Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno mengajak satuan pendidikan untuk memperkuat pendidikan karakter terkait perubahan iklim dengan mengenalkan budaya green time pada murid, untuk mengurangi screen time.

“Kita berkepentingan agar anak mulai bergeser dari screen time ke green time, dari melihat layar menjadi melihat realita kehidupan yang sebenarnya. Menjadi aktivitas yang mengeksplorasi kondisi lingkungan sekitar," kata Pratikno dalam Pembukaan Konsolidasi Nasional Pendidikan Dasar dan Menengah 2026 di Kota Depok, Senin.

Menurutnya, disrupsi yang diakibatkan oleh perubahan iklim (climate change) membawa dampak nyata dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari aspek ekonomi, sosial, budaya hingga politik sehingga para murid perlu memiliki pemahaman mengenai langkah-langkah untuk menekan dampak tersebut sebagai bekal di masa depan.

"Oleh karena itu, Bapak-Ibu sekalian, saya titip juga ruang-ruang kelas di sekolah itu agar juga menjadi media pembelajaran dalam menghadapi disrupsi yang kedua, yaitu climate change, perubahan iklim,” katanya.

Dia menyebutkan salah satu dampak nyata dari disrupsi itu ialah gagal panen (food loss) yang meningkatkan food waste hingga memengaruhi ketahanan pangan dalam negeri

“Nah, mohon anak-anak bisa dilatih, jangan sampai meninggalkan food waste. Karena Bapak-Ibu sekalian, di Indonesia diperkirakan food loss dan food waste itu memboroskan 30 persen dari stok pangan kita," katanya.

Dia menjelaskan, food loss terjadi ketika pengolahan dari sawah banyak yang tercecer atau hilang, sementara food waste ketika makan tidak dihabiskan dan disia-siakan.

"Jadi food waste itu masalah serius, biasakan anak untuk tidak food waste, menyia-nyiakan makan,” imbuhnya.

Karena itu, pihaknya menilai dinas pendidikan hingga satuan pendidikan di tiap daerah memainkan peran penting dalam mempersiapkan generasi penerus yang sehat secara fisik, mental, emosional hingga sosial dalam menghadapi berbagai resiko akibat dari disrupsi perubahan iklim.

Ia mengatakan satuan pendidikan dapat mengurangi budaya screen time para murid yang dapat mencapai hingga 9 jam tersebut menjadi aktivitas yang mengeksplorasi kondisi lingkungan sekitar.

Salah satunya ialah dengan mengubah budaya screen time menjadi green time melalui aktivitas memilah sampah ataupun menghabiskan bekal makanan masing-masing.

“Jadi kami ingin mengajak Bapak-Ibu Kepala Dinas, Kepala Sekolah menjadi orkestrator untuk membangun SDM unggul, mengajak semua pihak untuk bergabung, membuat sekolah sebagai media pembelajaran SDM unggul dan tangguh, sehat fisik, sehat mental, sehat sosial mampu menghadapi disrupsi perubahan iklim,” katanya.