Dobrak Batas Jurusan, Keysha Brilliant Asmara Asal Tulungagung Moncer di Dunia Seni Pertunjukan
Sri Wahyuni February 10, 2026 06:50 AM

TRIBUNMATARAMAN.COM, TULUNGAGUNG - Bakat Seni tidak dibatasi oleh latar belakang pendidikan formal.

Demikian yang diyakini oleh Keysha Brilliant Asmara, mahasiswi Program Studi Seni Drama Tari dan Musik (Sendratasik), Universitas Negeri Surabaya (Unesa) angkatan 2023. 

Meski menempuh pendidikan menengah di jurusan Manajemen Perkantoran di SMKN 1 Boyolangu Tulungagung, perempuan asal Kabupaten Tulungagung ini justru mampu melesat sebagai penari dan kreator seni.

Keputusannya untuk berpindah haluan dari jalur manajemen perkantoran ke seni pertunjukan bukanlah tanpa alasan yang kuat.

Sejak duduk di bangku kelas 6 sekolah dasar, Keysha sudah mengakrabkan diri dengan lantai tari melalui berbagai sanggar.

Ketertarikannya untuk terus mendalami kesenian dari berbagai daerah di Indonesia menjadi motor penggerak utama.

Ia menyadari bahwa jika tetap memaksakan diri berada di jalur manajemen perkatoran, ia tidak akan bisa menikmati masa perkuliahannya karena kemampuannya yang sebenarnya berakar pada seni pertunjukan.

Pilihan ini pun diperkuat dengan pengaruh positif dari para pembimbingnya di sanggar dan orang tuanya.

Pandangannya yang dulu hanya menganggap tari sebagai hobi kini telah berubah, pandangan itu telah bergeser menjadi sesuatu yang lebih sakral.

Melalui Sanggar Lestari Widodo Wiryotomo, ia ditempa untuk menjadi pribadi yang menghargai setiap tetes keringat dalam sebuah proses

"Saya dulu hanya menganggap tari adalah sebuah hobi, tetapi setelah saya masuk ke sanggar Lestari Widodo Wiryotomo saya memiliki banyak pengalaman, mulai dari menghargai sebuah proses, menjadi penari harus disiplin, bertanggung jawab, dan good attitude,” ucapnya kepada TribunMataraman.com, Rabu (4/2/2025).

Baca juga:  DPMPTSP Kabupaten Nganjuk Gelar Forum Perangkat Daerah, Paparkan Enam Program

Tak hanya di sanggar, ia merasa lebih memiliki pengalaman dan pengetahuan yang lebih luas setelah memasuki dunia perkuliahan. 

“Karena tari bukan sekedar hobi, melainkan sebuah nyawa yang selalu beriringan dengan tubuh saya.” lanjutnya.

Selain dikenal sebagai penampil, ia juga bergerak sebagai kreator tari.

Ia telah melahirkan karya koreografi berjudul “Metamorfosis Celeng” yang disusun bersama rekannya untuk memenuhi nilai di salah satu mata kuliah.

Tarian ini bukan sekadar tarian estetis, dalam tarian ini ia mencoba menggambarkan sisi gelap manusia yang tamak, gila akan harta, dan haus akan kehormatan.

Kemampuannya dalam membuat koreo tari makin terasah saat ia mendapatkan kesempatan menggarap koreo tari nusantara untuk Grand Final di ajang Duta Siswa Nasional 2026 bersama tiga teman lainnya.

Kesuksesan yang ia dapatkan hingga saat ini tidak lepas dari tangan para mentornya.

Di Sanggar Lestari Widodo Wiryotomo, ia banyak menyerap ilmu dari Hapsari Mustikaningrum dan Aditya Prisma Sugondo.

Sementara dari luar sanggar, ia banyak terinspirasi oleh sosok Bathara dari Swargaloka, yang turut membentuk karakter menarinya menjadi lebih kuat dan berkarakter.

Meski telah meraih berbagai juara di tingkat provinsi dan nasional, ia merasa perjalanannya masih panjang.

Ia masih memiliki beberapa daftar impian yang ingin ia capai untuk terus 
mengukur sejauh mana kemampuannya berkembang.

Target besar berikutnya adalah berpartisipasi dalam ajang bergengsi IFORTE, Pagelaran Sabang Merauke (PSM), dan Gandrung Sewu.

Ajang-ajang tersebut ia pandang sebagai medan uji coba yang sangat menantang, karena harus bersaing dengan seniman-seniman pilihan dari berbagai penjuru nusantara melalui proses seleksi yang ketat.

Ia juga menjelaskan, bahwa seni tari adalah luapan emosi manusia. Mulai dari rasa sedih, senang, marah, hingga lelah yang dimanifestasikan melalui gerak.

Tarian tradisional ini harus dilestarikan karena memiliki karakteristik estetik yang khas, di mana esensi dan penjiwaannya menawarkan pengalaman rasa yang jauh lebih murni.

"Menurut saya tari itu adalah sebuah gerak yang berasal dari luapan emosi kita, mau itu sedih, senang, marah, dan capek. Selain itu kita juga harus melestarikan tari tradisional agar tidak cepat punah, dan tetap ada sampai anak cucu kita, karena tari tradisional itu memiliki ciri khas yang berbeda dengan tari pengembangan baru." ujarnya.

(Gladistha Putri Dwi Gumilar/TribunMataraman.com)

Editor : Sri Wahyunik

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.