Tribunlampung.co.id Lampung Tengah - Petani di Kabupaten Lampung Tengah bertahan menghadapi cuaca ekstrem dan serangan hama saat memasuki musim panen Masa Tanam Satu (MT I).
Hal tersebut dialami Suyadi, petani asal Kampung Adi Jaya, Kecamatan Terbanggi Besar, Lampung Tengah. Ia mampu mempertahankan lahan seluas seperempat hektare meski sempat terserang hama sundep.
Suyadi mengatakan, ia menyadari tanaman padinya terserang hama sundep pada masa awal tanam atau setelah pemupukan pertama.
"Cuaca ekstrem cukup mengganggu proses budidaya, tapi tidak begitu berpengaruh. Justru serangan hama sundep ini yang menjadi kendala utama," kata Suyadi, Selasa (10/2/2026).
Ia menjelaskan, serangan sundep ditandai dengan pucuk daun yang mati, layu, berwarna cokelat, kering, dan mudah dicabut.
Baca juga: Takut Terlambat, Siswa Terpaksa Melintasi Jembatan Rusak di Way Pengubuan Lampung Tengah
Hama tersebut menyebabkan tanaman padi menjadi kerdil bahkan mati karena larva merusak jaringan di dalam batang.
Beruntung, Suyadi mendapatkan solusi ketika ia dan petani lain yang terdampak sundep memperoleh bantuan insektisida.
"Alhamdulillah, saat terkena sundep kami langsung mendapat bantuan insektisida. Dengan penyemprotan minimal sehari dua kali, hama itu bisa diatasi dan sekarang kami sudah mulai panen," ujarnya.
Terkait produktivitas, Suyadi menyebut hasil panen padinya mencapai 1,5 ton per seperempat hektare pada MT I. Pada MT II, produksinya menurun menjadi 1 ton per seperempat hektare, kemudian kembali meningkat menjadi 1,5 ton per seperempat hektare pada MT III.
Ia menduga penurunan produktivitas pada musim tanam kedua disebabkan oleh cuaca ekstrem yang menghambat proses budidaya.
"Kemungkinan karena cuaca, makanya ada penurunan di musim tanam kedua. Tapi alhamdulillah, kami masih bisa tanam tiga kali dalam setahun," katanya.
Ia menambahkan, dari tiga musim tanam tersebut, modal per hektare mencapai sekitar Rp12 juta, dengan hasil penjualan panen sekitar Rp 30 juta.
Suyadi mengatakan, harga gabah saat ini terbilang stabil dan konsisten. Hasil panen dari sawah langsung diangkut oleh agen untuk kemudian disalurkan ke Bulog.
Harga gabah dari agen ke petani berada di kisaran Rp 6.300 hingga Rp 6.400 per kilogram.
"Harga segitu sudah lumrah bagi kami, mungkin karena ada potongan dari agen untuk upah kuli dan biaya lainnya," ujarnya.
Selain itu, Suyadi mengaku sarana penunjang budidaya pertanian tergolong lancar, mulai dari ketersediaan pupuk, obat-obatan, hingga kebutuhan air. Ia menyebut sawah yang dikelolanya merupakan sawah irigasi.
Ia berharap ke depan kesejahteraan petani dapat meningkat demi terwujudnya swasembada pangan.
"Harapannya ke depan petani bisa terus maju dan berkembang dari semua sektor, tidak hanya satu sisi saja, tapi secara keseluruhan supaya kita bisa berdikari," tutupnya.
( TRIBUNLAMPUNG.CO.ID / Fajar Ihwani Sidiq )