Eks Kapolres Cimahi Berikan Bantuan ke Kakak Beradik yang Viral Kelaparan Cari Botol Bekas
Hilda Rubiah February 09, 2026 08:11 PM

TRIBUNJABAR.ID - Mantan Kapolres Cimahi, Kombes Tri Suhartanto ikut turun tangan menemui kakak beradik yang kelaparan saat mencari botol bekas hingga viral di media sosial.

Sebelumnya, video kisah pilu kakak beradik bernama Yadi (13) dan Siska (7) ini viral dibagikan akun Instagram polisi Polres Cimahi, Bripka Rizky Hikmat.

Dalam video tersebut, sang polisi itu tak sengaja melihat potret memprihatinkan dua anak yang masih beli hendak mencari botol bekas.

Keduanya berdiri di pinggir jalan sembari membawa karung. Pakaian yang dikenakan mereka pun tampak lusuh.

Bripka Rizky Hikmat tampak khawatir karena kondisi kedua anak pencari botol bekas itu kehujanan.

Saat ditanya, ternyata Bripka Rizky mendapati kondisi kondisi dua bocah tersebut yang kelaparan belum makan.

Baca juga: Kisah Pilu Kakak Beradik di Bandung Barat Cari Botol Bekas Kehujanan dan Kelaparan Ditolong Polisi

Sontak Bripka Rizky Hikmat pun bergegas mengajak kakak beradik itu makan di warung pingir jalan.
 
Saat berbincang, sang polisi itu pun mendapati kisah pilu bahwa Yadi putus sekolah dan adiknya Siska belum mengenyam pendidikan sama sekali.

Ternyata kisah pilu Yadi dan Siska ini sampai ke telinga mantan Kapolres Cimahi Kombes Tri Suhartanto hingga langsung turun tangan.

Melalui akun Instagram pribadinya, Perwira Polisi yang kini menjabat sebagai Wakapolres Metro Jakarta Barat itu membagikan video momen menemui Yadi dan Siska di kontrakannya.

Keduanya tinggal bersama orang tuanya yang mengontrak di dalam gang sempit di daerah Cimahi pojok.

Ternyata di dalam kontrakan itu ditinggali sekeluarga.

Kombes Tri kemudian menyinggung alasan Yadi yang putus sekolah.

Seketika air mata Yadi pun mengucur dan berusaha menyembunyikan wajah sedihnya.

Melihat itu, eks Kapolres Cimahi itu menawari Yadi untuk kembali bersekolah.

Sontak Yadi pun langsung mengangguk sembari menangis tersedu-sedu.

Diketahui Yadi putus sekolah saat ia duduk di bangku kelas 5 SD.

Padahal tinggal setahun lagi, Yadi bisa menamatkan jenjang SD tersebut, namun kondisi memaksanya putus sekolah.

Setelah mendengar tekad dan keinginan Yadi itu, Kombes Tri Suhartanto langsung menghubungi pihak terkait yang dapat membantunya untuk menyekolahkan kembali Yadi.

“Anak hebat ini, dia (Yadi) pengen sekolah. Apa yang bisa kita bantu supaya anak-anak ini bisa sekolah lagi,” ujar Kombes Tri Suhartanto berbicara di telepon.

Menurut pihak tersebut, pemerintah menyediakan program PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat).

“Kita ada program PKBM gratis pak, untuk kasus adek ini biar nanti kita bantu melalui program itu gratis,” ujar pihak yang akan membantu Yadi kembali bersekolah.

PKBM merupakan program pendidikan nonformal yang menawarkan fleksibilitas belajar bagi masyarakat yang putus sekolah atau membutuhkan keterampilan baru, mencakup Pendidikan Kesetaraan (Paket A setara SD, Paket B setara SMP, Paket C setara SMA/SMK) dengan ijazah setara formal.

Selain pelajaran, PKBM ini juga menyediakan  pelatihan keterampilan (menjahit, komputer, digital marketing), keaksaraan, dan kecakapan hidup (kewirausahaan, kepemimpinan) untuk meningkatkan kualitas hidup dan kemandirian.

Diketahui program PKBM ini merupakan bagian program daerah, ada juga program dari BOS.

Kapolres Cimahi itu akan berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Cimahi untuk membantu agar Yadi dan adik-adiknya itu bisa bersekolah.

Setelah mendapat bantuan kembali bersekolah itu, Kombes Tri meminta agar Yadi dan adiknya tak lagi turun ke jalan.

Ia berharap Yadi dan Siska fokus belajar demi mengubah masa depannya kelak.

Saat pulang, Kombes Tri tak lupa memberikan bantuan sejumlah uang kepada keluarga tersebut yang bisa digunakan untuk membayar kontrakan selama setahun.

Yadi dan Siska juga menerima uang dari mantan Kapolres Cimahi itu yang kini menjadi Wakapolres Metro Jakarta Barat.

Baca juga: Kisah Nia di Bandung Temani Suami Harus Cuci Darah Seumur Hidup, Gantungkan Harapan pada BPJS PBI

Kisah Pilunya Viral

Sebelumnya kisah pilu kakak beradik, Yadi dan Siska ini viral di media sosial setelah ditolong polisi, Bripka Rizky Hikmat.

Anggota Polres Cimahi itu tak sengaja melihat dua anak itu berdiri di pinggir jalan sambil membawa karung berisi botol bekas.

Saat ditanya kenapa sang adik menangis,  ternyata mereka belum makan.

Sontak Bripka Rizky Hikmat pun bergegas mengajak kakak beradik itu makan di warung pingir jalan.

Meski makanan yang disajikan hanya telur dan nasi, mereka tampak lahap setelah seharian mencari botol bekas sambil di jalanan.

KISAH PILU: Tangkapan layar Yadi (13) dan Siska (7) kakak adik pencari botol bekas di Bandung Barat ditolong polisi karena kehujanan dan kelaparan. Rela putus sekolah demi membantu orang tua mencari nafkah.
KISAH PILU: Tangkapan layar Yadi (13) dan Siska (7) kakak adik pencari botol bekas di Bandung Barat ditolong polisi karena kehujanan dan kelaparan. Rela putus sekolah demi membantu orang tua mencari nafkah. (Istimewa/Instagram @bangrizky_goww)

Saat berbincang, diketahui identitas kakak beradik itu bernama Yadi dan Siska.

Yadi sang kakak berusia 13 tahun, dan Siksa baru berusia 7 tahun.

Mirisnya ternyata Yadi putus sekolah. Padahal seharusnya ia duduk di bangku kelas 6 SD atau 1 SMP.

“Gak sekolah, terakhir sekolah kelas 5 SD,” ujar Yadi.

Sementara adiknya Siska yang sudah 7 tahun itu pun belum sekolah.

Saat ditanya apakah Yadi ingin kembali sekolah, dengan wajah polos Yadi langsung mengangguk.

Begitu juga sang adik, Siska yang mengaku mau bersekolah.

Kepada Bripka Rizky, Yadi mengaku kedua orang tuanya masih ada.

Yadi juga memiliki satu adik yang masih kecil berusia 3 tahun di rumah.

Sang ayah bernama Junaedi bekerja mencari rezeki dengan berjualan baklor.

Mereka hidup di Bandung Barat dengan mengontrak.

Penghasilan ayahnya dari berjualan bakso tampaknya tak cukup untuk menghidupi satu keluarga mereka.

Hal yang akhirnya membuat Yadi putus sekolah dan ikut membantu mencari nafkah dengan mengumpulkan botol bekas di jalanan untuk dijual ke pengepul.

Yadi dan adiknya itu tinggal bersama orang tuanya di kontrakan yang harus mereka bayar Rp 500 ribu per bulan.

Untuk membayar kontrakan itu, Junaedi ayah Yadi hanya bisa mengandalkan dari penghasilannya berjualan baklor.

Dalam sehari, Junaedi mendapat penghasilan Rp 40 ribu - Rp 50 ribu.

Uang tersebut hanya bisa memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.

Sementara biaya kontrakan mereka sisihkan sedikit demi sedikit dari penghasilan dagangannya.

Ia cukup terbantu dari penghasilan Yadi dan Siska yang mengumpulkan botol bekas di jalanan senilai Rp 50 ribu meski tak menentu.

Junaedi tak tega dengan kondisi tersebut, namun mengumpulkan botol bekas itu datang dari inisiatif Yadi yang ingin membantu keluarganya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.