwarna putih di hamparan sawah Desa Rias, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, Minggu (8/2) siang. Setibanya di lokasi titik pengumpulan, karung-karung tersebut langsung ditimbang dan langsung diangkut ke atas bak mobil pikap untuk dibawa ke Mitra Penggilingan  Perusahaan Umum (Perum) Badan Urusan Logistik (Bulog).

Mitra Penggilingan Bulog Marsudi Tani Desa Rias, Iman Qolbi mengatakan, penyerapan gabah kering panen (GKP) di Kabupaten Bangka Selatan dilakukan sejak 2 Februari 2026. Sampai hari ini penggilingannya telah berhasil menyerap kurang lebih 150 ton GKP dari petani. Jumlah tersebut diprediksi terus meningkat seiring berakhirnya masa panen raya awal tahun 2026.

"Untuk Penggilingan Mitra Bulog yang saya naungi mulai menyerap per tanggal 2 Februari 2026. Sudah mencapai 150 ton GKP terserap," kata Iman Qolbi.

Menurutnya, penyerapan gabah tahun ini dilakukan tanpa target kuantitas tertentu. Namun demikian, pihaknya berupaya menyerap gabah petani semaksimal mungkin. Sesuai dengan kemampuan penggilingan dan standar kualitas yang ditetapkan. 

Pasalnya, kualitas menjadi tanggung jawab penuh mitra penggilingan. Beras yang dihasilkan harus dijaga agar tidak mengalami perubahan warna menjadi kuning atau rusak selama proses penggilingan dan penyimpanan. 

Di sisi lain, penyerapan gabah oleh Bulog sebelumnya sempat dihentikan sementara di wilayah Kepulauan Bangka Belitung pada akhir tahun 2025. Namun, seiring masuknya musim panen, program penyerapan kembali dilanjutkan. Selama satu bulan terakhir sebelum penyerapan Bulog kembali berjalan, penggilingan mitra menyerap gabah petani secara mandiri. 

Pembelian dilakukan dengan harga Rp6.500 per kilogram untuk gabah kering panen. "Selama kurang lebih satu bulan terakhir, kami menyerap secara pribadi dengan harga Rp6.500 per kilogram GKP," ujar Iman Qolbi.

Harga tersebut, lanjut Iman, kini kembali mengacu pada Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat. Keberadaan HPP sangat dirasakan manfaatnya oleh petani, terutama saat memasuki masa panen raya. Dengan adanya harga acuan yang jelas, harga padi tidak mengalami penurunan signifikan di lapangan.

"Dengan adanya harga acuan dari pemerintah pusat, harga padi di tingkat petani relatif stabil dan tidak terlalu jatuh saat panen raya," ujarnya.

Ia menambahkan, hingga saat ini harga beli gabah kering panen dari petani masih mengacu penuh pada regulasi pemerintah pusat. Hal ini memberikan rasa aman bagi petani dalam menjual hasil panennya. 

Kebijakan ini dinilai tidak hanya menjaga daya beli petani, tetapi juga mendorong peningkatan produksi padi secara berkelanjutan. Selain meningkatkan kesejahteraan, juga mendorong semangat petani untuk terus meningkatkan produksi padi

Saat ini, kondisi harga padi di tingkat petani di wilayah Desa Rias dan sekitarnya masih tergolong standar dan stabil. Tidak terjadi penurunan harga yang signifikan karena sudah adanya acuan harga dari mitra Bulog.

"Sekarang harga padi di tingkat petani masih standar, tidak terlalu jatuh. Karena sudah ada acuan harga dari mitra Bulog sebesar Rp6.500 per kilogram GKP," jelas Iman Qolbi. (u1)

Harga Tak Anjlok
PROGRAM penyerapan gabah kering panen (GKP) oleh Bulog kembali dirasakan manfaatnya oleh petani padi di Desa Rias, Kabupaten Bangka Selatan. Sejak penyerapan kembali berjalan, harga gabah di tingkat petani dinilai lebih stabil. Bahkan tidak mengalami anjlok seperti yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, terutama saat memasuki panen raya.

Seorang petani padi Desa Rias, Surya (43), mengatakan keberadaan penyerapan gabah oleh Perusahaan Umum (Perum) Badan Urusan Logistik (Bulog) memberikan kepastian harga bagi petani. Sebelum ada program penyerapan tersebut, harga gabah kerap turun tajam ketika panen raya tiba.

"Alhamdulillah, sejak ada penyerapan dari Bulog, harga gabah tidak anjlok. Memang sebelum ada penyerapan Bulog pada tahun-tahun sebelumnya, harga gabah sering jatuh," kata Surya, Minggu (8/2).

Surya menjelaskan, perbedaan harga gabah antara tengkulak dan Bulog terlihat jelas ketika musim panen berlangsung. Menjelang panen raya, harga gabah yang ditawarkan tengkulak relatif sama dengan harga Bulog. Namun saat panen raya, harga di tingkat tengkulak justru turun.

Ia menyebut harga gabah kering panen yang biasa ditawarkan tengkulak berada di kisaran Rp6.000 per kilogram. Selain harga yang lebih rendah, sistem pembayaran dari tengkulak juga kerap mengalami keterlambatan. Sehingga menyulitkan petani dalam memutar modal untuk musim tanam berikutnya.

"Bukan cuma harganya lebih rendah, sistem pembayarannya juga sering telat. Akibatnya, modal tidak bisa langsung diputar untuk produksi padi musim tanam selanjutnya," ucap Surya.

Kondisi tersebut, lanjutnya, membuat petani kerap menghadapi kendala dalam pengolahan lahan, pembelian benih, hingga pemenuhan kebutuhan produksi lainnya. Dengan adanya penyerapan gabah oleh Bulog, situasi tersebut dinilai mulai berubah. Penyerapan gabah oleh Bulog dilakukan sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang telah ditetapkan pemerintah pusat, yakni sebesar Rp6.500 per kilogram untuk gabah kering panen. 

"Dengan adanya harga acuan yang jelas dari Bulog, kami sebagai petani jadi lebih tenang. Harga gabah tetap stabil meskipun panen raya," ujar Surya. (u1)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.