TRIBUNPEKANBARU.COM, SIAK - Harimau Sumatra masih berkeliaran di Kampung Benteng Hulu, Kecamatan Mempura, Kabupaten Siak.
Hal itu memicu keresahan warga.
Masruri, warga yang kambingnya dimangsa harimau mengaku kecewa terhadap kinerja Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau.
Ia menilai lembaga ini belum memberi rasa aman bagi masyarakat.
Masruri, mengatakan kamera trap yang dipasang BBKSDA Riau di sekitar kandang kambingnya tidak berfungsi.
Ia mengungkapkan, alat tersebut bahkan tidak merekam aktivitas apa pun selama beberapa hari terakhir sebelum kejadian lanjutan.
“Tidak membantu sama sekali, Pak. Karena ini hanya kamera trap. Kami sempat percaya saja, tapi ternyata tidak merekam padahal harimaunya datang ke sini sebelum terekam CCTV rumah sebelah,” ujar Masruri, Selasa (10/2/2026).
Baca juga: Penghulu Kampung Benteng Hulu Dipanggil Kejari Siak
Ia menyebutkan, setelah menunggu petugas yang memasang kamera, dirinya sempat menanyakan hasil perekaman.
Namun, petugas menyampaikan bahwa kamera tersebut sudah tidak merekam sejak tiga hari sebelum kejadian.
“Efeknya ya tidak ada apa-apanya. Rasa was-was tetap ada. Keluarga juga masih takut,” katanya.
Menurut Masruri, selain pemasangan kamera trap, ia tidak mengetahui langkah konkret lain yang dilakukan petugas BBKSDA Riau di lapangan.
Ia menilai kehadiran petugas belum berdampak signifikan dalam mengurangi kekhawatiran warga.
“Kami hanya disuruh waspada dan jaga-jaga sendiri. Sementara harimau masih ada,” ujarnya.
Masruri berharap pihak berwenang, khususnya BBKSDA Riau, dapat meningkatkan penanganan terhadap keberadaan harimau tersebut.
Ia menegaskan keresahan tidak hanya dirasakan dirinya, tetapi juga warga lain yang beraktivitas di kebun dan ladang.
“Bukan saya saja yang resah. Warga lain juga takut. Mau cari makan jadi was-was,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Teknis BBKSDA Riau Ujang Holisuddin mengatakan memang kamera trap yang dipasang belum menghasilkan apa-apa. Sebab kamera trap yang dipasang sejak 23 Januari 2026, sehingga berkemungkinan memori internalnya penuh.
“Jadi setiap yang bergerak ditangkap sama kamera trap karena waktunya panjang mungkin penuh, tapi petugas sudah turun kembali untuk mengosongkan memori,” katanya.
Ujang menambahkan pihaknya telah menambah satu kamera lagi.
Total kamera yang dipasang di Benteng Hulu menjadi tiga kamera.
“Kami juga melakukan mitigasi, saat ini melacak jejak, kita lihat beberapa hari ke depan, bisa saja kita pasang kandang jebak,” katanya.
Sementara itu, Pemerintah Kecamatan Mempura telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 300/Kec.MPR-Trantib/4 tertanggal 9 Februari 2026 tentang kewaspadaan terhadap ancaman hewan buas.
Dalam surat edaran tersebut disebutkan, kemunculan hewan buas di wilayah Kecamatan Mempura ditandai dengan temuan jejak tapak kaki yang diduga harimau, keterangan saksi, serta rekaman video warga.
Hewan tersebut juga dilaporkan telah memangsa ternak warga di Kampung Benteng Hulu.
Camat Mempura Harland mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan, tidak beraktivitas sendirian di malam hari, serta menghindari pergi ke kebun atau hutan seorang diri.
“Warga juga diminta tidak melakukan tindakan yang dapat membahayakan satwa, seperti menembak atau memasang jerat, serta segera melaporkan setiap informasi keberadaan hewan buas kepada aparat terkait,” ujarnya.
Surat edaran tersebut diterbitkan sebagai langkah antisipasi untuk menjaga keselamatan warga sekaligus mencegah konflik antara manusia dan satwa liar di wilayah Kecamatan Mempura.
(tribunpekanbaru.com/mayonal putra)