Jejak Sejarah Perang Ketupat Tempilang: Tradisi Tolak Bala dari Abad ke-19 di Bangka Barat
M Zulkodri February 09, 2026 12:34 AM

 

BANGKAPOS.COM--Pantai Pasir Kuning di Desa Air Lintang, Kecamatan Tempilang, Kabupaten Bangka Barat, Minggu (8/2/2026), kembali menjadi saksi hidupnya sebuah tradisi tua yang telah diwariskan lintas generasi.

Ribuan warga dan pengunjung memadati kawasan pesisir itu untuk menyaksikan dan terlibat langsung dalam Festival Perang Ketupat, ritual adat yang telah hidup sejak awal abad ke-19 dan masih dijaga hingga hari ini.

Di bawah cuaca cerah, dengan hembusan angin laut yang sejuk dan ombak yang tenang, masyarakat Tempilang merayakan puncak tradisi bulan Ruwah atau Sya’ban, sebuah fase penting menjelang datangnya bulan suci Ramadan.

Tradisi Perang Ketupat bukan sekadar perayaan rakyat, melainkan ritual spiritual, sosial, dan budaya yang mengandung nilai sejarah panjang masyarakat Bangka Barat.

Acara ini turut dihadiri sejumlah pejabat daerah dan unsur Forkopimda, di antaranya Bupati Bangka Barat Markus, Wakil Bupati Yus Derahman, Wakapolda Bangka Belitung Brigjen Pol Murry Mirranda, Kapolres Bangka Barat AKBP Pradana Aditya Nugraha, Dandim 0431 Bangka Barat Letkol CZI Fadil, Kepala Kejaksaan Negeri Bangka Barat Ahmad Patoni, Sekda Bangka Barat M Soleh, serta para kepala OPD dan tokoh adat.

Asal Muasal Tradisi Perang Ketupat

Secara historis, Perang Ketupat pertama kali dilaksanakan pada era 1800-an, tepatnya di kawasan Benteng Kota Tempilang.

Pada masa itu, masyarakat Tempilang masih hidup berdampingan dengan alam secara kuat dan mempercayai adanya keseimbangan antara manusia, lingkungan, dan kekuatan spiritual.

Tradisi ini lahir sebagai ritual pembersihan kampung (bersih kampung) dan tolak bala.

Leluhur masyarakat Tempilang meyakini bahwa menjelang bulan Ramadan, kampung harus disucikan dari segala bentuk energi negatif, penyakit, perselisihan, dan marabahaya agar masyarakat dapat menjalani ibadah dengan tenang dan berkecukupan.

Ketupat dipilih sebagai simbol utama bukan tanpa alasan. Selain menjadi makanan khas yang akrab dengan kehidupan masyarakat Melayu, ketupat juga menyimpan filosofi mendalam tentang kehidupan, kebersamaan, dan nilai moral.

TUGU PERANG KETUPAT--Wakil Bupati Bangka Barat, Yus Derahman, bersama Forkopimda melakukan peresmian pembangunan tugu Perang Ketupat di Pantai Pasir Kuning, Kecamatan Tempilang, pada Minggu (14/12/2025).
TUGU PERANG KETUPAT--Wakil Bupati Bangka Barat, Yus Derahman, bersama Forkopimda melakukan peresmian pembangunan tugu Perang Ketupat di Pantai Pasir Kuning, Kecamatan Tempilang, pada Minggu (14/12/2025). (Istimewa/Pemkab Babar)

Makna Filosofis Ketupat

Penerus Adat Perang Ketupat Tempilang, Keman, menjelaskan bahwa ketupat dalam tradisi ini bukan sekadar lemparan simbolik, melainkan sarat nilai pendidikan karakter.

Menurutnya, setiap huruf dalam kata “ketupat” mengandung makna:

K melambangkan Kehidupan
E berarti Etika
T adalah Tradisi
U mencerminkan Unsur kebersamaan
P berarti Perilaku
A adalah Agamis
T kembali menegaskan nilai Tradisi

Nilai-nilai ini diwariskan kepada generasi muda agar tetap beradab, beretika, religius, serta menghargai tradisi leluhur.

“Makna perang ketupat mengingat sejarah leluhur dan nilai kehidupan. Ini harus ditanamkan ke anak cucu agar mereka punya adab, etika, dan jati diri,” ujar Keman.

Rangkaian Ritual Adat Sebelum Perang Ketupat

Perang Ketupat bukanlah acara tunggal, melainkan puncak dari rangkaian ritual adat yang telah disusun secara turun-temurun.

Sebelum ketupat beterbangan di arena, masyarakat disuguhi berbagai pertunjukan adat yang sarat makna.

Acara diawali dengan tradisi Penimbongan, sebuah ritual adat yang dilakukan oleh tim adat Tempilang.

Dalam ritual ini, dua orang ngambin batu taber memutari penimbong, lalu menuju pemangku adat sebelum menabur (naber) simbol keselamatan kepada para tamu.

Selanjutnya ditampilkan Tari Serimbang oleh Sanggar Lima’e Purot, tarian khas Tempilang yang menggambarkan harmoni manusia dengan alam.

Disusul Tari Kedidi, tarian yang juga telah diakui sebagai warisan budaya, menggambarkan kelincahan burung kedidi yang hidup di pesisir.

Rangkaian ritual semakin sakral dengan Seramo Adat, yakni pertarungan dua pendekar pencak silat dari perguruan Mawar Putih.

Pertunjukan ini bukan untuk melukai, melainkan simbol kesiapsiagaan, keberanian, dan ketangguhan masyarakat dalam menjaga kampung.

Sebelum perang dimulai, tim adat memanjatkan doa arwah dan doa selamat, memohon perlindungan Tuhan serta mendoakan para leluhur yang telah mewariskan tradisi ini.

Perang Ketupat: Riuh, Sakral, dan Penuh Kebersamaan

Puncak acara pun tiba. Puluhan pria berpakaian hitam berkumpul di tengah lapangan.

Di hadapan mereka, tumpukan ketupat telah disiapkan. Begitu aba-aba diberikan, ketupat langsung diperebutkan dan dilemparkan satu sama lain.

Suasana mendadak riuh. Sorak sorai penonton bercampur tawa para peserta. Ketupat beterbangan di udara, menghantam tubuh, lengan, hingga punggung peserta.

Meski terlihat seperti “perang”, tak ada amarah di sana yang ada hanya kebersamaan dan kegembiraan.

Perang ketupat kemudian diikuti para tamu kehormatan, pejabat daerah, hingga masyarakat umum.

Mereka ikut berbaur tanpa sekat, menegaskan bahwa tradisi ini adalah milik semua, tanpa memandang jabatan dan status sosial.

Dari Ritual Leluhur Menjadi Agenda Wisata

Bupati Bangka Barat Markus menegaskan bahwa Perang Ketupat kini telah berkembang menjadi agenda budaya dan wisata unggulan daerah, tanpa meninggalkan nilai sakralnya.

“Ini mengandung makna mendalam sebagai simbol rasa syukur, tolak bala, serta ajang mempererat tali silaturahmi antarwarga,” kata Markus.

Ia juga menyebutkan bahwa Perang Ketupat telah diakui secara nasional sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBI) sejak 2014, bersama Tari Kedidi, Adat Taber Kampung (2015), dan Tari Serimbang (2019).

Pengakuan tersebut menjadi bukti bahwa tradisi lokal Tempilang memiliki nilai penting bagi kebudayaan nasional.

Menjaga Warisan, Menatap Masa Depan

Hingga kini, Perang Ketupat tetap menjadi agenda tahunan yang dinanti masyarakat Tempilang dan Bangka Barat.

Lebih dari sekadar tontonan, tradisi ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan antara adat, agama, dan kehidupan modern.

Para tokoh adat berharap generasi muda tidak hanya menyaksikan, tetapi juga memahami dan melestarikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Penambahan kesenian tradisional dan keterlibatan anak muda diharapkan dapat membuat tradisi ini terus hidup, relevan, dan tidak hilang ditelan zaman.

Di tengah arus modernisasi, Perang Ketupat Tempilang berdiri sebagai bukti bahwa warisan leluhur dapat terus bertahan, selama dijaga dengan cinta, pemahaman, dan kebersamaan.

(Bangkapos.com/Riki Pratama/Zulkodri)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.