TRIBUNJAKARTA.COM - Pengamat transportasi sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, menegaskan bahwa pemerintah wajib bertanggung jawab atas kecelakaan lalu lintas yang disebabkan oleh jalan berlubang.
Menurutnya, kasus korban meninggal akibat jalan rusak bukan peristiwa insidental, melainkan masalah berulang yang kerap terjadi, terutama di musim hujan.
Djoko menjelaskan, jalan berlubang umumnya dipicu oleh lemahnya konstruksi, muatan kendaraan yang berlebihan, serta buruknya sistem drainase.
Kondisi ini menyebabkan air menggenang dan mempercepat kerusakan jalan.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul tewasnya seorang pelajar akibat kecelakaan di jalan berlubang di Jakarta.
Ia pun turut menyoroti kelalaian penyelenggara jalan dalam menjamin keselamatan pengguna jalan.
"Jalan rusak itu bisa disebabkan tiga hal: pertama karena kondisi konstruksi jalannya, kedua karena muatan berlebihan, dan ketiga karena tidak ada drainase. Kalau air menggenang, jalan itu mudah rusak," katanya, dikutip dari YouTube KompasTV.
Menurutnya, pemerintah harus bertanggung jawab jika terjadi kecelakaan akibat jalan berlubang.
Untuk jalan nasional yang bertanggung jawab pemerintah pusat, sedangkan jalanan di provinsi dibebankan ke Gubernur serta Bupati atau Wali Kota.
"Masyarakat berhak melaporkan kalau ada kejadian yang menyebabkan korban untuk menuntut pada penyelenggara jalan."
"Penyelenggara jalan harus menyisir kondisi jalan. Jika tidak bisa langsung diperbaiki, harus diberikan rambu atau spanduk informasi agar warga hati-hati," lanjutnya.
Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung langsung memerintahkan perbaikan seluruh jalan berlubang di Ibu Kota meski bersifat sementara.
Instruksi tersebut disampaikan Gubernur Pramono sebagai langkah darurat untuk mencegah kejadian serupa terulang, terutama di tengah kondisi cuaca yang masih tidak menentu.
“Agar hal serupa tidak terjadi kembali di Jakarta, saya sudah memerintahkan Kepala Dinas Bina Marga supaya semua jalan-jalan yang berlubang untuk ditutup walaupun bersifat temporary,” ucapnya di Balai Kota Jakarta, Gambir, Senin (9/2/2026).
Pramono mengakui, tingginya curah hujan membuat kondisi jalan di sejumlah titik menjadi licin dan rusak, sehingga meningkatkan risiko pagi pengguna jalan.
Karena itu, penanganan cepat terhadap jalan berlubang dinilai menjadi langkah penting demi keselamatan warga Jakarta.
“Walaupun sampai dengan tanggal 18-19 Februari itu curah hujannya masih tidak menentu, kadang-kadang tinggj,” ujarnya.
Selain memerintahkan penutupan jalan berlubang, Pramono juga meminta jajarannya aktif mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati saat melintas di ruas jalan yang masih terdampak kerusakan.
“Dan kami meminta untuk masyarakat berkali-kali diingatkan, mulai Dinas Kominfotik Jakarta, sekarang ini memang ada beberapa ruas jalan yang berlubang dan itu mohon kehati-hatian,” tuturnya.
Sebelumnya, kecelakaan maut terjadi di Jalan Matraman Raya, Jakarta Timur pagi tadi sekira pukul 06.00 WIB.
Seorang pelajar SMK 34 Jakarta bernama Aldi Surya Putra tewas usai jatuh dari sepeda motor akibat jalan rusak.
Duka cita mendalam pun disampaikan Gubernur Pramono Anung atas tewasnya remaja tersebut.
“Saya mewakili Provinsi DKI Jakarta turut berduka cita atas wafatnya ananda Aldi Surya Putra, siswa SMK 34 Jakarta yang mengalami kecelakaan tunggal lalu lintas pada pagi ini,” tuturnya.
Gubernur Pramono Anung pun mengungkap detik-detik kecelakaan maut yang terjadi pagi tadi itu.
Kondisi jalan rusak dan kecepatan tinggi menjadi kombinasi mematikan dalam insiden tersebut.
“Kami sudah memantau hasil CCTV. Penyebab kecelakaan adalah jalanan yang licin dan berlubang, lalu dilalui dengan kecepatan yang tinggi. Jadi ini kecelakaannya tunggal,” tuturnya.