Nasib Pedagang Es Kelapa yang Todongkan Golok ke Walkot Bekasi Tri Adhianto, Menyesal & Minta Maaf
Eri Ariyanto February 10, 2026 03:44 AM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Seorang pedagang es kelapa di Bekasi menjadi sorotan setelah menodongkan golok kepada Wali Kota Tri Adhianto di tengah keramaian. 

Aksi itu sempat menimbulkan kepanikan warga sekitar dan viral di media sosial. 

Kini, pedagang tersebut menyatakan menyesal atas perbuatannya dan secara terbuka meminta maaf kepada Tri Adhianto serta masyarakat.

Baca juga: Emosinya Denada Usai Dituding Punya Anak Lagi Selain Ressa & Aisha, Tegas Membantah: Keberatan Keras

Pedagang es kelapa yang todongkan golok ke Walkot Bekasi Tri Adhianto menyesali perbuatannya

Barmizon (60), pedagang es kelapa yang mengacungkan senjata tajam jenis golok ke Wali Kota Bekasi Tri Adhianto saat penertiban pedagang kaki lima (PKL) di Perumahan Duta Harapan, Kelurahan Harapan Baru, Kecamatan Bekasi Utara, Minggu (8/2/2026), mengaku menyesali perbuatannya.

Berdasarkan video klarifikasi yang diterima Kompas.com, Senin (9/2/2026), Barmizon menyampaikan permintaan maaf kepada sejumlah pejabat dan petugas yang berada di lokasi saat kejadian, termasuk Kapolres, Wali Kota, dan Dandim Kota Bekasi.

“Saya Barmizon, mohon maaf pada Bapak Kapolres, Bapak Wali Kota, Bapak Dandim dan jajarannya. Dari kejadian tadi pagi di warung es kelapa saya, atas kesalahpahaman dan emosi saya saat penertiban spanduk di warung saya. Mohon dimaafkan dan saya tidak akan mengulangi lagi,” ujar Barmizon dalam video tersebut, Senin.

Berdasarkan rekaman video yang beredar di akun Instagram @infobekasiutara, penertiban PKL awalnya berlangsung seperti biasa.

Namun situasi berubah ricuh ketika Barmizon menolak lapaknya dipindahkan.

Ia mengaku tersulut emosi karena merasa lapak tersebut berdiri di lahan yang telah dibelinya.

Penolakan itu memicu ketegangan antara dirinya dan petugas di lokasi.

Dalam kondisi emosi, Barmizon kemudian mengeluarkan senjata tajam berupa golok dari dalam lapaknya.

Ia mengacungkan golok tersebut ke arah petugas dan pejabat yang berada di lokasi, termasuk Wali Kota Bekasi Tri Adhianto.

Beberapa petugas dan pejabat terlihat mundur beberapa langkah saat golok ditunjukkan.

Warga di sekitar lokasi juga tampak terkejut dan merekam kejadian menggunakan telepon seluler.

Situasi sempat memanas sebelum akhirnya petugas melakukan pendekatan persuasif.

PENERTIBAN PKL VIRAL - Aksi penertiban PKL berubah mencekam saat pedagang es kelapa diduga menodong golok ke Wali Kota Bekasi. (YouTube/Wartakota)

Sejumlah personel berupaya meredakan situasi dengan berbicara secara tenang kepada Barmizon dan memintanya menurunkan golok, sementara petugas lain menjaga jarak untuk menghindari eskalasi.

Negosiasi berlangsung beberapa menit hingga akhirnya pria berusia 60 tahun itu bersedia meletakkan golok.

Situasi pun berhasil dikendalikan tanpa adanya korban luka.

Kasie Humas Polres Metro Bekasi Kota AKP Suparyono mengatakan kasus tersebut langsung ditangani aparat kepolisian. Usai kejadian, Barmizon diamankan oleh Satreskrim Polres Metro Bekasi Kota di Polsek Bekasi Utara.

"Kejadian tersebut sudah ditangani dengan baik oleh Satreskrim Polres Metro Bekasi Kota. Kemarin sempat diamankan di Polsek Bekasi Utara. Sekarang sudah dipulangkan setelah menulis surat pernyataan dan video permintaan maaf," ujar Suparyono.

Menurut Suparyono, keputusan memulangkan Barmizon diambil dengan sejumlah pertimbangan.

“Dengan pertimbangan yang bijak dan karena faktor usia serta sudah menyadari kesalahpahamannya maka yang bersangkutan sudah membuat pernyataan tidak akan mengulangi perbuatannya juga mengajukan permohonan maaf kepada petugas,” ujar Suparyono.

Menanggapi kejadian tersebut, Wali Kota Bekasi Tri Adhianto menegaskan bahwa aparatur pemerintah harus tetap tenang dan tidak bersikap represif dalam menghadapi situasi di lapangan.

“Dalam menghadapi situasional itu kan harus dengan tenang. Kita sebagai aparatur bukan represif, karena itu warga kita, saudara kita,” ujar Tri.

Menurut Tri, pendekatan yang dilakukan harus bersifat persuasif dan mengedepankan penyadaran kepada masyarakat agar tidak menimbulkan kegaduhan.

“Yang perlu adalah kita elus, kita sadarkan bahwa ada satu proses yang memang tidak baik. Saya melihat memang ada degradasi moral hari ini. Masyarakat mudah tersulut emosi, mudah mengeluarkan kata-kata kotor. Justru saya mengingatkan aparatur untuk tidak terpancing,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa kegiatan penertiban dilakukan secara bertahap dan disertai edukasi kepada masyarakat.

“Program pemerintah tidak akan pernah berhasil kalau masyarakat tidak ikut serta. Termasuk yang hari ini kami fokuskan, seperti penanganan sampah. Ini juga menjadi catatan dari Bapak Presiden,” kata Tri.

Pascakejadian, lapak pedagang es kelapa yang sebelumnya berada di tepi jalan mulai digeser ke area yang tidak mengganggu badan jalan.

(TribunNewsmaker.com/Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.