Cerita Tong Fang: Rumah Kopi Tertua di Manado, Lebih Setengah Abad Setia Melayani Warga
Gryfid Talumedun February 09, 2026 03:22 PM

 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Rumah kopi tumbuh subur bak jamur di musim hujan di kota Manado. 

Meski demikian, pesona rumah kopi Cahaya Timur, tak pudar. 

Berlokasi di New Bendar 45, rumah Kopi Cahaya Timur konon adalah rumah kopi pertama di Manado. 

Namanya dulu adalah Tong Fang.

Baca juga: Suasana Jelang Imlek 2577 Kongzili di Manado, Lampion Hiasi Kota hingga Prosesi Cuci Arca

Wartawan Tribun manado, Arthur Rompis sambangi rumah kopi tersebut pada Senin (9/2/2026).

Kawasan Bendar berjarak sekira 3 kilometer dari kantor Walikota Manado. 

Rumah kopi itu terhitung kecil, hanya berukuran lima kali enam meter.

Nuansanya benar-benar kuno. 

Kayu bagian luarnya lapuk. 

WARKOP - Rumah kopi tumbuh subur bak jamur di musim hujan di kota Manado. Berlokasi di New Bendar 45, rumah Kopi Cahaya Timur konon adalah rumah kopi pertama di Manado.
WARKOP - Rumah kopi tumbuh subur bak jamur di musim hujan di kota Manado. Berlokasi di New Bendar 45, rumah Kopi Cahaya Timur konon adalah rumah kopi pertama di Manado. (Tribun Manado/Arthur_Rompis)

Dinding sudah menghitam akibat terpaan asap dari bara. 

Pada pintu terpasang poster caleg dari beberapa edisi pilcaleg. 

Pada salah satu pojok bertumpuk karung berbagai berisi kopi.

Suasana kala itu lagi ramai. Pengunjung memenuhi bagian dalam dan luar rumah kopi. 

Pembicaraan berlangsung hangat antar pengunjung yang umumnya berusia lanjut, dari kesehatan hingga politik. 

Cakap - cakap diselingi santap kopi dan nasi jaha. 

Kopi dibuat sendiri oleh Ko Chen, pemilik rumah kopi. 

Pria yang sudah berusia 67 tahun itu tampak ramah. 

Ia tak hanya jadi Barista. 

Tapi juga waiter yang akrab dengan pengunjung. 

Dirinya menyapa, mengajak ngobrol.

Saking akrabnya, siapapun yang datang ke sana pertama kali akan merasa sudah biasa datang ke sana. 

Kopi di sana sangat berkarakter. 

Rasa pahitnya benar - benar terasa - pahit yang romantis, seperti pahit dalam hidup yang merupakan sebuah warna. 

Rasa kopi yang khas adalah kekuatan rumah kopi ini.

Itu yang membuat rumah kopi itu masih laku. Keadaan kuno rumah kopi itu justru jadi daya tarik.

Denny bercerita, rumah kopi itu dulunya berada di arah lima - istilah kuno untuk pasar 45 Manado.

Kemudian pindah ke Shopping Centre pada tahun 1973 atau dua tahun setelah tempat itu berdiri.

Itulah masa kejayaan rumah kopi itu.

"Dulu rumah kopi hanya ini, kemudian berdiri di Tikala dan Kampung Cina," katanya.

Ia ingat, rumah kopi ini dulunya buka pukul dua pagi. Langsung diserbu warga begitu dibuka. "Ini dulunya sangat ramai," katanya.

Ia membeber, nama Tong Fang berubah jadi Cahaya Timur menyusul kebijakan pemerintah orde baru untuk mengganti nama berbau Cina dengan Indonesia.

Sebut dia, Tong Fang dalam bahasa Mandarin berarti Cahaya Timur.

"Jadi dinamakan Cahaya Timur," kata dia.

Di awal tahun 2000 an, bersamaan dengan pesatnya perkembangan Manado, rumah kopi itu mulai tersisih. Rumah kopi menjamur di kota Manado. 

Ia ingat, rumah kopi ini dulunya buka pukul dua pagi. Langsung diserbu warga begitu dibuka.

"Ini dulunya sangat ramai," katanya.

Ia membeber, nama Tong Fang berubah jadi Cahaya Timur menyusul kebijakan pemerintah orde baru untuk mengganti nama berbau Cina dengan Indonesia.

Sebut dia, Tong Fang dalam bahasa Mandarin berarti Cahaya Timur.

"Jadi dinamakan Cahaya Timur," kata dia.

Di awal tahun 2000 an, bersamaan dengan pesatnya perkembangan Manado, rumah kopi itu mulai tersisih. Rumah kopi menjamur di kota Manado. 

Meski demikian rumah kopi ini punya banyak pelanggan fanatik. 

"Ada dari ASN, buruh, pensiunan, polisi bahkan pejabat sering kemari," kata dia

Ia mengatakan, masih mempertahankan cara membuat kopi seperti yang diajarkan Kong (Opa)nya.

Kopi harus disangrai dan cara memasaknya pakai bara.

Itu pula yang membuatnya enggan pindah ke tempat lain.

"Kalau pindah ke tempat lain, apalagi di mall kan tidak boleh pakai bara. Padahal itu kekuatan utama kopi ini," kata dia.

Selain kopi susu dan kopi hitam, menu lainnya adalah roti dan aneka kue. Dulu roti ia produksi sendiri.

"Sekarang tidak lagi, saya tak punya alat," kata dia.

Covid 19 membuat usahanya beroleh kesulitan.

Tapi ia pantang menyerah. Untuk bertahan, ia tak mempekerjakan orang.

Semua dikerjakan sendiri, dari buat kopi, melayani tamu hingga kasir.

Sampai kapan bertahan?. 

Ia sendiri belum tahu. Selain bertahan hidup, alasannya terus membuka rumah kopi itu adalah karena warisan leluhur.

"Yang pasti terus saya buka, karena masih banyak yang cinta rumah kopi ini," katanya. (art)

-

WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.