Laporan Jurnalis TribunAmbon.com, Novanda Halirat
AMBON, TRIBUNAMBON.COM- Wali Kota Ambon, Bodewin M. Wattimena, menghadiri pembukaan Persidangan ke-44 Jemaat GPM Silo yang berlangsung di Gereja Silo, Jalan AM Sangaji, Minggu (9/2/2026).
Persidangan mengusung tema “Anugerah Allah melengkapi dan meneguhkan gereja menuju satu abad GPM”. Pembukaan berlangsung khidmat dan diikuti ratusan jemaat usai ibadah Minggu.
Baca juga: Sidang Tipikor PT. Tanimbar Energi Rp. 6,2 Miliar Buka Fakta Tata Kelola BUMD yang Rapuh
Baca juga: Ekonomi Maluku Tumbuh 3,49 Persen di Akhir 2025, Ini Penyebabnya
Pembukaan sidang ditandai dengan pemindaian (scan) digital oleh Wali Kota Ambon bersama Klasis Kota Ambon, Ketua Majelis Jemaat, dan Ketua Panitia.
Dalam sambutannya, Bodewin Wattimena mengajak gereja menjadikan persidangan sebagai momentum penyelarasan program pelayanan jemaat dengan arah pembangunan Kota Ambon.
Ia menekankan sejumlah isu strategis yang perlu menjadi perhatian bersama.
Pertama, ketahanan pangan, dengan mendorong jemaat membangun kemandirian pangan melalui pemanfaatan lingkungan sekitar.
Kedua, lingkungan hidup, khususnya edukasi pengelolaan sampah dan pelestarian alam.
Ketiga, kamtibmas dan investasi, dengan menjaga keamanan untuk menarik investasi dan membuka lapangan kerja baru.
Keempat, evaluasi internal gereja, agar pengelolaan program dan keuangan jemaat berjalan transparan dan akuntabel.
“Kita gunakan momentum ini untuk menyelaraskan program prioritas Pemerintah Kota dengan jemaat. Tujuannya satu, memajukan warga Ambon di tengah berbagai tantangan pembangunan tahun ini,” ujar Wattimena.
Sementara itu, Ketua Majelis Jemaat (KMJ) GPM Silo, Pdt. D. Picauli, mengatakan terdapat 12 isu strategis yang akan dibahas dalam persidangan jemaat ke-44 ini. Isu-isu tersebut mencakup pengembangan pelayanan, penguatan kapasitas, kelembagaan, pembiayaan, serta dukungan terhadap program pemerintah.
Namun, fokus utama persidangan diarahkan pada rencana pengembangan pelayanan jemaat, yakni visi sentral GPM dan desentralisasi prakarsa yang dikaitkan dengan otonomi desa.
Menurutnya, pelayanan gereja juga tak terpisahkan dari isu-isu diagonal seperti lingkungan, sosial, politik, budaya, serta persoalan lain yang berkaitan dengan kehidupan bergereja. Seluruhnya akan menjadi perhatian bersama dalam persidangan ini.
Ia berharap Sidang Jemaat GPM Silo ke-44 dapat menjadi tonggak awal perjalanan pengembangan pelayanan dan program strategis jemaat ke depan.
“Sidang ke-44 ini menjadi awal perjalanan pengembangan pelayanan, program, dan kegiatan strategis jemaat,” pungkasnya. (*)