TRIBUNJAKARTA.COM - Pihak kepolisian Polres Metro Bekasi Kota memutuskan tidak melanjutkan proses hukum terhadap pedagang es kelapa bernama Barmizon (60).
Barmizon sempat mengacungkan senjata tajam diduga berjenis golok kepada sejumlah petugas dan Wali Kota Bekasi Tri Adhianto saat penertiban pedagang kaki lima (PKL) di Perumahan Duta Harapan, Kecamatan Bekasi Utara, Minggu (8/2/2026).
Barmizon sempat dibawa ke Polsek Bekasi Utara untuk dimintai keterangan.
Namun, kemudian dipulangkan dengan sejumlah pertimbangan.
“Dengan pertimbangan yang bijak dan karena faktor usia serta sudah menyadari kesalahpahamannya, yang bersangkutan dipulangkan setelah menulis surat pernyataan dan membuat video permintaan maaf tidak akan mengulangi perbuatannya,” ujar Kasie Humas Polres Metro Bekasi Kota, AKP Suparyono, saat dikonfirmasi Kompas.com, Senin (9/2/2026).
Setelah insiden terjadi, petugas langsung menangkap Barmizon untuk menghindari hal yang lebih berbahaya.
Baik Wali Kota Bekasi maupun petugas di lapangan tidak memperpanjang persoalan hingga berujung laporan kepolisian.
“Sekarang sudah enggak ada masalah. Karena pertimbangan yang sangat bijak dari pimpinan, fokus dialihkan pada kegiatan Gerakan Indonesia Bersih-bersih,” tambah Suparyono.
Setelah videonya viral, Barmizon kini membuat pengakuan dan klarifikasi.
Dalam video klarifikasi yang beredar, Barmizon menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada Kapolres, Wali Kota, Dandim, serta jajaran petugas yang berada di lokasi saat kejadian.
“Saya Barmizon, mohon maaf pada Bapak Kapolres, Bapak Wali Kota, Bapak Dandim, dan jajarannya," ujar dia.
"Dari kejadian tadi pagi di warung es kelapa saya, atas kesalahpahaman dan emosi saya saat penertiban spanduk di warung saya."
"Mohon dimaafkan dan saya tidak akan mengulangi lagi,” ujar Barmizon.
Peristiwa terjadi saat petugas menertibkan PKL di kawasan Perumahan Duta Harapan.
Berdasarkan rekaman video yang beredar di akun Instagram @infobekasiutara, suasana sempat memanas ketika Barmizon menolak lapaknya dipindahkan.
Emosi Barmizon tersulut karena merasa lapaknya berdiri di atas lahan yang telah dibelinya.
Dalam kondisi emosi, ia kemudian mengeluarkan golok dari dalam lapaknya dan mengacungkannya ke arah rombongan petugas serta Wali Kota Bekasi Tri Adhianto.
Sejumlah petugas terlihat mundur beberapa langkah, sementara warga sekitar merekam kejadian tersebut menggunakan ponsel.
Situasi akhirnya berhasil dikendalikan setelah petugas melakukan pendekatan persuasif dan negosiasi. Barmizon pun bersedia meletakkan golok tanpa melukai siapapun.
Merespons insiden tersebut, Wali Kota Bekasi Tri Adhianto menegaskan bahwa aparat pemerintah harus tetap tenang saat menghadapi warga.
"Dalam menghadapi situasional itu kan harus dengan tenang. Kita sebagai aparatur bukan represif, karena itu warga kita, saudara kita," ujar Tri saat ditemui Kompas.com di Plaza Pemerintah Kota Bekasi, Senin (9/2/2026) seperti dikutip dari Kompas.com.
Tri juga menekankan pentingnya pendekatan persuasif dan penyadaran kepada masyarakat.
"Yang perlu adalah kita elus, kita sadarkan bahwa ada satu proses yang memang tidak baik. Saya melihat memang ada degradasi moral hari ini. Masyarakat mudah tersulut emosi, mudah mengeluarkan kata-kata kotor. Justru saya mengingatkan aparatur untuk tidak terpancing,” katanya.
Ia menambahkan bahwa program pemerintah tak akan berhasil tanpa partisipasi warga.
"Program pemerintah tidak akan pernah berhasil kalau masyarakat tidak ikut serta. Termasuk yang hari ini kami fokuskan, seperti penanganan sampah. Ini juga menjadi catatan dari Bapak Presiden," ujar Tri.