Cerita SMPN 1 Tarakan Siswa Pernah Temukan MBG Basi, Sekolah Langsung Koordinasi dengan SPPG
Junisah February 10, 2026 04:14 PM

TRIBUNKALTARA.COM,TARAKAN- Hampir setahun pelaksanaan program makan bergizi gratis (MBG) di Tarakan, SMPN 1 Tarakan, salah satu sekolah di Kalimantan Utara yang menjadi penerima manfaat. 

Total ada1.040 siswa dan 71 guru termasuk tenaga kependidikan dan non kependidikan yang mendapatkan MBG. Program MBG di SMPN 1 Tarakan telah berjalan sejak September 2025 untuk siswa dan guru termasuk tenaga pendidikan dan non pendidikan baru sebulan lalu. Jadi total yang disalurkan ada 1.111 ompreng. 

Kepala SMPN 1 Tarakan, Mohammad Rachmat mengungkapkan, selama berjalannya MBG, keluhan tidak ada hanya, siswa minta menu makanan divariasikan, seperti telur, ayam dan ikan.

"Jadi kayak ayam katsu, lalu ikan dijadikan katsu, suka sekali mereka. Nah kemarin juga menunya enak ada sup kalau tidak salah. Kalau keluhan alhamdulillah tak ada, nauzubillaminzalik jangan sampai ada anak kami alami," ungkap Mohammad Rachmat.

Baca juga: Setahun BerJalan, DPRD Tarakan Sebut Sekolah di Pesisir Belum Tersentuh MBG, Ada 20 SD dan 10 SMP

Terkait permintaan siswa, saat kunjungan DPRD Tarakan, seperti air minum ditambah, sebenarnya di SMPN 1 Tarakan sudah menyediakan air minum 5 hingga 7 galon sehari. Namun jika siswa ingin bawa air minum dari rumah diperbolehkan. 

Bahkan sebelum MBG dibagikan kepada siswa, para  guru atau petugas sudah terlebih dahulu mengecek dari aroma dan lainnya. Hal ini dikarenakan pernah ada siswa temukan MBG basi saat dicium aromanya, jadi pihaknya langsung berkoordinasi ke pihak SPPG.

"Parkedel sepertinya mungkin terlalu cepat dimasak. Anak-anak yang temukan. Tapi tidak semua. Kami langsung ke pihak dapur dan langsung diganti, diperbaiki. Karena tiap hari diawasi oleh petugas. Mereka selalu hadir setiap hari. Saat basi langsung besok didouble. Gak semua basi hanya beberapa siswa sih," ujarnya.

Dengan adanya kejadian ini, petugas SPPG bagian pengawas langsung turun ke lapangan saat pengantaran sampai selesai dan menghitung jumlah MBG.

"Kami selalu ingatkan SPPG jangan sampai seperti tempat lain. Yah paling keluhan anak-anak ditampung. Nasi udah banyak ya mungkin lauknya dibanyaki, buahnya divariasi. Sayurnya juga. Susah juga agak banyak kuah karena ompreng," ujarnya.

TINJAU MBG - Anggota DPRD Tarakan komisi II kunjungan melakukan uji petik di SMPN 1 melihat pendistribusian MBG.
TINJAU MBG - Anggota DPRD Tarakan komisi II kunjungan melakukan uji petik di SMPN 1 melihat pendistribusian MBG. (TribunKaltara.com/Andi Pausiah)

Pengantaran MBG di SMPN 1 Tarakan dimulai pukul 11.00 WITA dan nanti MBG dimakan setelah istirahat salat Zuhur. Alasan dikasih setelah salat Zuhur dikhawatirkan saat diberikan pukul 11.00 Wita para siswa tidak salat Zuhur.

Saat makan para siswa ada yang pakai tangan yang sudah dicuci bersih atau pun sendok yang dibawa dari rumah. Untuk makannya di berbagai tempat ada di kelas, koridor hingga di lapangan, sesuai kenyamanan siswa yang tentunya dengan didampingi masing-masing wali kelas.

Setelah selesai MBG, ompreng kembalj diikat per lima pieces. Baru nanti petugas mengambil di sini. "Anak-anak jemput ke mobil yang tiba diambil bawa kelas lalu mereka kembalikan lagi di tempat pengambilan sebelum dijemput petugas SPPG. Sederhana saja," ujarnya.

Diakui Mohammad Rachmat, masih ada mpreng diletakkan di bawah. Syaratnya harusnya ada meja. Namun pihaknya belum memiliki meja sehingga masih menggunakan ruang yang sudah disiapkan.

"Jadi untuk atasi kebersihan, setiap hari lantai dipel tapi sudah disiapkan juga nanti untuk meja dari bagian sarpras," tukasnya.

.(*)

Penulis: Andi Pausiah

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.