OSOP Bukan Sekadar Produk, Rofinus Lamawato Tekankan Pembentukan Karakter dan Mental Tangguh Siswa
Apolonia Matilde February 10, 2026 08:19 AM

 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi

 

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Program One School One Product (OSOP) ditegaskan bukan sekadar mendorong sekolah menghasilkan produk untuk dijual, melainkan menjadi ruang pembelajaran yang membentuk karakter, mental tangguh, kreativitas, serta pola pikir kewirOSOPausahaan siswa.

Kepala Cabang Dinas (Cabdin) Pendidikan Wilayah 4 Provinsi NTT yang meliputi Kabupaten Lembata, Flores Timur, dan Sikka, Rofinus Laga Lamawato, menyebut,  pemahaman sebagian pihak yang menilai OSOP hanya sebatas aktivitas produksi di sekolah adalah keliru. 

Esensi utama OSOP, kata dia, justru terletak pada proses pembelajaran yang membentuk kepribadian siswa secara utuh. Sebab, peserta didik dituntut untuk menghasilkan sebuah produk tanpa merasa takut akan gagal. 

“OSOP itu bukan soal produknya. Produk itu urusan berikut. Yang utama adalah bagaimana siswa belajar membuat sesuatu, gagal, lalu mencoba lagi. Dari situ karakter dibentuk,” katanya, Senin (9/2/2026). 

Rofinus menjelaskan, siklus OSOP dimulai dari mimpi dan visi siswa. Peserta didik diajak menentukan apa yang ingin mereka ciptakan dan bagaimana mewujudkan ide tersebut menjadi karya nyata.

Dari visi itu, siswa dilatih menyusun perencanaan secara sistematis, mulai dari mencari referensi, membaca literatur, mempelajari teknik pembuatan, hingga memahami kebutuhan pasar secara sederhana.

“Semua dimulai dari literasi. Anak-anak membaca, mencari informasi, mengunduh referensi, mempelajari tulisan orang lain, lalu mempraktikkannya. Inilah real literasi,” kata Rofinus.

Ia menegaskan, kegagalan merupakan bagian penting dari proses OSOP. Dalam praktik, siswa kerap menghadapi berbagai kendala, mulai dari kemasan yang rusak, rasa produk yang belum sesuai, hingga desain yang kurang menarik.

“Di situ mereka belajar bangkit dan mencoba lagi. Dari proses itu mental tangguh dibangun,” katanya.

Tak hanya soal produksi, OSOP juga mengajarkan siswa memahami nilai ekonomi sebuah karya. Siswa dilatih membuat logo, membangun identitas produk, memperbaiki kemasan, hingga mempelajari teknik pemasaran sederhana.

“Ini bukan memindahkan sistem tata niaga ke sekolah. Tujuannya melatih cara berpikir dan pendewasaan siswa agar siap menghadapi kehidupan nyata,” ujar Rofinus.

Ia menekankan, OSOP berbeda dengan konsep One Village One Product yang berorientasi bisnis. OSOP lebih menitikberatkan pada pembentukan metodologi berpikir dan pengalaman praktis siswa.

“Yang dibangun adalah pola pikir. Dari ide, perencanaan, produksi, sampai bagaimana karya itu punya nilai,” katanya.

Rofinus menilai OSOP sangat relevan karena tidak semua lulusan SMA melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Melalui program ini, siswa memiliki alternatif keterampilan hidup yang nyata.

“Minimal mereka punya pengalaman menghasilkan sesuatu dan memahami prosesnya. Itu bekal penting dalam hidup,” ujarnya.

Program OSOP sendiri merupakan salah satu program strategis Gubernur dan Wakil Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena dan Johni Asadoma, sebagai bagian dari visi besar pembangunan sumber daya manusia NTT yang unggul, mandiri, kreatif, dan berdaya saing.

“Segala hal yang melatih karakter siswa, itulah OSOP yang sebenarnya,” kata Rofinus. (fan) 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.