Mulai dari nilai transaksi QRIS di Kota Bitung yang menembus Rp 271 miliar sepanjang 2025, pemasangan lampion di Kantor Walikota Manado menyambut Imlek 2577 Kongzili sebagai simbol toleransi, hingga IAIN Manado yang segera berubah status menjadi UIN, dengan harapan menjadi pusat moderasi beragama di Asia Tenggara.
Simak selengkapnya.
Pemanfaatan pembayaran digital melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) terus meningkat di Kota Bitung.
Sepanjang 2025, tercatat 2,39 juta transaksi dengan nilai Rp 272,95 miliar, naik signifikan dibanding 2024 yang mencatat 1,24 juta transaksi senilai Rp 145,15 miliar.
Peningkatan ini menunjukkan makin luasnya penerimaan masyarakat dan pelaku usaha terhadap pembayaran non-tunai.
Tren positif terlihat pada kegiatan daerah berskala besar yang disinergikan dengan perluasan penggunaan QRIS.
Hal tersebut terungkap saat evaluasi kinerja digitalisasi pajak dan retribusi daerah melalui High Level Meeting (HLM) Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) Bitung di Manado Tateli Resort, Sabtu (7/2/2026).
Baca selengkapnya
Ornamen Imlek mulai menghiasi Kota Manado, Sulawesi Utara, menyambut Hari Raya Imlek yang jatuh pada 17 Februari 2026.
Warga akan meninggalkan Tahun Ular dan memasuki Tahun Kuda Api.
Salah satu lokasi hiasan Imlek terlihat di kantor Walikota Manado.
Lampion terpasang susun tiga pada tiap titik dengan jarak antar titik sekitar tiga meter.
Warga yang menanti bus Trans Manado tampak menikmati pemandangan, bahkan mengabadikan foto dengan latar lampion.
Baca selengkapnya
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado kini berada di tahap akhir menuju perubahan status menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Manado.
Rektor IAIN Manado, Prof. Dr. Ahmad Rajafi, M.HI, menyampaikan hal ini dalam wawancara di Podcast Tribun Manado, Sabtu (7/2/2026), di Kantor Tribun Manado, Jalan AA Maramis, Kairagi Dua, Mapanget.
“Seluruh berkas administrasi sudah rampung. Harapan saya cuma satu, di tahun 2026 ini mudah-mudahan UIN Manado sah,” ujar Prof Rajafi.
Prof Rajafi menegaskan, perubahan status ini bukan sekadar nama, tetapi juga penguatan substansi moderasi beragama.
IAIN Manado selama ini terbuka bagi mahasiswa non-Muslim.
“Mereka tidak dipaksa memahami keislaman secara teologis, tapi memahami model pendidikan Islam,” terang dia.
Baca selengkapnya