SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Sepuluh hari menjelang Ramadhan, harga sembako mulai mengalami kenaikan. Kondisi ini merupakan hal yang lazim terjadi setiap tahun, karena menjelang hari besar keagamaan masyarakat cenderung melakukan pembelian dan penyetokan sembako dalam jumlah besar.
Tingginya permintaan tersebut memicu berlakunya hukum pasar, sehingga harga pun ikut naik.
Selain itu, Ramadhan tahun ini juga bertepatan dengan perayaan Imlek, yang merupakan hari besar keagamaan masyarakat Tionghoa.
Momentum dua perayaan besar yang berlangsung bersamaan ini turut mendorong peningkatan permintaan sembako, sehingga harga semakin terkerek naik.
Kenaikan harga paling terasa terjadi pada komoditas cabai, baik cabai merah maupun cabai rawit, serta telur, bawang merah, dan bawang putih.
Sementara itu, harga beras, gula, dan tepung terigu juga mengalami kenaikan, namun tidak sedrastis kenaikan pada cabai, bawang, dan telur.
Selain saat ini juga bertepatan dengan bulan Ruwah atau kebiasaan masyarakat menggelar sedekah Ruwah atau berkirim doa ke kerabat yang telah meninggal dunia juga ikut mendorong harga naik.
"Harga modalnya naik jadi harga jualnya juga ikut naik, sudah naik sejak beberapa hari ini," kata Marni salah satu pedagang sayur di pasar Sako, Minggu (8/2/2026).
Dia mengatakan pasokan bawang juga cabai yang dia jual masih stabil dan banyak jumlahnya, tapi harganya saja yang naik.
Naik karena memang menjelang Ramadan polanya selalu seperti itu bakal naik.
Biasanya kenaikan harga cabai dan bawang ini akan naik sampai seminggu setelah Ramadan dan bakal naik lagi dua pekan menjelang lebaran.
"Tiap tahun selalu seperti itu, menjelang Ramadan nanti bakal naik lagi biasanya harganya, begitu juga saat akan lebaran," ujarnya.
Dia mengatakan minggu lalu harga cabai merah masih dibanderol Rp 25-30 ribu per kg tapi sekarang sudah naik menjadi Rp 30-35 ribu per kg.
Diprediksi menjelang hari H Ramadan nanti harga semua jenis sembako bakal naik lebih tinggi lagi.
Biasanya kenaikan paling tinggi berlaku untuk ayam, daging, cabai, bawang dan telur.
Stok Sembako Jauh Hari
Nila salah satu konsumen mengatakan kenaikan harga sembako ini membuatnya menyetok sembako lebih awal agar saat harga melambung, dia sudah punya stok aman.
"Sudah nyetok misalnya gula, sirup atau telur dan ayam juga bawang dan cabai, langsung masuk freezer biar awet karena tahan berbulan-bulan," ujarnya.
Sementara itu Pipit pemilik usaha kue basah mengatakan sudah menyetok bahan pembuatan kue untuk pesanan Ramadan hingga lebaran mendatang sejak sekarang.
Namun sembako yang distok hanya sembako yang tahan lama saja yakni gula, minyak goreng, tepung terigu, margarin.
Sementara telur dia tidak berani menyetok lama karena khawatir tidak segar lagi.
"Kalau telur cuma stok untuk dua minggu saja, kalau habis tambah baru sebab kalau lama telurnya dingin tidak bagus buat kue tidak mengembang," katanya.
Sementara itu berdasarkan data Dinas Perdagangan Palembang harga sembako do sejumlah pasar tradisional sejak dua pekan menjelang ramadan memang merangkak naik. Meski naik stok aman tercukupi
BI Minta Waspada Inflasi Naik Dampak Hari Besar Keagamaan
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumsel, Bambang Pramono menghimbau agar mewaspadai kenaikan harga sembako yang berujung naiknya angka inflasi di Sumsel karena dampak peningkatan konsumsi masyarakat pada periode Tahun Baru Imlek, dan Ramadan.
"Tekanan harga pangan dan hortikultura berpotensi muncul seiring curah hujan yang diprediksi masih tinggi hingga Februari," kata Bambang.
Disamping itu perlu penguatan koordinasi pasokan dan distribusi pangan utamanya pada komoditas strategis yang berpotensi mengalami peningkatan permintaan jelang Ramadan dan Idul Fitri seperti telur, daging ayam ras, aneka bawang dan aneka cabai agar ketersediaan tetap terjaga dan harga tetap terkendali.
Baca juga: Jelang Ramadan Harga Karet di OKI Naik Jadi Rp 13.000 Per Kilogram, Petani Harap Terus Naik
Baca juga: Insiden di Jalan Sempit dan Berliku, Sopir Ambulans Paruh Baya Dipukul Saat Antar Pasien Kritis
Daftar harga sembako di Palembang yang dicatat di sejumlah pasar tradisional oleh Dinas Perdagangan Palembang:
Beras
Medium: Rp 13.500/kg
Premium: Rp 15.000/kg
Gula Pasir
Curah: Rp 17.500/kg
Kemasan: Rp 18.000/kg
Minyak Goreng
Curah: Rp 19.000/liter
Kemasan: Rp 20.000/kg
Tepung Terigu
Rp 13.000/kg
Daging Sapi
Rp 140.000/kg
Daging Ayam Ras
Rp 33.000/kg
Telur Ayam Ras
Rp 29.000/kg
Bawang
Merah: Rp 40.000/kg
Putih: Rp 36.000/kg
Cabai
Cabai Merah Besar: Rp 35.000/kg
Cabai Merah Keriting: Rp 40.000/kg
Cabai Rawit Merah: Rp 70.000/kg
Cabai Rawit Burung: Rp 80.000/kg
Udang
Rp 80.000/kg
Ikan Kembung
Rp 35.000/kg
Mi Instan
Rp 3.000/bungkus
Tempe
Rp 20.000/kg
Tahu Mentah
Rp 15.000/kg
Pisang Ambon / Pisang Lokal
Rp 15.000/kg
Susu Balita
Dancow Vanila: Rp 45.000/dus (400–500 g)
SGM atau SGM Eksplor: Rp 41.000/dus (400 g)
Jeruk
Rp 20.000/kg
Kacang-kacangan
Kacang Merah: Rp 29.000/kg
Kacang Tanah: Rp 24.000/kg
Kacang Hijau: Rp 21.000/kg
Kacang Kedelai: Rp 16.000/kg.