Usai 2 Putra Mendiang PB XIII Berebut Takhta Keraton Solo, Tedjowulan Ditunjuk Kelola Dana Hibah
Eri Ariyanto February 10, 2026 01:03 PM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Polemik perebutan takhta Keraton Solo antara dua putra mendiang PB XIII akhirnya memasuki babak baru.

Di tengah konflik internal yang berkepanjangan, sosok KGPHPA Tedjowulan resmi ditunjuk untuk mengelola dana hibah Keraton Surakarta.

Penunjukan ini menjadi langkah strategis guna menjaga keberlangsungan operasional keraton sekaligus meredam ketegangan pascasengketa kepemimpinan.

Keraton Kasunanan Surakarta kini tengah mempersiapkan pembentukan organisasi baru yang akan menerima dan mengelola dana hibah selepas penunjukkan KGPHPA Tedjowulan sebagai pelaksana.

Pembentukan organisasi tersebut dilakukan bersama Lembaga Dewan Adat (LDA).

Ketua LDA, GKR Koes Moertiyah Wandansari, menjelaskan bahwa proses pembentukan organisasi saat ini masih berjalan dan telah memasuki tahap lanjutan.

Proses Pembentukan Organisasi Baru

Menurut Gusti Moeng, secara konsep organisasi tersebut sebenarnya sudah ada dan tinggal dimatangkan melalui sejumlah penyesuaian.

“Sebetulnya clongkrongannya sudah ada. Tinggal memastikan ini Gusti Tedjo baru ke Jakarta. Yang kita rembug direvisi. Sudah ada reng-rengannya,” jelasnya saat ditemui di Sasana Handrawina, Senin (9/2/2026).

Organisasi baru ini nantinya akan bertugas membantu KGPHPA Tedjowulan dalam mengelola dana hibah yang diterima Keraton Kasunanan Surakarta.

Maha Menteri Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Kangjeng Gusti Panembahan Agung (KGPA) Tedjowulan. Sosok KGPA Tedjowulan, adik Pakubuwono XIII dan Mahamenteri Keraton Solo, kini menjadi Plt Raja Keraton Kasunanan Surakarta usai wafatnya PB XIII.
Maha Menteri Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Kangjeng Gusti Panembahan Agung (KGPA) Tedjowulan. Sosok KGPA Tedjowulan, adik Pakubuwono XIII dan Mahamenteri Keraton Solo, kini menjadi Plt Raja Keraton Kasunanan Surakarta usai wafatnya PB XIII. (KOMPAS.com/Pemkot Solo)

Tidak Tumpang Tindih dengan Lembaga Keraton

Gusti Moeng menegaskan bahwa organisasi tersebut tidak akan berbenturan dengan struktur lembaga yang telah ada di lingkungan keraton.

Ia juga menekankan bahwa organisasi ini berbeda dengan LDA.

“Pastinya tidak tumpang tindih dengan bebadan yang ada di keraton. Bukan LDA. LDA ini sebetulnya badan hukum yang memayungi keraton dalam kehidupan negara,” tuturnya.

Dengan demikian, organisasi baru ini akan memiliki peran dan fungsi tersendiri tanpa mengganggu kelembagaan yang sudah berjalan.

Target Rampung Sebelum Ramadhan

Pembentukan organisasi ditargetkan rampung sebelum memasuki bulan Ramadhan.

Saat ini, proses pembentukan disebut telah mencapai sekitar 75 persen.

“Pastinya semua yang bekerja ditambah sentono yang belum masuk dianggap dibutuhkan yang mereka mampu. 75 persen. Saya minta sebelum masuk bulan Ramadhan sudah selesai,” jelas Gusti Moeng.

Apabila organisasi dapat terbentuk sesuai target, pencairan dana hibah berpeluang dilakukan pada triwulan pertama tahun ini.

“Kalau anggaran April triwulan akan dicairkan ini bisa nututi atau tidak,” tutur Gusti Moeng.

(TribunNewsmaker.com/TribunSolo.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.