TRIBUNJAKARTA.COM - Kebakaran melanda gudang distributor bahan kimia insektisida di kawasan Pergudangan Taman Tekno, Kelurahan Setu, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, Senin (9/2/2026).
Gudang insektisida berisi bahan kimian pembasmi hama berjumlah sekitar lima ton.
Tak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. Namun, kerugian akibat kebakaran diperkirakan mencapai Rp 2 miliar.
Sedangkan penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan.
Selain itu, sejumlah petugas damkar tumbang akibat asap pekat dan panas ekstrem. Lalu, ikan di Sungai Jalatreng mati karena dugaan pencemaran buntut kebakaran tersebut.
Dikutip dari TribunBanten, kawasan pergudangan tersebut terletak tidak jauh dari Kantor DPRD Kota Tangsel, yakni hanya berjarak sekitar 1,7 kilometer, serta berjarak 6,8 kilometer dari Kantor Pusat Pemerintahan Kota Tangsel.
Adapun gudang yang terbakar memiliki corak warna biru dongker dan merah bata, serta berada di bagian tengah di antara bangunan lainnya.
Gudang yang merupakan tempat penyimpanan bahan insektisida atau pembasmi hama tersebut dimiliki oleh sebuah perusahaan yang bergerak di bidang distributor.
Hampir seluruh badan bangunan terlihat gosong dan hanya menyisakan puing-puing besi yang diketahui sebelumnya merupakan rak penyimpanan bahan insektisida.
Kepala Bidang Pemadaman dan Penyelamatan Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Tangsel, Omay Komarudin, mengatakan kebakaran hebat tersebut menyebabkan kerugian material yang ditaksir mencapai Rp2 miliar.
“Yang terbakar ini gudang insektisida, berisi bahan kimia pembasmi hama dengan jumlah sekitar 5 ton,” ujar Omay dikutip dari TribunBanten.
Omay mengungkapkan, pihaknya menerima laporan kebakaran sekitar pukul 04.15 WIB dan mulai melakukan penanganan sekitar pukul 04.30 WIB.
Menurutnya, proses pemadaman berlangsung cukup lama lantaran bahan yang terbakar didominasi oleh bahan-bahan kimia.
“Jadi ada bahan kimia yang tidak mau dipadamkan oleh air. Kami coba padamkan menggunakan foam (busa) juga tidak berhasil, sehingga pada akhirnya kami menggunakan teknik terakhir dengan pasir,” kata Omay.
“Setelah itu kondisi mulai melandai, dan saat ini kami masih melakukan pendinginan,” jelasnya.
Untuk memadamkan api, kata dia, Damkar Tangsel mengerahkan sedikitnya 16 unit mobil pemadam kebakaran dan 70 personel gabungan.
“Armada tersebut terdiri atas 14 unit mobil pemadam dari Damkar Tangsel, dua unit bantuan dari wilayah BSD, serta dua unit mobil tangki suplai air,” jelasnya.
Hingga kini, penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan. Omay menyebut pihaknya belum dapat memastikan apakah kebakaran dipicu korsleting listrik atau faktor lainnya.
“Sampai saat ini dugaan penyebabnya masih belum diketahui, apakah dari korsleting listrik atau faktor lain. Ini masih dalam penyelidikan tim Inafis,” ungkapnya.
“Kebakaran terjadi saat gudang dalam keadaan tertutup dan tidak ada orang di dalamnya,” pungkasnya.
Kebakaran yang melanda sebuah gudang pestisida diduga menjadi pemicu pencemaran Sungai Jalatreng.
Terletak di bagian tengah-tengah antara bangunan lainnya, gudang ini berjarak sekitar 3,3 kilometer dari Sungai Jalatreng, dengan waktu tempuh sekitar 7 menit dengan mengendarai sepeda motor.
Meski tidak berbatasan langsung dengan bantaran sungai, namun komplek pergudangan ini memiliki saluran pembuangan air yang mengarah ke arah sungai.
Terlebih bahan insektisida tersebut berbentuk cair dengan jumlah sekitar 5 ton, sehingga diduga kuat mengalir hingga ke Sungai Jalatreng.
Kepala Bidang Pemadaman dan Penyelamatan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Tangsel, Omay Komarudin mengatakan, kebakaran tersebut terjadi sekitar pukul 04.15 WIB.
Menurutnya, kebakaran tersebut melahap hampir seluruh badan bangunan termasuk bahan insektisida yang tersimpan di dalam gudang.
"Memang gudang ini tidak berbatasan langsung dengan sungai, tapi terkoneksinya ini (drainase) pembuangannya ke Sungai Jlatereng," katanya, saat ditemui di lokasi kebakaran, Senin (9/2/2026).
"Sehingga Sungai Jalatreng ini diduga tercemar, akibat bahan kimia dari sini," jelasnya dikutip dari TribunBanten.
Air Sungai Jalatreng sempat memutih, disertai bau menyengat menyerupai aroma minyak tanah.
Hal itu menggegerkan warga Kelurahan Rawa Buntu, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan, Banten.
Tak lama berselang, ikan-ikan di sungai tersebut ditemukan mati massal dan mengambang di permukaan air.
Warga menduga sisa pembakaran gudang tersebut terbawa aliran drainase dan bermuara ke Sungai Jalatreng sehingga mencemari ekosistem perairan.
Berdasarkan pantauan, terlihat berbagai jenis ikan, mulai dari mujair, nila, hingga ikan sapu-sapu, mengapung dalam kondisi mati di sepanjang aliran Sungai Jalatreng yang diketahui terhubung langsung dengan Sungai Cisadane.
Meski sekitar pukul 13.00 WIB warna air sungai telah kembali berubah menjadi cokelat, aroma menyengat masih tercium di sekitar lokasi.
Sungai tersebut berada di wilayah Kelurahan Rawa Buntu, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan, dan berjarak sekitar 3,3 kilometer dari gudang insektisida yang terbakar, serta tepat berada di belakang Kantor DPRD Kota Tangerang Selatan.
“Pagi sekira pukul 06.00 WIB baunya sudah sampai ke rumah saya. Kata saya, ‘siapa yang bakar ini?’, kayak bau minyak tanah itu. Bau menyengat banget, padahal rumah saya sekitar 100 meter dari sungai ini,” kata warga sekitar, Romo (54), dikutip dari TribunBanten.com.
“Terus selang beberapa jam kami baru tahu kalau ternyata dari sekitar Taman Tekno ada kebakaran gudang kimia, terus limbahnya mengalir ke sini, sampai akhirnya biota air habis, ikannya mati semua,” sambungnya.
Ia mengaku kondisi tersebut memicu kekhawatiran warga terkait dampak lanjutan dari pencemaran yang terjadi.
Terlebih, kata dia, aliran Sungai Jalatreng terhubung langsung dengan Sungai Cisadane yang selama ini digunakan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tangerang Selatan untuk mengaliri air bersih ke rumah-rumah warga.
“Kalau lihat kondisi begini ya khawatir. Air ini kan tembus ke Cisadane. Takutnya pencemaran ini meluas,” ucapnya.
“Apalagi saya juga pakai air dari PDAM, sedangkan PDAM-nya mengambil air dari Sungai Cisadane,” jelasnya.
Ia berharap pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tangerang Selatan dapat mengambil tindakan agar pencemaran yang terjadi tidak meluas.
“Mudah-mudahan ada penanganan, tapi sampai sekarang dari pagi saya di sini belum kelihatan ada dari DLH yang turun,” pungkasnya.
Upaya konfirmasi terhadap Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian Pencemaran dan Pengawasan Lingkungan (PPPL) DLH Tangerang Selatan, Deni Danial, telah dilakukan, baik melalui pesan singkat maupun panggilan telepon.
Namun, hingga lebih dari empat jam, yang bersangkutan belum memberikan respons.
Selama lebih dari tujuh jam, petugas berjibaku melawan api yang dipicu material kimia beracun.
Asap pekat dan panas ekstrem membuat sejumlah petugas tumbang kelelahan hingga harus mendapatkan bantuan oksigen di lokasi kejadian.
Pantauan di lapangan menunjukkan, beberapa petugas berseragam krem tampak terduduk lemas di depan gudang yang hangus terbakar.
Helm dan alat pelindung diri dilepas, sementara rekan lainnya sigap memberikan oksigen dan air minum untuk memulihkan kondisi mereka.
Gudang yang terbakar merupakan tempat penyimpanan bahan insektisida atau pembasmi hama milik sebuah perusahaan distributor.