TRIBUNKALTENG.COM - Kementerian Agama Republik Indonesia telah menetapkan jadwal Sidang Isbat untuk menentukan awal bulan suci Ramadan 1447 H.
Sidang akan digelar pada Selasa, 17 Februari 2026. Sambil menunggu ketuk palu resmi dari pemerintah.
Baca juga: Ramadan 1447 H, Jadwal Sidang Isbat Puasa 2026 Lengkap Doa Awal Sambut Bulan Suci
Pemerintah menetapkan pengaturan pembelajaran bagi murid selama Bulan Ramadan 2026 dengan menitikberatkan pada penguatan nilai keagamaan, pembentukan karakter, serta pemenuhan hak belajar peserta didik secara berimbang.
Kesepakatan tersebut dihasilkan dalam Rapat Tingkat Menteri (RTM) yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno di Kantor Kemenko PMK, Kamis (5/2/2026).
Menko PMK Pratikno menegaskan bahwa pembelajaran selama Bulan Ramadan tidak hanya diarahkan pada aspek akademik, tetapi juga menjadi momentum strategis untuk memperkuat iman, takwa, akhlak mulia, serta karakter sosial anak-anak Indonesia.
"Ramadan adalah momentum pendidikan karakter. Karena itu, pembelajaran kita arahkan untuk memperkuat nilai keagamaan sesuai agama dan keyakinan murid, sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial dan kebiasaan positif," ujar Pratikno, dikutip dari kemenkopmk.go.id.
Skema Pembelajaran selama Bulan Ramadan 2026
Adapun hasil rapat menyepakati skema pembelajaran selama Bulan Ramadan 2026 sebagai berikut:
Pembelajaran di luar satuan pendidikan pada 18 hingga 20 Februari 2026;
Pembelajaran tatap muka pada 23 Februari hingga 16 Maret 2026;
Libur pasca-Ramadan pada 23 hingga 27 Maret 2026.
Menko PMK mendorong pemerintah daerah dan satuan pendidikan untuk menindaklanjuti kebijakan ini melalui pengaturan teknis yang adaptif dan kontekstual, tanpa mengurangi substansi kebijakan nasional yang telah ditetapkan.
Penguatan Materi Keagamaan
Dalam pengaturannya, pemerintah juga mendorong penguatan materi keagamaan yang disesuaikan dengan agama masing-masing peserta didik.
Bagi murid beragama Islam, kegiatan dapat berupa tadarus Al-Qur’an, pesantren kilat, kajian keislaman, serta aktivitas lain yang mendukung penguatan iman, takwa, dan akhlak mulia.
Sementara itu, murid beragama non-Islam difasilitasi melalui bimbingan rohani dan kegiatan keagamaan lainnya sesuai dengan keyakinan masing-masing.
Selain penguatan keagamaan, pembelajaran selama Ramadan juga diarahkan untuk memperkuat karakter peserta didik melalui berbagai kegiatan sosial dan edukatif.
Kegiatan tersebut antara lain berbagi takjil, penyaluran zakat dan santunan, serta kompetisi keagamaan seperti lomba adzan, Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), cerdas cermat keagamaan, dan berbagai kegiatan positif lainnya.
"Kita ingin anak-anak belajar empati, gotong royong, dan kepedulian sosial. Ramadan ramah anak harus diisi dengan aktivitas yang membangun karakter, termasuk gerakan 7 kebiasaan anak Indonesia hebat, gerakan satu jam tanpa gawai, dan kegiatan positif lainnya," tegas Pratikno.
Dengan pengaturan tersebut, pemerintah berharap pembelajaran selama Bulan Ramadan 2026 tidak hanya menjaga keberlanjutan proses pendidikan, tetapi juga berkontribusi nyata dalam membentuk generasi yang beriman, berkarakter kuat, dan peduli terhadap sesama.
Sidang Isbat
Sidang Isbat menjadi agenda penting bagi umat Muslim di Indonesia karena digunakan sebagai penentu resmi awal ibadah puasa Ramadhan.
Keputusan final dari sidang ini akan diumumkan kepada masyarakat setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai dilaksanakan.
Sidang akan dipimpin langsung oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar.
Kegiatan tersebut berlangsung di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kementerian Agama RI, Jakarta.
Tahapan Sidang Isbat Penentuan Ramadhan
Penetapan awal Ramadhan dilakukan melalui beberapa tahapan yang sudah menjadi standar pemerintah setiap tahun. Tahapan tersebut meliputi:
Pemaparan Data Hisab (Astronomi)
Tim ahli Kementerian Agama memaparkan posisi hilal berdasarkan perhitungan astronomi.
Data ini menjadi dasar ilmiah sebelum dilakukan pengamatan langsung.
Verifikasi Hasil Rukyatul Hilal
Pengamatan hilal dilakukan di 37 titik di seluruh Indonesia.
Lokasi pengamatan dipilih untuk memastikan laporan kemunculan hilal lebih akurat.
Musyawarah dan Pengambilan Keputusan
Seluruh peserta sidang berdiskusi untuk menentukan keputusan akhir.
Hasil sidang diumumkan melalui konferensi pers pemerintah.
Metode Penentuan Awal Ramadhan
Pendekatan ini menggabungkan perhitungan astronomi dan pengamatan langsung.
Selain itu, terdapat aturan baru berupa Peraturan Menteri Agama Nomor 1 Tahun 2026.
Regulasi ini memperkuat pelaksanaan Sidang Isbat agar lebih transparan dan memiliki kepastian hukum dalam penetapan awal bulan Hijriah.
Pihak yang Terlibat dalam Sidang
Sidang Isbat melibatkan berbagai unsur agar keputusan yang dihasilkan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan keagamaan. Beberapa peserta sidang meliputi:
Perwakilan organisasi masyarakat Islam
Majelis Ulama Indonesia (MUI)
Perwakilan duta besar negara-negara Islam
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)
Ahli falak atau astronomi
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)
Perwakilan Mahkamah Agung
Pelaksanaan sidang juga merujuk pada Fatwa MUI terkait penetapan awal bulan Hijriah.
Perbedaan Penetapan dengan Muhammadiyah
Meski pemerintah baru akan menentukan awal Ramadhan melalui Sidang Isbat pada 17 Februari 2026, Muhammadiyah telah lebih dahulu menetapkan jadwal puasa.
Organisasi tersebut menetapkan 1 Ramadhan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.
Penetapan tersebut didasarkan pada metode hisab hakiki yang secara konsisten digunakan oleh Muhammadiyah.
Masyarakat tetap dianjurkan menunggu pengumuman resmi pemerintah setelah Sidang Isbat berlangsung.
Pengumuman tersebut akan menjadi acuan resmi pelaksanaan awal puasa Ramadhan di Indonesia.
Ada baiknya kita mempersiapkan hati dengan amalan terbaik.
(Tribunkalteng/Tribunnews)