Oleh: Ahmad Syafiq Sidqi *)
Bencana yang melanda Sumatra dan Aceh baru-baru ini menyisakan luka mendalam bagi masyarakat.
Rumah-rumah terendam air, lahan pertanian rusak parah, dan aktivitas warga lumpuh total, dan jembatan jembatan banyak sekali yang putus total.
Jalan-jalan yang biasanya ramai kini berubah menjadi genangan luas, sementara sekolah dan fasilitas umum tidak dapat digunakan.
Kehidupan sehari-hari masyarakat terguncang, terutama bagi mereka yang menggantungkan hidup dari hasil bumi.
Setiap kabar yang datang dari tanah kelahiran terasa seperti pukulan emosional yang menimbulkan keresahan.
Jarak yang membentang membuat mereka tidak bisa hadir langsung untuk membantu keluarga.
Namun, rasa cemas tak pernah reda. Hati terus gelisah memikirkan kondisi orang tua, saudara dan tetangga yang sedang berjuang menghadapi bencana.
Keresahan anak rantau semakin besar ketika komunikasi tidak selalu lancar.
Sinyal yang terganggu atau listrik yang padam di kampung halaman membuat kabar sering terlambat.
Dalam situasi seperti ini, rasa tidak berdaya semakin terasa.
Mereka ingin pulang, namun pekerjaan, kuliah, jarak, dan keterbatasan transportasi membuat langkah itu sulit diwujudkan.
Akhirnya, doa menjadi penghubung utama antara hati anak rantau dengan kampung halaman.
Meski jauh, solidaritas tetap terjalin. Anak rantau berusaha menggalang donasi, mengirim bantuan, atau sekadar menyebarkan informasi.
Agar perhatian publik tertuju pada bencana di Sumatra khususnya di kabupaten Aceh Tengah.
Mereka sadar, kehadiran fisik mungkin tidak bisa diberikan, tetapi kepedulian tetap bisa diwujudkan dalam bentuk dukungan moral dan materi.
Banjir ini menjadi pengingat bahwa ikatan emosional dengan kampung halaman tidak pernah putus, meski jarak memisahkan.
Yogyakarta adalah salah satu provinsi yang tingkat solidaritas dan kepeduliannya sangat tinggi.
Banyak sekali komunitas, organisasi kampus, masyarakat sampai gubernur yang memberikan bantuan dan menggalang dana untuk masyarakat yang terdampak bencana di Sumatra- Aceh.
Banyak warung makan yang menyediakan makanan gratis untuk mahasiswa dengan alamat KTP Sumatra- Aceh.
Bencana banjir dan longsor di Sumatra- Aceh tidak hanya merusak fisik bangunan, tetapi juga mengguncang sendi-sendi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.
Rumah-rumah yang selama ini menjadi tempat berlindung kini terendam air, memaksa banyak keluarga mengungsi ke lokasi yang lebih aman dengan kondisi serba terbatas.
Kehilangan tempat tinggal bukan sekadar kehilangan atap, tetapi juga kehilangan rasa aman dan kenyamanan yang selama ini menjadi fondasi kehidupan sehari-hari.
Dampak bencana ini semakin berat bagi para petani.
Sawah dan kebun yang menjadi sumber penghidupan utama masyarakat Gayo terendam banjir, menyebabkan kerugian besar.
Tanaman kopi, yang selama ini menjadi komoditas unggulan Aceh Tengah, rusak dan terancam gagal panen.
Akibatnya, pendapatan masyarakat menurun drastis, sementara kebutuhan hidup tetap harus dipenuhi.
Selain kerugian ekonomi, banjir juga menimbulkan masalah sosial.
Anak-anak kehilangan ruang belajar karena sekolah terendam atau dijadikan tempat pengungsian.
Aktivitas masyarakat terhenti, pasar tradisional tidak beroperasi, dan akses jalan banyak yang terputus.
Kondisi ini menimbulkan rasa duka yang mendalam, terutama bagi mereka yang menggantungkan hidup pada hasil bumi dan aktivitas harian di kampung.
Lebih jauh, bencana ini juga menguji ketahanan mental masyarakat.
Hidup dalam ketidakpastian, dengan rumah rusak dan lahan pertanian hancur, membuat banyak warga merasa putus asa.
Namun, di tengah keterpurukan, semangat gotong royong tetap terlihat.
Warga saling membantu, berbagi makanan, dan menjaga satu sama lain di lokasi pengungsian.
Solidaritas ini menjadi kekuatan yang menjaga harapan tetap hidup, meski banjir telah merenggut banyak hal berharga dari kehidupan mereka.
Setiap kabar yang datang dari kampung halaman menjadi momen menegangkan.
Komunikasi yang terbatas, sinyal yang sering terputus, serta listrik yang padam membuat informasi tidak selalu sampai dengan cepat.
Anak rantau harus menunggu berjam-jam, bahkan berhari-hari, untuk mengetahui kondisi keluarga mereka.
Ketidakpastian ini menambah beban psikologis, karena mereka hanya bisa membayangkan situasi tanpa mampu melihat langsung.
Keresahan anak rantau bukan hanya soal rasa cemas terhadap keluarga, tetapi juga rasa bersalah karena tidak bisa hadir di saat-saat sulit.
Mereka merasa kehilangan kesempatan untuk berdiri di samping orang tua, membantu membersihkan rumah, atau sekadar memberikan pelukan penguat.
Semua itu hanya bisa digantikan dengan kata-kata lewat telepon atau pesan singkat.
Pada akhirnya, keresahan anak rantau adalah gambaran betapa kuatnya ikatan emosional dengan kampung halaman.
Jarak memang membatasi langkah, tetapi tidak pernah mampu memutuskan rasa cinta dan kepedulian.
Bencana banjir dan longsor di Sumatra- Aceh, menjadi ujian berat, bukan hanya bagi masyarakat yang terdampak langsung, tetapi juga bagi anak rantau yang harus menanggung beban emosional dari jauh.
Bencana banjir dan longsor di Sumatra-Aceh menyisakan duka yang mendalam, terutama bagi anak rantau yang hanya bisa merasakan keresahan dari kejauhan.
Namun, jarak bukanlah penghalang untuk peduli. Doa, dukungan, dan solidaritas tetap bisa menjadi jembatan yang menghubungkan hati dengan kampung halaman.
Bencana ini seharusnya menjadi refleksi bersama bahwa kebersamaan dan kepedulian adalah kekuatan yang mampu melampaui jarak, sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya kesiapan menghadapi bencana di masa depan. (*)
*) Penulis adalah Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Semester 6 Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam asal Kecamatan Jagong Jeget, Kabupaten Aceh Tengah.
Baca juga: Maestro Didong Ceh M Din dan Ceh Mahlil Angkat Bencana Hidrometeorologi dalam Syair Didong
Baca juga: Bencana Hidrometeorologi dalam Perspektif Agama: Bala, Ujian dan Teguran Ilahi