Netanyahu “Tekan” Trump Agar Tetap Menyerang Iran, Khawatir Negosiasi AS–Iran Berujung Damai
Ansari Hasyim February 10, 2026 12:35 PM

 

SERAMBINEWS.COM - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu diduga mempercepat kunjungannya ke Washington untuk melobi Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar tetap mempertahankan opsi militer terhadap Iran.

Langkah ini muncul di tengah kekhawatiran Netanyahu bahwa pembicaraan langsung AS–Iran yang kembali dibuka dapat berakhir pada kesepakatan damai baru.

Netanyahu awalnya dijadwalkan tiba di ibu kota AS pada 19 Februari, bertepatan dengan agenda Trump menjadi tuan rumah pertemuan perdana “Dewan Perdamaian” yang dibentuk pasca-kesepakatan gencatan senjata Gaza.

Namun, waktunya diyakini dimajukan seiring dimulainya kembali perundingan AS–Iran di Oman pekan lalu, pertemuan yang bahkan dinilai Trump sebagai “sangat bagus”.

Menurut Guy Ziv, pakar politik Israel dan profesor di American University, Iran selalu menjadi prioritas utama Netanyahu, melampaui isu Palestina dan konflik regional lainnya.

“Iran selalu menjadi perhatian nomor satu Netanyahu atas masalah Palestina dan semua masalah lainnya,” kata Ziv kepada Middle East Eye

Ziv menilai Netanyahu khawatir Trump akan kembali condong pada diplomasi, sebagaimana perjanjian nuklir Iran (JCPOA) yang diteken era Barack Obama.

Netanyahu sebelumnya mengklaim berperan besar dalam meyakinkan Trump keluar dari JCPOA pada 2018.

“Netanyahu takut Trump bisa saja mendukung kesepakatan baru dengan Iran,” ujar Ziv.

Dorong Perluasan Syarat Perjanjian Nuklir

Netanyahu disebut ingin memastikan setiap kesepakatan baru tidak hanya membatasi program nuklir Iran, tetapi juga mencakup rudal balistik—isu yang tidak diatur dalam JCPOA dan dianggap Israel sebagai “garis merah”.

Baca juga: Iran Bersedia Cairkan 60 Persen Uranium untuk Buat Bom Nuklir jika AS Cabut Seluruh Sanksi

Perundingan terakhir di Oman melibatkan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan utusan khusus AS Steve Witkoff, dengan kehadiran tak biasa dari menantu Trump, Jared Kushner.

Trump bahkan mengirim komandan tertinggi militer AS di Timur Tengah, yang ditafsirkan sebagai sinyal bahwa opsi serangan militer tetap terbuka.

Namun, Trita Parsi dari Quincy Institute menilai tuntutan Israel justru dirancang untuk menggagalkan kesepakatan.

“Tuntutan nol pengayaan sebelumnya adalah pil racun. Sekarang mereka menambahkan pembatasan rudal, karena tahu Iran tidak akan pernah menerimanya,” kata Parsi.

Ia menegaskan rudal balistik merupakan satu-satunya alat pencegah yang tersisa bagi Iran terhadap Israel, terutama setelah perang 12 hari pada Juni lalu yang menewaskan lebih dari 1.100 warga Iran dan berujung pada pemboman AS terhadap tiga fasilitas nuklir Iran.

Jejak Netanyahu di Gedung Putih

Setiap pertemuan Netanyahu dengan Trump kerap meninggalkan dampak kebijakan.

Pada pertemuan terakhir mereka di Florida, Desember lalu, Trump mulai menyinggung pembatasan rudal Iran—isu yang sebelumnya tidak menjadi fokus utamanya.

Di sisi lain, kunjungan ini juga sarat kepentingan politik domestik.

Israel dijadwalkan menggelar pemilu pada Oktober, meski ada kemungkinan dipercepat. Masa depan politik Netanyahu disebut semakin tidak pasti.

“Trump masih sangat populer di Israel. Berdiri di samping Trump justru menguntungkan Netanyahu,” kata Ziv.

Netanyahu juga diyakini ingin menghindari tampil bersama pemimpin yang dianggap “musuh Israel” dalam forum Dewan Perdamaian, seperti Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan atau Emir Qatar Sheikh Tamim al-Thani.

Gaza dan Palestina Jadi “Alat Tukar”?

Di tengah manuver diplomatik ini, situasi di Gaza terus memburuk. Sejak Trump mengumumkan gencatan senjata pada 10 Oktober, sedikitnya 581 warga Palestina tewas.

Total korban sejak Oktober 2023 mencapai lebih dari 72.000 orang, menurut otoritas kesehatan Gaza.

Khaled Elgindy, mantan penasihat negosiator Palestina, menilai Trump lebih mengejar sensasi politik ketimbang realitas di lapangan.

Elgindy dan Parsi sama-sama menilai Palestina hampir tidak masuk dalam kalkulasi strategis pemerintahan Trump.

“Warga Palestina adalah non-faktor dalam pemikiran pemerintahan Trump,” tegas Elgindy.

Menurut para analis, Trump bisa saja tetap bersikap keras terhadap Iran demi basis politiknya, sambil “memberi hadiah” kepada Netanyahu di Gaza atau Tepi Barat—wilayah yang relatif tidak mendapat perhatian besar dari pendukung Trump di dalam negeri.

Namun, seperti kebijakan luar negeri Trump lainnya, arah akhirnya tetap sulit diprediksi.

“Dia tidak beroperasi berdasarkan kerangka ideologis. Dia mengikuti instingnya,” tutup Elgindy.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.