Siswa SD NTT yang Meninggal Disebut Tak Bisa Cairkan PIP, Ini Jawaban Kemendikdasmen
GH News February 09, 2026 09:09 PM
Jakarta -

Kasus siswa SD di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang meninggal dunia karena bunuh diri lantaran tak bisa membeli buku dan pena masih membawa duka di dunia pendidikan. Sebelumnya, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyebut siswa tersebut merupakan salah satu penerima bantuan Program Indonesia Pintar (PIP).

Hal tersebut sempat disampaikan oleh Wamendikdasmen Atip Latipulhayat. Atip juga menyampaikan bila dana bantuan telah disalurkan sesuai mekanisme berlaku.

Namun, ada kabar berhembus bila siswa tersebut sempat tak bisa mencairkan dana PIP. Kabar tersebut juga ikut didengar oleh Kemendikdasmen.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemendikdasmen Suharti, membantah bila dana PIP siswa tersebut tidak cair. Sama seperti Atip, dana sudah dicairkan, tapi tidak diambil oleh yang bersangkutan.

"Bukan tidak cair, tapi tidak diambil," kata Suharti usai acara Konsolidasi Nasional Pendidikan Dasar dan Menengah Tahun 2026, di Gedung PPSDM Kemendikdasmen, Kota Depok, Jawa Barat, Senin (9/2/2026).

Suharti menegaskan rekening PIP penerima sudah diaktivasi sejak September 2025 dan anggaran ditransfer sejak November 2025. Namun, dana tersebut tetapi tidak kunjung ditarik, sehingga harus dikembalikan ke kas negara.

"Jadi dari bulan September sudah diaktivasi, bulan November anggaranya juga sudah di-transfer, tetapi oleh penerima anggaran itu dananya belum menarik," jelasnya lebih lanjut.

Terkait adanya isu masalah administrasi yang menyebabkan siswa tak bisa menarik dana PIP, Suharti menyebut akan melakukan tindak lanjut.

"Tentu saja kita akan tindaklanjuti lebih lanjut," tegas Suharti.

Kemendikdasmen Beri Bantuan

Kemendikdasmen telah menjalin komunikasi lebih lanjut dengan keluarga korban siswa di NTT. Diwakili Unit Pelaksana Teknis (UPT) di wilayah NTT, Kemendikdasmen telah mengunjungi rumah duka siswa tersebut.

Ini menjadi komitmen Kemendidkasmen dalam mendampingi keluarga yang tengah berduka. Tak hanya menyampaikan belasungkawa, Kemendikdasmen juga menyerahkan santunan.

Santunan ini diharapkan bisa meringankan beban keluarga dan diterima langsung diterima oleh pihak keluarga, baik itu ibunda, nenek, dan paman. Paman korban, mewakili pihak keluarga menyampaikan apresiasi dan menyebut bantuan akan digunakan untuk proses adat dan kebutuhan lainnya.

Selain itu, Kemendikdasmen juga menyiapkan dukungan keberlanjutan pendidikan bagi anggota keluarga lain. Dengan demikian, keluarga korban dipastikan mendapatkan akses layanan sosial dan pendidikan yang dibutuhkan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.