TRIBUNJATENG.COM, JEPARA - Hobi sering kali menjadi titik awal perubahan dimulai. Begitu pun kesuksesan usaha ukir kaligrafi yang dihasilkan dari tangan dingin Noor Hadi (50), perajin ukir asal Desa Pedosawalan RT 09 RW 03, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara.
Dia menyulap rumah tinggalnya bersama keluarga menjadi tempat produksi Nur Art Kaligrafi Jepara. Sebuah brand ukir kaligrafi yang dikenalkan Noor Hadi sejak 1999. Meski sebelumnya tidak punya skill dalam hal ukir, lantas tak menyusutkan laki-laki 50 tahun tersebut membangun bisnis di bidang seni ukir.
Satu-satunya modal yang dia punya adalah sebuah hobi atau kebiasaan menulis. Mulai dari tulisan cerita, rangkuman pelajaran, hingga karya tulis kaligrafi menjadi makanan dia sewaktu usia sekolah.
Skill menulis kaligrafi menjadi satu dari berbagai tulisan dia yang paling menonjol. Bahkan dengan kebolehan itu, Noor Hadi sudah memiliki angan-angan menggunakan kemampuannya di bidang seni kaligrafi untuk mengembangkan usaha di usia remaja.
"Lulus sekolah, selesai mondok, enggak tahu ini mau apa. Waktu itu usia sekitar 25 tahun, maunya buat usaha kaligrafi apa ya. Enggak terpikir harus apa, ya sudah lah ikut orang dulu, kerja mengukir khas seninya Jepara," terangnya kepada Tribun Jateng, Minggu (08/02/2026).
Noor Hadi tak memiliki bakat pada bidang seni ukir. Keluarganya tidak ada yang terjun di bidang seni ukir. Pada 1999, dia mencoba bekerja sebagai karyawan pengusaha ukir, yang masih berskala kecil.
Dari situlah Noor Hadi mulai menata masa depan kehidupannya yang dibangun dari nol. Tanpa modal, namun bisa belajar langsung seni ukir dari ahlinya, dibayar pula sebagai karyawan.
"Saya kerja di bidang ukir selama setahun. Pada tahun 2000, saya keluar dan mendirikan usaha seni ukir sendiri, dengan spesifik pada ukir kaligrafi," ujar dia.
Mimpi besar Noor Hadi terkait hobinya di bidang seni kaligrafi, perlahan mendapat tempat. Dia lantas membangun Nur Art Kaligrafi Jepara, paduan keterampilan kaligrafi yang sduah dimiliki Noor Hadi, dirangkai seni ukir khas Kabupaten Jepara.
"Awalnya dekorasi kaligrafi yang saya tahu, dibuat dari bahan kuningan atau duplikat aluminium. Ini gak khas Jepara. Produk khas Jepara ya seni ukir kayu, enggak boleh ditinggalkan," celetuknya.
Tembus Pasar Dunia
Pada mulanya, Nur Art Kaligrafi Jepara dirintis seorang diri oleh Noor Hadi dengan modal terbatas. Satu per satu lembaran papan kayu diolah menjadi karya ukir kaligrafi. Di antaranya ukir ayat kursi, ayat seribu dinar, asmaul khusna, kalam ilahi, dan beberapa jenis ukiran kaligrafi lainnya.
Dari sebelumnya karya yang dihasilkan dalam hitungan jari setiap bulannya, kini Nur Art Kaligrafi Jepara mampu memproduksi 70 produk menggandeng 10 perajin ukir lokal daerah.
Pasar karya ukir kaligrafi Noor Hadi berkembang pesat dari skala daerah, nasional, dan kini sudah tembus mancanegara.
Beberapa permintaan datang dari Malaysia, Turki, Singapura, dan beberapa negara di Asia.
Harga jual karya ukir kaligrafi produksi Nur Art Kaligrafi Jepara dibanderol pada rentang harga Rp 500.000 hingga jutaan rupiah.
Produk terlaris yang paling diminati adalah ukir kaligrafi ayat kursi dan ayat seribu dinar dengan harga Rp 1,2 juta. Sementara karya ukir kaligrafi Asmaul Khusna dengan ukuran 1x2 meter persegi dibanderol Rp 7,5 juta.
"Produk kami menyesuaikan pesanan. Soal harga kami sesuaikan dengan ukuran dan tingkat kesulitan. Saat ini harga jual paling tinggi di angka Rp 9 juta," tuturnya.
Setiap tahunnya, Noor Hadi bisa mengirimkan puluhan produk permintaan dari mancanegara dengan berbagai ukuran dan jenis ukir kaligrafi.
Noor Hadi juga tidak ingin membuat karya ukir kaligrafi yang terlalu besar dan terlalu rumit karena nantinya berdampak pada harga jual yang terlampau tinggi. Dia ingin mengembangkan usaha yang bisa dinikmati masyarakat secara umum tanpa terkecuali.
"Produk ukir kami 100 persen kaligrafi. Kami hanya ingin usaha kecil kami bisa menjangkau pasar global dan bisa dikenal dunia. Sederhana namun mempunyai makna," harap dia. (Saiful Ma'sum)