Tersinggung dengan Ucapan Suami, Wanita Hamil Pilih Bercerai setelah Hadiri Acara Kantor Suaminya
Randy P.F Hutagaol February 10, 2026 01:27 AM

TRIBUN-MEDAN.com - Sebuah kisah rumah tangga menjadi sorotan setelah seorang wanita hamil memutuskan untuk mengajukan perceraian usai menghadiri acara pesta akhir tahun perusahaan suaminya.

Keputusan tersebut diambil bukan karena perselingkuhan, melainkan karena ucapan sang suami yang dinilai melukai perasaannya di hadapan rekan-rekan kerja.

Dikutip dari Eva.vn Senin (9/2/2026), peristiwa itu bermula ketika wanita tersebut menghadiri acara Year End Party perusahaan suaminya.

Saat itu, usia kehamilannya telah memasuki bulan ketujuh.

Ia memilih mengenakan gaun longgar berwarna gelap yang tidak ketat dan tidak terbuka, dengan pertimbangan kenyamanan sebagai prioritas utama.

Di hadapan cermin sebelum berangkat, ia mengaku hanya ingin tampil rapi.

Meski demikian, ia merasakan kesedihan karena menyadari sudah lama tidak merasa cantik seperti sebelumnya. 

Kehamilan membuat seluruh pilihan pakaiannya berorientasi pada kenyamanan, bukan lagi penampilan.

Sesampainya di lokasi acara, suasana pesta tampak meriah.

Aula dipenuhi cahaya terang, musik yang menghentak, serta tawa dan percakapan para tamu yang hadir dengan busana terbaik mereka.

Ia berdiri di samping suaminya sambil sesekali mengusap perutnya, merasakan perbedaan antara dirinya yang tengah menjalani masa kehamilan dengan orang-orang di sekitarnya yang tampak bebas dan ringan.

Di tengah acara, hadir seorang perempuan yang merupakan sahabat suaminya di tempat kerja.

Kedekatan mereka disebut sudah terjalin lama hingga namanya lebih sering terdengar dibanding beberapa kerabat.

Perempuan tersebut tampil dengan gaun ketat berpotongan leher cukup rendah, bertubuh ramping, berkulit cerah, serta riasan yang terlihat anggun tanpa berlebihan.

Perempuan itu menyapa dengan ramah dan natural, tanpa sikap yang terkesan menggoda. Namun, kehadirannya memunculkan situasi yang tidak nyaman bagi istri tersebut.

Suaminya terlihat berbinar saat berbincang dengan sahabatnya itu.

Ia tertawa lepas dan menunjukkan ekspresi kagum yang tidak disembunyikan.

Dalam suasana santai, suami tersebut melontarkan pujian kepada sahabatnya di hadapan meja yang sama.

Ia menyebut bahwa perempuan itu cantik, memiliki tubuh bagus, pandai berpakaian, dan pandai berdandan.

Ucapan itu disambut tawa oleh orang-orang di meja. Sang istri berusaha tersenyum meski merasa kaku.

Tidak berhenti di situ, suami tersebut juga berujar agar sahabatnya itu suatu saat dapat mengajarkan tips kecantikan kepada istrinya.

Ia menyebut bahwa istrinya yang sedang hamil terlihat cuek, tidak pandai berdandan, dan tidak tahu berpakaian.

Pernyataan itu diucapkan dengan nada santai, seolah sebagai candaan.

Ucapan tersebut membuat sang istri terdiam.

Ia mengaku bukan merasa sakit karena suaminya memuji perempuan lain, melainkan karena menyadari dirinya seolah dipandang sebagai sosok yang perlu diperbaiki.

Ia merasa diposisikan sebagai perempuan yang lelah, berat, dan kurang menarik selama masa kehamilan.

Menurut pengakuannya, suaminya memang tidak secara langsung menyebut dirinya tidak cantik.

Namun, ia merasakan bahwa dirinya tidak lagi dipandang dengan kekaguman seperti dulu.

Ia menatap perutnya yang menunjukkan garis kehamilan, sebuah tanda yang menurut dokter merupakan hal normal bagi ibu hamil.

Namun saat itu, tanda tersebut terasa seperti simbol perubahan besar dalam dirinya.

Ia teringat malam-malam tanpa tidur, rasa mual, serta nyeri punggung yang menyertai kehamilannya.

Pengorbanan tersebut, menurutnya, tidak pernah disebut dalam percakapan mengenai kecantikan di pesta itu.

Sepanjang acara, ia memilih diam.

Suaminya tidak menyadari perubahan sikap tersebut dan tetap menikmati suasana pesta.

Dalam perjalanan pulang, ia hanya memandang ke luar jendela sambil memeluk perutnya.

Setibanya di rumah, ia menyampaikan keputusannya secara tenang namun tegas untuk bercerai.

Suaminya terkejut dan mempertanyakan alasan tersebut, menganggap ucapan di pesta hanyalah candaan.

Namun bagi sang istri, yang melukai bukanlah perempuan lain, melainkan cara suaminya memandang dirinya sendiri.

Ia menyatakan tidak membutuhkan pelajaran berdandan untuk menyerupai orang lain.

 Yang ia harapkan hanyalah pasangan yang tetap memandangnya dengan kasih sayang saat dirinya merasa lelah, rapuh, dan tidak dalam kondisi terbaik.

 

(cr31/tribun-medan.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.