TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau memastikan ketersediaan bahan pangan pokok (bapok) di wilayah Riau dalam kondisi aman menjelang Ramadan hingga Idulfitri 2026.
Kepastian awal ini disampaikan jelang pelaksanaan rapat koordinasi Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) yang dalam waktu dekat akan digelar bersama Forkopimda dan instansi terkait.
Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM Provinsi Riau, M Taufiq OH, mengatakan rapat koordinasi HBKN direncanakan berlangsung sekitar sepekan sebelum Ramadan.
Rapat tersebut akan menjadi forum untuk memfinalkan kondisi stok, harga, serta langkah pengendalian inflasi di Riau.
“Dalam waktu dekat kita akan menggelar rapat koordinasi HBKN dengan Forkopimda. Targetnya seminggu menjelang Ramadan. Dari pantauan awal, kondisi bahan pokok aman,” ujar Taufiq, Selasa (10/2/2026).
Ia menyebutkan, secara makro kondisi inflasi di Riau menunjukkan tren yang membaik. Saat ini inflasi berada di angka 4,4 persen dan cenderung menurun.
Beberapa komoditas yang sebelumnya sempat mengalami lonjakan harga, seperti cabai, kini mulai berangsur turun.
“Inflasi kita 4,4 persen dan trennya turun. Harga cabai yang sebelumnya tinggi sekarang sudah menurun. Ketersediaan bahan pokok juga relatif aman,” jelasnya.
Baca juga: Harga Ayam dan Ikan Menggila Jelang Ramadhan, Warga Pekanbaru: Gak Pernah Turun Lagi
Baca juga: Harga Cabai di Kuansing Meroket Sepekan Jelang Ramadan 2026
Taufiq menegaskan, stok komoditas strategis seperti beras dan minyak goreng saat ini dalam kondisi mencukupi. Gangguan pasokan yang sempat terjadi beberapa waktu lalu akibat kendala distribusi dari daerah penghasil, kini mulai teratasi seiring dibukanya kembali jalur logistik.
“Beras tersedia, minyak goreng juga ada. Jalur logistik dari daerah penghasil sudah kembali normal. Selain itu, kita juga mendatangkan pasokan dari Sleman dan Yogyakarta,” katanya.
Berdasarkan hasil pemantauan harga di lapangan, tren harga bahan pokok masih tergolong normal. Meski demikian, ia mengakui masih terdapat beberapa titik dengan harga yang relatif lebih tinggi. Seluruh temuan tersebut akan dibahas dan difinalkan dalam rapat koordinasi HBKN mendatang.
“Nanti finalnya akan kita sampaikan dalam rapat koordinasi. Ada beberapa titik yang harganya masih tinggi, tapi secara umum trennya normal,” ujarnya.
Pemprov Riau juga memberi perhatian khusus pada wilayah kepulauan dan daerah terpencil, seperti Kabupaten Kepulauan Meranti. Untuk wilayah tersebut, ketersediaan beras dipastikan aman. Namun, pasokan minyak goreng masih kerap mengalami kekurangan.
“Untuk daerah terpencil seperti Meranti, beras aman. Hanya minyak goreng yang memang agak terganggu dan sering kurang. Mereka sudah menyurati kami,” ungkap Taufiq.
Menindaklanjuti hal itu, Pemprov Riau telah berkoordinasi dengan Bulog guna mengatur distribusi minyak goreng ke daerah tersebut. Langkah ini dilakukan sebagai upaya antisipasi lonjakan permintaan saat Ramadan.
“Permintaan pasti akan meningkat saat Ramadan. Karena itu, kita sudah koordinasi dengan Bulog supaya distribusinya bisa diatur. Kalau diperlukan, nanti kita akan gelar pasar murah di sana,” tegasnya.
Selain memastikan ketersediaan stok, Pemprov Riau juga menyiapkan berbagai langkah pengendalian harga, termasuk operasi pasar dan pasar murah. Upaya ini bertujuan menjaga stabilitas harga sekaligus melindungi daya beli masyarakat menjelang bulan suci Ramadan dan Idulfitri 2026.
M Taufiq OH, menegaskan stok bahan pangan strategis, khususnya beras, berada dalam kondisi sangat mencukupi.
“Untuk enam bulan ke depan, insya Allah aman. Terutama beras. Itu yang paling utama,” ujarnya.
Menurut Taufiq, hasil evaluasi terakhir menunjukkan stok beras di Riau cukup kuat untuk menghadapi potensi lonjakan permintaan pada momentum hari besar keagamaan.
Meski demikian, Pemprov Riau tetap memberi perhatian khusus pada sejumlah komoditas lain.
Seperti cabai, bawang, gula, dan minyak goreng.
Komoditas tersebut dinilai masih rentan mengalami fluktuasi harga.
Pengaruhnya berasal dari mekanisme pasar, faktor cuaca, hingga gangguan distribusi antarwilayah.
Untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) menggelar operasi pasar murah.
Kegiatan ini dilaksanakan pada pekan kedua Februari 2026 di lima lokasi di Kota Pekanbaru dan Kampar.
“Melalui operasi pasar murah ini, kami ingin memastikan ketersediaan bahan pokok, kelancaran distribusi, serta menjaga kestabilan harga jelang Ramadan dan Idulfitri,” katanya.
( Tribunpekanbaru.com / Syaiful Misgiono)