Dengan dukungan kebijakan yang berpihak kepada petani, strategi pengelolaan yang tepat, serta kerja keras yang konsisten, panen raya diharapkan benar-benar menjadi momen yang membawa berkah
Jakarta (ANTARA) - Dalam salah satu kesempatan, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menyatakan bahwa panen raya padi musim tanam Oktober–Maret 2026 diperkirakan berlangsung lebih cepat dan mulai terjadi pada Februari 2026.
Percepatan waktu panen raya ini tentu disambut dengan gembira, khususnya oleh para petani padi yang selama kurang lebih 100 hari telah menekuni proses bercocok tanam dengan penuh kesabaran dan harapan.
Panen raya selalu menjadi momen yang dinantikan para petani. Bagi mereka, panen raya bukan sekadar agenda rutin tahunan, melainkan momentum penting yang berpotensi mengubah nasib dan memperbaiki kehidupan.
Pada saat inilah jerih payah, tenaga, dan biaya yang telah dicurahkan sejak masa olah tanah hingga pemeliharaan tanaman, diharapkan berbuah hasil yang setimpal.
Tidak mengherankan jika menjelang tibanya panen raya, para petani tampak mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh dan penuh keseriusan.
Pengalaman panen raya pada tahun sebelumnya menunjukkan banyak petani yang merasakan kegembiraan. Kerja keras mereka dalam bercocok tanam padi terbayar dengan harga gabah yang dinilai setimpal.
Para petani tidak lagi diliputi kekhawatiran akan terjadinya harga gabah anjlok, mengingat pemerintah telah menjamin dan menerapkan satu harga pembelian pemerintah sebesar Rp6.500 per kilogram.
Dengan kebijakan tersebut, petani tidak perlu cemas terhadap kemungkinan tekanan harga oleh bandar atau tengkulak, karena pemerintah telah menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah sebesar Rp6.500 per kilogram.
Perum Bulog pun mendapat penugasan untuk menyerap gabah petani dengan harga sekurang-kurangnya sesuai HPP yang berlaku. Kebijakan ini memberikan rasa aman dan kepastian bagi petani dalam menjual hasil panen mereka.
Hal yang semakin menggembirakan, pemerintah juga menghadirkan terobosan dalam kebijakan penyerapan gabah petani.
Ditetapkannya kebijakan penyerapan gabah secara any quality atau serap gabah semua kualitas membuat petani tidak lagi terbentur pada persyaratan kadar air maupun kadar hampa tertentu saat menjual gabah hasil panennya.
Kebijakan penyerapan gabah secara any quality atau “apa adanya” berarti pemerintah atau lembaga terkait bersedia membeli gabah petani tanpa mempertimbangkan secara ketat aspek kualitas, seperti kadar air atau tingkat kekeringan tertentu.
Dengan demikian, petani tidak perlu khawatir jika gabah yang dihasilkan belum sepenuhnya memenuhi standar teknis tertentu. Kebijakan ini biasanya diterapkan untuk mendukung stabilitas harga gabah sekaligus melindungi pendapatan petani, terutama pada saat produksi melimpah.
Any Quality
Menarik untuk dicermati lebih jauh, kebijakan satu harga pembelian pemerintah dan penyerapan gabah secara any quality terbukti mampu memberikan dampak positif bagi banyak pihak.
Penyerapan gabah terlihat sangat tinggi, sehingga memperkokoh posisi cadangan beras pemerintah. Di sisi lain, kesejahteraan petani pun tampak semakin membaik karena hasil panen dapat terserap dengan harga yang relatif stabil.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa Nilai Tukar Petani (NTP) pada tahun 2025 menunjukkan angka yang semakin tinggi.
Dengan NTP sekitar 123 pada tahun tercapainya swasembada beras, menggambarkan tingkat kesejahteraan petani yang semakin membaik.
Produksi yang berlimpah dan harga yang menguntungkan menjadi kombinasi yang wajar jika kemudian berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani.
Panen raya identik dengan hasil pertanian yang melimpah. Ketika hasil panen melimpah, petani memiliki kesempatan untuk menjual lebih banyak dan memperoleh pendapatan yang lebih besar.
Hal ini tentu akan meningkatkan kesejahteraan mereka, selama harga jual gabah tetap menguntungkan dan biaya produksi tidak terlalu tinggi. Namun demikian, kita juga tidak dapat menutup mata bahwa panen raya dalam kondisi tertentu dapat menyebabkan harga jual turun akibat pasokan yang melimpah di pasar.
Di sinilah pentingnya kebijakan satu harga gabah sebesar Rp6.500 per kilogram. Dengan adanya penetapan harga minimum yang harus dibayarkan oleh pengumpul atau Bulog, harga gabah cenderung stabil dan tidak mengalami penurunan drastis.
Kebijakan ini melindungi petani dari fluktuasi harga pasar yang merugikan, sehingga pendapatan mereka lebih terjamin.
Kebijakan satu harga gabah yang mulai diberlakukan pemerintah sejak tahun lalu terbukti menjadi salah satu solusi dalam stabilisasi harga dan peningkatan pendapatan petani.
Kebijakan ini layak untuk dilanjutkan agar petani dapat lebih fokus meningkatkan produksi menuju swasembada beras, tanpa dihantui kekhawatiran akan jatuhnya harga pada saat panen raya.
Strategi Penting
Dalam menghadapi tantangan panen raya, terdapat sejumlah strategi yang dapat dilakukan.
Pertama, diversifikasi hasil pertanian. Petani dapat menanam berbagai jenis tanaman untuk mengurangi risiko penurunan harga pada satu komoditas tertentu. Dengan tidak bergantung pada satu komoditas saja, risiko kerugian dapat ditekan.
Kedua, peningkatan kualitas hasil panen. Meski terdapat kebijakan any quality, upaya meningkatkan kualitas tetap penting agar petani memiliki peluang memperoleh harga yang lebih baik di pasar.
Ketiga, pemanfaatan teknologi. Penggunaan teknologi penyimpanan dan pengolahan pascapanen dapat mengurangi kerugian serta menjaga mutu gabah sebelum dijual.
Keempat, penguatan kerja sama antarpetani. Melalui kelompok tani atau koperasi, petani dapat meningkatkan posisi tawar dalam menjual hasil panen. Kerja sama ini juga memudahkan akses terhadap sarana produksi, pembiayaan, dan informasi pasar.
Kelima, pemanfaatan asuransi pertanian. Asuransi dapat melindungi petani dari risiko gagal panen maupun penurunan harga yang tidak terduga.
Akhirnya, agar panen raya benar-benar mampu memberi berkah dalam kehidupan petani, terdapat beberapa kiat yang dapat dilakukan sejak awal proses budidaya.
Persiapan lahan yang baik menjadi langkah pertama. Lahan yang subur dan siap tanam akan mendukung pertumbuhan tanaman secara optimal.
Selanjutnya, pemilihan bibit unggul sangat menentukan hasil panen. Bibit yang berkualitas akan meningkatkan produktivitas dan ketahanan tanaman terhadap hama serta penyakit.
Perawatan intensif juga tidak boleh diabaikan. Penyiraman, pemupukan, dan pengendalian hama harus dilakukan secara rutin dan terukur.
Manajemen air yang baik menjadi faktor penting dalam budidaya padi, karena ketersediaan air yang cukup akan menunjang pertumbuhan tanaman secara maksimal.
Terakhir, panen harus dilakukan pada waktu yang tepat. Panen yang terlalu cepat atau terlalu lambat dapat memengaruhi kualitas dan kuantitas hasil.
Dengan dukungan kebijakan yang berpihak kepada petani, strategi pengelolaan yang tepat, serta kerja keras yang konsisten, panen raya diharapkan benar-benar menjadi momen yang membawa berkah.
Bukan hanya bagi petani sebagai pelaku utama, tetapi juga bagi ketahanan pangan nasional dan kesejahteraan masyarakat secara luas.
*) Entang Sastraatmadja adalah anggota Dewan Pakar DPN HKTI.







