TRIBUNGORONTALO.COM — Seorang mahasiswi tak kuasa menahan tangis saat bertemu Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Luthfie Sulistiawan setelah tertangkap mencuri ponsel. Ia mengaku nekat melakukan aksi tersebut karena kesulitan ekonomi.
Peristiwa itu diunggah melalui akun Instagram Kapolrestabes Surabaya @luthfie.daily yang menampilkan momen pertemuan antara mahasiswi, korban pencurian, serta pihak kepolisian.
Dalam pertemuan tersebut, mahasiswi yang didampingi ibunya mengakui perbuatannya.
Baca juga: Gorontalo "Menyala" di RUPS BSG 2026, Dapat Kursi Komisaris hingga Direksi
Ia menyampaikan bahwa kondisi ekonomi membuatnya mengambil keputusan yang salah.
Saat dimintai keterangan, Kapolrestabes Surabaya menanyakan alasan di balik tindakan tersebut.
“Terpaksa apa gimana kok sampai (mencuri)?” tanya Luthfie.
Mahasiswi itu pun menjawab singkat.
“Nggak ada uang,” ujarnya.
Dalam proses mediasi, Kapolrestabes kemudian menanyakan sikap korban terkait penyelesaian kasus tersebut.
Korban memilih menyelesaikan persoalan secara kekeluargaan.
Baca juga: Libur Sekolah Belum Pasti, Ortu Siswa Gorontalo Keluhkan Jadwal Pulkam Terganggu
“Iya, diselesaikan secara kekeluargaan, Pak,” kata korban.
Mendengar keputusan itu, mahasiswi langsung memohon maaf sambil menangis.
Sang ibu yang mendampingi juga tampak ikut meneteskan air mata.
“Maaf ya, Mbak,” ucap mahasiswi kepada korban.
Dalam percakapan tersebut, terungkap kondisi ekonomi mahasiswi yang memprihatinkan.
Ia mengaku hanya memiliki uang Rp200 ribu untuk memenuhi kebutuhan hidup selama satu bulan.
Kapolrestabes sempat menanyakan bagaimana ia bertahan dengan uang tersebut.
“Rp200 ribu per bulan cukup emang, gimana caranya? Masak nggak?” tanya Luthfie.
Mahasiswi menjelaskan dirinya hanya memasak nasi dengan lauk sederhana.
“Telur dadar sama mi,” jawabnya.
Diketahui, ibu mahasiswi tersebut merupakan ibu rumah tangga, sedangkan ayahnya bekerja sebagai buruh tani.
Meski berada dalam kondisi ekonomi sulit, mahasiswi itu memiliki prestasi akademik yang baik.
Ia menyebut Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang diperolehnya mencapai 3,85.
“IPK 3.85. Nggak tahu kok tiba-tiba kepikiran nyuri,” katanya.
Kapolrestabes Surabaya menyebut capaian akademik tersebut sangat baik dan menyayangkan keputusan yang diambil mahasiswi itu.
Setelah mendengar cerita lengkap, Luthfie menunjukkan empati dengan memberikan bantuan biaya hidup kepada mahasiswi tersebut, termasuk untuk kebutuhan kos.
“Berjanji tidak lagi mengulangi hal itu. Nanti saya bantu biaya kosan dan lain-lain ya,” ujar Luthfie.
Mahasiswi itu pun menyampaikan terima kasih atas bantuan yang diberikan.
“Makasih, Pak,” katanya.
Di akhir pertemuan, Kapolrestabes berpesan agar mahasiswi tersebut tetap fokus menyelesaikan pendidikan dan membantu perekonomian keluarganya di masa depan.
“Bantu orang tua sama adiknya ya,” pesan Luthfie. (*)