TRIBUNPAPUABARAT.COM, MANOKWARI - Intelektual Kerukunan Keluarga Besar Pegunungan Tengah (K2BPT) Papua Barat, Aloysius Paulus Siep, menegaskan tidak ada kerukunan lain selain K2BPT yang mewadahi masyarakat Pegunungan Tengah di Provinsi Papua Barat.
Penegasan itu disampaikan Aloysius saat acara pelantikan pengurus K2BPT Papua Barat di Balai Pengembangan Mutu Pendidikan (BPMP) Insyufuri, Kabupaten Manokwari, Papua Barat, Sabtu (7/2/2025).
Meskipun terjadi pemekaran wilayah dan pembagian provinsi, ucapnya, masyarakat Pegunungan Tengah tetap satu dan tidak terpecah.
“Provinsi boleh terbagi, tapi kami orang gunung tetap satu. Tidak ada kerukunan lain di Papua Barat selain K2BPT,” kata Aloysius Paulus Siep.
Kerukunan Meepago dan Lapago, ucapnya, tetap berada di bawah payung besar K2BPT Papua Barat dan tidak berdiri sebagai kerukunan terpisah.
Baca juga: Dominggus Mandacan Lantik Pengurus K2BPT Papua Barat yang Diketuai Abner Itlay
Aloysius menjelaskan K2BPT terbentuk dari Ikatan Mahasiswa Pegunungan Tengah (IMPT) dari 16 Kabupaten yang masih eksis sampai kini.
Kabupaten-kabupaten itu meliputi Jayawijaya, Tolikara, Lanny Jaya, Puncak Jaya, Puncak Papua, Paniai, Deiyai, Nabire, Yalimo, Yahukimo, Pegunungan Bintang, Intan Jaya, Mamberamo Tengah, Mimika, Dogiyai, dan Nduga.
Ia mengakui, proses pembentukan K2BPT Papua Barat tidak mudah karena harus menyatukan persepsi dari berbagai latar belakang daerah.
“Pembentukan ini sangat sulit karena harus menyatukan persepsi dari 16 kabupaten,” katanya.
Menurutnya, selama ini berbagai persoalan sosial yang terjadi di Manokwari maupun daerah lain kerap dilekatkan pada masyarakat Pegunungan Tengah.
“Kalau ada masalah, pasti disebut orang gunung atau orang Wamena,” ujarnya.
Karena itu para intelektual, orang tua, mahasiswa, dan pelajar sepakat membentuk wadah bersama agar masyarakat Pegunungan Tengah terorganisasi dengan baik, termasuk mengetahui jumlah dan sebaran warganya di Papua Barat.
“Mulai dari pelajar, mahasiswa, sampai masyarakat, kami ingin tahu jumlah dan keberadaan mereka,” kata Aloysius Paulus Siep.
Ia menegaskan, keberadaan K2BPT bukan ancaman, melainkan wadah pemersatu bagi masyarakat Pegunungan Tengah untuk menuntut ilmu, bekerja, dan mengabdi di Tanah Papua.
Baca juga: Tradisi Barapen Sambut Pelantikan Pengurus K2BPT Papua Barat di Manokwari
“Kami datang ke Papua Barat untuk mencari ilmu, bekerja, dan mengabdi bagi Papua yang kami cintai,” katanya.
Aloysius kembali menegaskan bahwa tidak ada sekat Lapago maupun Meepago. “Anak koteka tetap satu dalam wadah K2BPT Papua Barat,” katanya.
Ia menambahkan, semangat persatuan masyarakat Pegunungan Tengah telah lama terbangun melalui Ikatan Mahasiswa Pegunungan Tengah (IMPT).
Dari organisasi inilah kemudian lahir K2BPT sebagai wadah pemersatu yang lebih luas.
“Kerukunan ini terbentuk dari IMPT. Karena itu, jangan lagi ada kerukunan lain yang bisa memecah persatuan,” ujarnya.
Aloysius menyebutkan, masyarakat Pegunungan Tengah hadir di Papua Barat sejak 1970-an, mulai dari orang tua hingga mahasiswa dan pekerja saat ini.
“Kami anak koteka dari Pegunungan Bintang sampai Timika tetap satu. Koteka dan sari-sari adalah identitas orang gunung yang tidak bisa digantikan,” kata Aloysius Paulus Siep.
Ia menyebut K2BPT Papua Barat adalah wadah pemersatu yang lahir dari kesepakatan bersama seluruh masyarakat Pegunungan Tengah, menggantikan wadah-wadah sebelumnya seperti Rukun Keluarga Jayawijaya yang ada sebelum pemekaran daerah.