TRIBUNMANADO.CO.ID - Suasana menyambut Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili mulai terasa di Kota Manado, Sulawesi Utara (Sulut).
Berbagai ornamen Imlek menghiasi ruang publik, sementara umat Khonghucu juga menjalani rangkaian tradisi keagamaan sebagai persiapan menyambut hari raya yang jatuh pada 17 Februari 2026.
Suasana Imlek terlihat di kawasan Kantor Wali Kota Manado.
Ornamen lampion terpasang di pagar depan kantor tersebut.
Amatan Tribun Manado, Senin (9/2/2026), lampion dipasang susun tiga pada tiap titik dengan jarak antar titik sekira tiga meter.
Hiasan bernuansa merah itu menambah semarak suasana di pusat kota.
Sejumlah warga yang tengah menunggu bus Trans Manado di depan kantor Wali Kota tampak menikmati pemandangan tersebut.
Beberapa di antaranya memanfaatkan lampion sebagai latar berfoto.
Kantor Wali Kota Manado sendiri berjarak sekira tiga kilometer dari Kantor Gubernur Sulut dan sekitar delapan kilometer dari Bandar Udara Sam Ratulangi.
Suasana Imlek di kawasan tersebut juga selaras dengan hiasan yang terpasang di Lapangan Sparta Tikala Manado, tepat di ujung lapangan yang berhadapan dengan kantor Wali Kota.
Ani, salah satu warga, menilai pemasangan hiasan Imlek membuat suasana kota semakin indah.
“Ini menarik, jadi banyak spot foto,” katanya.
Menurutnya, suasana tersebut juga sejalan dengan meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara, khususnya dari China dan Korea Selatan, ke Manado.
Manado sendiri dikenal sebagai laboratorium kerukunan, yang tercermin dari pemasangan hiasan keagamaan pada hari-hari besar di ruang publik sebagai simbol toleransi antarumat beragama.
Di sisi lain, umat Khonghucu di Manado juga mulai menjalani rangkaian tradisi menyambut Imlek 2577 Kongzili.
Salah satunya melalui prosesi cuci arca di Klenteng Kong Zi Miao, Jalan DI Panjaitan, Kelurahan Calaca, Kecamatan Wenang, Sabtu (7/2/2026).
Dalam prosesi tersebut, umat mencuci puluhan arca dewa-dewi serta simbol keagamaan lainnya.
Arca yang sebelumnya berada di altar dipindahkan ke meja khusus di pelataran depan klenteng untuk dibersihkan menggunakan air dan sabun, kemudian dilap sebelum kembali ditata di altar.
Petugas yang mencuci arca mengenakan pakaian serba putih dengan logo Klenteng Kong Zi Miao.
Mereka juga menjalani pantangan, yakni berpuasa dari makanan berbahan daging dan yang bernyawa sehari sebelum prosesi dilakukan.
Ketua Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin) Sulawesi Utara, Ws Pon Riano Baggy, mengatakan tradisi cuci arca merupakan bagian dari persiapan menyambut Imlek.
“Kita bersih-bersih area klenteng dalam rangka menyambut Imlek. Ya namanya kita mau hari raya, sedangkan rumah dibersihkan, apalagi tempat ibadah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tradisi tersebut juga memiliki makna filosofis bagi umat Khonghucu, yakni sebagai momentum refleksi diri.
“Kita bersihkan hati, menjaga tindak, laku dan ujar,” kata Pon Riano.
Menurutnya, penggunaan pakaian putih melambangkan kesucian dan kesiapan umat dalam membersihkan diri secara lahir dan batin. Pantangan makan juga menjadi bagian dari upaya pengendalian diri.
Rangkaian perayaan Imlek di Manado telah dimulai sejak pekan ini dan akan mencapai puncaknya pada perayaan Sembahyang Shang Guan atau Cap Go Meh yang dilaksanakan dua minggu setelah Imlek. (Yes/Art)
Sumber: