PENGAKUAN Ojol Dipukul Oknum Paspampres, Padahal Korban Cuma Bertanya Alamat yang di Aplikasi
Tommy Simatupang February 10, 2026 01:27 AM

Pengemudi Ojek Online mengaku dipukul oleh oknum diduga Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) pada Rabu (4/2/2026) di Kembangan, Jakarta Utara. 

Berdasarkan kronologi yang dialami Hasan ketika menanyakan alamat yang tertera di aplikasi Ojol. 

Hasan menceritakan, kejadian berawal saat ia menjemput penumpang bernama Nur di Jalan Mawar dengan tujuan Jalan Haji Lebar, kawasan Srengseng, Kembangan, Jakarta Barat.

"Saya dari Jalan Mawar itu lagi on bid, dapat penumpang ibu-ibu sendirian, minta diantar ke Jalan Haji Lebar, rumah pelaku, tapi dia enggak tahu jalan," kata Hasan saat dihubungi Kompas.com, Senin (9/2/2026).

Karena penumpang tidak mengetahui arah jalan, Hasan mengikuti titik peta yang tertera di aplikasi.

Namun, sesampainya di lokasi tujuan, penumpang menyatakan alamat tersebut salah.

"Sampai di lokasi tujuan, penumpang saya mengatakan bahwa rumahnya bukan ini. Terus dia sering dipanggil ke sana, cuma dia enggak tahu jalan. Saya konfirmasi jalannya ke mana, dia enggak tahu juga," ucap Hasan. 

Penumpang kemudian memberikan fitur share location yang dikirim oleh pelaku, tetapi tidak bisa dibuka. 

Hasan pun mengecek titik merah pada peta yang mengarah ke Jalan Kecapi, Meruya Utara, sekitar dua kilometer dari titik awal aplikasi.

"Pas saya coba buka, ternyata titiknya enggak jauh, sekitar dua kilo. Ya sudah saya anter saja lah ke sana. Tapi belum nemu juga rumahnya yang mana," jelasnya. 

Dimaki saat konfirmasi alamat 

Setibanya di Jalan Kecapi, Hasan meminta penumpangnya menelpon pelaku untuk memastikan alamat.

Telepon diserahkan kepada Hasan agar bisa bertanya langsung. 

Namun, alih-alih mendapat petunjuk, Hasan justru dimaki pelaku di ujung telepon.

"Saya bilang, 'Pak, saya di Jalan Kecapi nih, rumah Bapak ke mana lagi ya?'" tanya Hasan.

"Terus dia jawabannya malah kasar, marah-marah. 'Ngapain kamu di Jalan Kecapi? Situ kan udah saya share-loc!'" sambungnya.

Hasan mencoba merespons dengan tenang, namun pelaku semakin emosi.

"Saya bilang, 'Bapak ngapain marah-marah? Saya kan cuma nanya alamat'. Terus malah dia bilang, 'Monyet kamu ya! Sini kamu kalau berani!" ucap Hasan.

Meski sempat enggan mengantar penumpang hingga ke rumah pelaku, Hasan akhirnya melanjutkan karena kasihan kepada penumpang, seorang ibu-ibu yang pergi sendirian pada malam hari.

"Tapi karena saya kasihan kan, ibu-ibu sendirian sudah malam juga, enggak tau jalan lagi, ya sudah saya antar aja ke sana, toh enggak jauh juga," kata dia.

Cekcok dengan pelaku

Sesampainya di lokasi, seorang pria yang merupakan anak pelaku sudah menunggu di depan rumah dengan nada menantang.

"Anaknya sudah berdiri di depan rumah dengan nada kayak nantangin gitu, bilang kalau saya enggak sopan ke bapaknya. Padahal mah saya cuma nanya alamat, bapaknya dia yang ngomel-ngomel," tutur Hasan. 

Cekcok pun tak terhindarkan hingga anak pelaku menendang motor Hasan, memicu perkelahian antara keduanya. 

"Saya nggak terima kan, saya dorong, terus dia mukul saya, terus saya pukul juga. Pukul-pukulan di situ," ucapnya. 

Di tengah perkelahian itu, pelaku yang diduga anggota Paspampres keluar rumah membawa senjata tumpul berupa batang besi. 

"Bapaknya ini, saya perkirakan usia 40 sampai 50 tahun ke atas lah. Dia datang bawa besi dan mukul kepala saya. Sekali pukul pakai besi, terus warga langsung sudah di situ semua," ungkap Hasan. 

"Saya luka berdarah di dahi kiri, ngucur darahnya," sambungnya. 

RT sebut pelaku Paspampres 

Setelah keributan, Hasan dibawa ke rumah RT setempat untuk menjelaskan kronologi. 

"Di situ saya dibawa ke rumah RT, ditanyain ada apa sebenarnya. Nah, di sini lah RT nya tuh bilang, katanya pelakunya itu anggota Paspampres," jelas Hasan. 

Hasan kemudian melakukan visum dan membuat laporan ke Polsek Kembangan. 

"Saya langsung lapor polisi. Nah, hari Sabtu (7/2/2026) saya dipanggil lagi, terus minta nomor RT setempat. Di situ polisi baru tahu karena nanya RT, iya kejadiannya benar pelaku Paspampres," jelas Hasan. 

Namun, polisi sempat menyatakan kesulitan memproses kasus tersebut karena status pelaku sebagai anggota militer. 

"Di situ kepolisian bilang, 'Wah kalau Paspampres kita enggak bisa, harus ke Pomdam (Polisi Militer Kodam)," kata Hasan. 

Hasan pun membagikan keluhannya ke media sosial Instagram karena merasa kasusnya mandek. 

Setelah unggahannya viral, ia kembali dipanggil Polsek Kembangan untuk pemeriksaan lebih lanjut. 

"Nah setelah viral itu, tadi pagi sih saya dipanggil buat ke kantor lagi. Katanya sih pemeriksaan lebih lanjut bilangnya. Cuma mungkin habis dari Polsek saya langsung ke Pomdam," ucapnya. 

Hasan berharap kasus ini ditindaklanjuti secara adil dan tidak ada penyalahgunaan kekuasaan oleh aparat. 

"Ya, semoga ditindaklanjut lah. Jangan ada orang-orang yang punya jabatan begitu bisa seenaknya," tutur Hasan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.