TRIBUN-MEDAN.COM – Orang terkaya nomor 1 di dunia, Elon Musk, mengeluarkan peringatan keras mengenai kondisi fiskal Amerika Serikat.
Elon Musk menyebut bahwa Amerika Serikat saat ini berada pada laju pertumbuhan utang nasional AS yang terus meningkat.
Menurut Musk, salah satu indikator paling mengkhawatirkan dalam pemerintahan Presiden Donald Trump ini adalah besarnya biaya pembayaran bunga utang.
Dengan total utang nasional mencapai sekitar 38,5 triliun dolar AS, pemerintah harus mengeluarkan hampir 1 triliun dolar per tahun hanya untuk membayar bunga.
Artinya, jika dirupiahkan, 38,5 triliun dolar AS sama dengan Rp648.946 triliun.
Lalu, jika harus membayar bunganya 1 triliun dolar AS per tahun, berarti sekitar Rp16.856 triliun.
Hal itu disampaikan Musk dalam wawancara bersama podcaster Dwarkesh Patel yang juga menghadirkan Presiden Stripe, John Collison, yang dikutip Minggu (8/2/2026) dari Tribunnews.com.
Angka fantastis tersebut, kata Musk, kini telah melampaui anggaran pertahanan tahunan Amerika Serikat serta pengeluaran untuk sejumlah program sosial utama seperti Medicare.
Situasi ini dinilai berbahaya karena semakin besar porsi anggaran yang habis untuk bunga, semakin sempit ruang fiskal pemerintah untuk mendanai pembangunan dan layanan publik.
Baca juga: Iran Melunak di Tengah Ancaman Trump, Akhirnya Siap Bernegosiasi, Lokasi Ditentukan di Oman-Istanbul
Oleh karenanya Musk meyakini bahwa peningkatan produktivitas besar-besaran melalui otomatisasi, kecerdasan buatan, dan robotika dapat mendorong pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) secara signifikan.
“Tanpa AI dan robotika, kita benar-benar akan celaka karena utang nasional menumpuk dengan sangat cepat,” ujar Musk, mengutip dari Fortune.
Ia bahkan memperingatkan para pejabat Amerika Serikat, bahwa tanpa dampak transformasional dari teknologi, Amerika Serikat “1.000 persen akan bangkrut” dan berisiko mengalami kegagalan ekonomi sebagai negara.
Menurutnya, lonjakan produksi barang dan jasa berbiaya rendah akan memperluas basis ekonomi, meningkatkan pendapatan negara, dan membantu mengurangi rasio utang terhadap PDB.
Ia juga mengaitkan pernyataannya dengan perannya dalam mendorong efisiensi pengeluaran pemerintah.
Musk mengatakan pengurangan pemborosan dan penipuan anggaran diperlukan untuk memperlambat laju penumpukan utang, sehingga memberi waktu bagi teknologi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
“Kita hanya perlu cukup waktu untuk membangun AI dan robot agar tidak bangkrut sebelum itu terjadi,” katanya.
Baca juga: Ambisius Trump Menguasai Dunia Melalui Militer, Tahun 2027 Anggaran Pertahanan AS Rp25.000 Triliun
Menanggapi pernyataan Elon Musk, sejumlah ekonom menilai bahwa teknologi saja tidak dapat menjadi solusi tunggal bagi persoalan fiskal Amerika Serikat.
Mereka menekankan bahwa krisis utang pada dasarnya merupakan masalah kebijakan anggaran, yang berkaitan dengan defisit tahunan, struktur belanja pemerintah, serta sistem perpajakan.
Tanpa reformasi fiskal, seperti pengendalian pengeluaran, peningkatan penerimaan negara, dan pengelolaan utang yang lebih disiplin, pertumbuhan ekonomi berbasis teknologi dinilai tidak cukup untuk menstabilkan kondisi keuangan negara.
Di sisi lain, percepatan adopsi AI dan robotika juga membawa risiko ekonomi baru.
Otomatisasi dalam skala besar berpotensi menggeser tenaga kerja di berbagai sektor, yang dapat meningkatkan pengangguran struktural jika tidak diimbangi dengan program pelatihan ulang.
Selain itu, peningkatan produksi yang terlalu cepat berisiko menekan harga atau memicu deflasi, yang justru dapat memperberat nilai riil utang pemerintah.
Namun, ekonom menilai bahwa meskipun beban utang Amerika Serikat terus meningkat, negara tersebut masih memiliki sejumlah keunggulan struktural yang membuat risikonya berbeda dibandingkan negara lain.
Salah satu faktor utama adalah status dolar AS sebagai mata uang cadangan dunia.
Posisi ini membuat dolar digunakan secara luas dalam perdagangan internasional dan disimpan sebagai aset oleh bank sentral di berbagai negara.
Kondisi tersebut menjaga permintaan terhadap obligasi pemerintah AS tetap tinggi, sehingga pemerintah dapat meminjam dana dengan biaya bunga yang relatif lebih rendah dibandingkan banyak negara lain.
Selain itu, pemerintah AS memiliki kemampuan untuk menerbitkan utang dalam mata uangnya sendiri.
Artinya, risiko gagal bayar akibat kekurangan mata uang asing jauh lebih kecil.
Di sisi lain, peran Federal Reserve sebagai bank sentral juga menjadi faktor penopang stabilitas.
Melalui kebijakan moneter dan operasi pasar, The Fed dapat membantu menjaga likuiditas dan stabilitas pasar obligasi, terutama saat terjadi tekanan ekonomi atau gejolak keuangan.
Meski demikian, lembaga independen Komite untuk Anggaran Federal yang Bertanggung Jawab (Committee for a Responsible Federal Budget/CRFB) mengingatkan bahwa kondisi tersebut tidak berarti risiko fiskal dapat diabaikan.
CRFB menekankan bahwa tanpa langkah pengendalian defisit dan reformasi fiskal jangka panjang, tekanan terhadap keuangan negara akan terus meningkat.
(Tribun-medan.com)
Baca juga: Iran Melunak di Tengah Ancaman Trump, Akhirnya Siap Bernegosiasi, Lokasi Ditentukan di Oman-Istanbul
Baca juga: Ambisius Trump Menguasai Dunia Melalui Militer, Tahun 2027 Anggaran Pertahanan AS Rp25.000 Triliun