TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Dua pemuda berinisial E (23) dan RP (20) terpaksa digelandang ke Mapolsek Denpasar Timur setelah kedapatan berpesta miras sambil membawa senjata tajam (sajam) di area publik Monumen Bajra Sandhi Denpasar, Bali.
Penangkapan ini menjadi sinyal keras bagi masyarakat bahwa jajaran Kepolisian Daerah (Polda) Bali tidak memberikan ruang bagi tindakan yang mengancam ketertiban umum, terutama menjelang momentum besar nasional.
Aksi nekat kedua pemuda ini terendus berkat laporan warga yang resah melihat sekelompok orang mengonsumsi minuman keras jenis arak di sebelah barat monumen, pada Minggu 8 Februari 2026, sekitar pukul 17.00 WITA.
Personel patroli gabungan yang menerima laporan segera melakukan penggeledahan.
Baca juga: Mabuk, Seorang Buruh Takuti Warga Dengan Sajam Di Desa Jumpai Bali, Terdapat Luka Pada Wajahnya
Hasilnya mengejutkan, petugas menemukan, satu bilah pisau dapur bergagang kuning dan satu bilah parang bergagang kayu.
"Kami mengimbau masyarakat agar tidak mengonsumsi miras di tempat umum, apalagi membawa sajam tanpa kepentingan sah. Ini berpotensi memicu tindak pidana dan akan kami proses tegas sesuai hukum," tegas Kapolsek Denpasar Timur, Kompol I Ketut Tomiyasa, pada Selasa 10 Februari 2026.
Aksi premanisme dan gangguan kamtibmas di Renon tersebut langsung direspon dengan penguatan patroli di titik-titik rawan lainnya.
Pada Sabtu malam sebelumnya, 7 Februari 2026, Satgas I Preemtif Ops Keselamatan Agung 2026 telah menyisir kawasan pertokoan di Jalan Gatot Subroto (Gatsu) Timur.
Dipimpin oleh AKP Adrian Rizki Ramadhan, petugas melakukan patroli dialogis dan aksi simpatik.
Langkah ini diambil untuk memastikan mobilitas masyarakat menjelang Idul Fitri 1447 H tetap aman dan terkendali.
"Kami ingin memastikan keselamatan bukan sekadar aturan, tapi kebutuhan utama masyarakat saat berkendara dan beraktivitas di ruang publik," ujar AKP Adrian.
Di balik ketegasan polisi mengamankan wilayah Bali, ternyata ada strategi unik untuk menjaga performa personel.
Guna menghadapi tekanan kerja yang tinggi selama Operasi Keselamatan Agung 2026, Bagian Psikologi Biro SDM Polda Bali memberikan pendampingan khusus.
Para petugas dibekali teknik relaksasi sederhana bernama Brain Gym "PACE".
Tujuannya agar emosi petugas tetap stabil dan fokus saat menghadapi pelanggar di lapangan atau situasi darurat. (*)