SURYA.CO.ID , SURABAYA - Di tengah tren menurunnya angka pernikahan serta berkembangnya stigma bahwa menikah cukup sah di KUA tanpa perayaan, Whulyan (Attire by Ayu Wulan) menghadirkan kampanye bertajuk “The Great Show of Everlasting, Wedding Experience”.
Kampanye ini menjadi upaya untuk menghidupkan kembali makna pernikahan di kalangan generasi muda, khususnya Gen Z.
Kampanye tersebut digelar melalui kolaborasi Whulyan bersama Mitra Flower & Decorations, Melodia, Visesa Wedding Organizer, serta didukung 37 vendor pernikahan lintas bidang, mulai dari busana pengantin, dekorasi, tata rias, hiburan, hingga dokumentasi.
Founder Whulyan Attire, Ayu Wulan, mengungkapkan kampanye ini lahir dari kegelisahannya melihat perubahan cara pandang Gen Z terhadap pernikahan yang kini cenderung minimalis dan dianggap sekadar formalitas.
“Banyak klien kami dari Gen Z yang berpikir pernikahan cukup sah saja, intimate wedding, menikah di KUA. Padahal pernikahan bukan hanya pesta satu hari atau makan-makan, tapi momen sakral yang patut dirayakan dengan sukacita,” ujar Ayu Wulan, Minggu (8/2/26).
Melalui Everlasting Wedding Experience, Whulyan menampilkan lebih dari 50 koleksi gaun pengantin dengan beragam tema, mulai dari konsep klasik, tradisional, hingga modern.
Koleksi tersebut dihadirkan untuk membantu pasangan mewujudkan wedding dream mereka.
Baca juga: Konsep Nikah Elegan dan Timeless Jadi Tema Wedding Showcase 2026 Sheraton Surabaya Hotel & Towers
Tak hanya pameran, acara ini juga dikemas dalam bentuk fashion show yang dipadukan dengan orkestra musik, menyesuaikan selera Gen Z.
Kampanye ini turut dipromosikan secara masif melalui media sosial.
“Karena Gen Z hidup di media sosial, kami juga harus masuk ke sana. Kampanye ini harus diviralkan agar mereka melihat bahwa menikah itu bukan sesuatu yang menakutkan,” tambahnya.
Di kesempatan yanga sama, Perwakilan Visesa Wedding Organizer, Lita, menilai pendekatan berbasis pengalaman menjadi kunci untuk menjangkau generasi muda.
“Gen Z suka sesuatu yang bisa dicoba langsung. Bukan sekadar datang, lihat, lalu pulang. Di sini mereka bisa memegang gaun, melihat dekorasi, mencoba makeup, bahkan belajar dari fashion show yang melibatkan 20 MUA,” jelasnya.
Konsep Everlasting juga mengajak pengunjung menelusuri dimensi waktu pernikahan, mulai dari adat Jawa klasik hingga konsep modern minimalis.
“Ada edukasi untuk Gen Z yang suka minimalis. Setelah melihat dekor siraman atau gaun adat, banyak yang akhirnya tertarik dengan konsep tradisional,” katanya.
Baca juga: The Wedding Showcase 2026 Di HARRIS Bundaran Satelit Wujudkan Impian Calon Pengantin
Sementara itu, Founder Mitra Flower & Decorations, Sumitro, mengungkapkan industri pernikahan dalam beberapa tahun terakhir mengalami penurunan signifikan.
“Penurunan paling parah terjadi di 2025. Tahun 2023 ada sekitar 1,5 juta pernikahan, 2024 turun menjadi 1,4 juta. Padahal pada 2013 masih mencapai 2,2 juta pernikahan,” ungkapnya.
Menurut Sumitro, perubahan gaya hidup Gen Z yang semakin minimalis turut berdampak pada industri dekorasi dan bunga.
“Sekarang yang penting foto bagus. Bunga artificial makin dominan, sementara bunga asli makin jarang dipakai. Padahal keindahan bunga asli itu berbeda,” ujarnya.
Melalui Everlasting Wedding Experience, pihaknya berharap dapat kembali mengedukasi Gen Z mengenai nilai estetika pernikahan yang lebih autentik.
Di sisi lain, Founder Malik Entertainment, Malik Atmadja, menilai Surabaya masih menjadi barometer industri pernikahan nasional.
“Jawa Timur, khususnya Surabaya, masih menjadi kiblat wedding bagi daerah lain. Mulai dari dekorasi, musik, hingga konsep acara banyak ditiru,” katanya.
Meski terjadi pergeseran budaya, Malik menegaskan industri pernikahan harus tetap adaptif tanpa kehilangan esensi.
“Pergeseran pasti ada, tapi harus diimbangi edukasi. Modernisasi dan teknologi seharusnya memperkuat nilai pernikahan, bukan menghilangkannya,” pungkasnya.