Kementerian Pendidikan China meluncurkan pedoman pendidikan STEM di sekolah dasar dan menengah sejak 12 November 2025 lalu. Tujuannya agar siswa di China terbiasa berpikir seperti ilmuwan dan berpraktik seperti insinyur.
"Pada 2030, sistem pendidikan sains yang terstruktur pada dasarnya harus dibentuk di sekolah-sekolah, dengan peningkatan lebih lanjut dalam kurikulum, metode pengajaran, mekanisme evaluasi, dan pelatihan guru," kata Tian Zuyin, direktur departemen pendidikan dasar kementerian, dikutip dari China Daily.
"Memupuk literasi sains adalah proses bertahap dan koheren," imbuhnya.
Memperbanyak Praktik STEM
Dalam pedoman tersebut, sekolah akan memberi praktik pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan kognitif siswa. Misalnya, untuk SD tingkat bawah fokusnya adalah pada pembelajaran berbasis pengalaman dan membangkitkan rasa ingin tahu, sedangkan untuk SD tingkat atas tentang pemahaman konseptual dan eksplorasi langsung.
Kemudian untuk tingkat SMP, fokus pada penyelidikan praktis dan penerapan teknis seputar masalah dunia nyata. Sementara untuk SMA, fokus pada penelitian eksperimental dan praktik rekayasa menjadi fokusnya, yang memperkenalkan siswa pada kemajuan mutakhir.
"Kami sering bertanya kepada anak-anak saat kunjungan lapangan, 'Apa mata pelajaran favoritmu?' Dulu mereka menjawab pendidikan jasmani. Kami berharap di masa depan mereka akan menjawab sains," kata Tian.
Eksperimen Sains Botol Plastik di Tingkat SD
Salah satu praktik sains dilakukan di Xixing Experimental Primary School, dengan benda sederhana. Seorang siswa kelas 5, Xia Jun'an, membuktikan bahwa belajar sains bisa seseru merakit jam air dari botol plastik, terinspirasi dari teknik pengukuran waktu kuno.
Dalam proyek itu, Jun'an dan teman-temannya harus memilih antara jam air tipe 'aliran keluar' atau 'aliran masuk'. Setelah diskusi kelompok dan revisi sketsa berulang kali, mereka memutuskan membuat model tipe 'aliran masuk' dengan bahan sederhana seperti botol plastik, mereka melubangi tutup botol dan merakit bagian-bagiannya.
Tantangan terbesar, menurut Jun'an, adalah menandai skala waktu. Mereka mencoba dua metode yaitu mengukur tiap menit dengan stopwatch dan menandai tingkat air, serta membagi total air yang terkumpul selama 10 menit menjadi bagian yang sama.
"Jika botol penerima terlalu lebar, ketinggian air hanya berubah sedikit sehingga skala sulit ditandai secara akurat," kata Jun'an.
Uji coba pertama mereka gagal karena lubang terlalu besar, sehingga air mengalir terlalu cepat. Alih-alih menyerah, Jun'an dan teman-temannya menganalisis masalah dan menyadari bahwa ukuran lubang dan tekanan air sangat memengaruhi kecepatan tetesan.
Setelah menyesuaikan lubang dengan hati-hati, mereka mencoba lagi dan berhasil membuat air menetes secara merata.
"Saat jam menetes secara merata dan berhasil menghitung waktu tiga menit, rasanya seolah saya bisa 'menyentuh' waktu, bukan lagi sekadar abstraksi, tetapi hadir nyata dalam ritme setiap tetesan dan perlahan naiknya air," katanya.
Melalui proyek ini, Jun'an mendapatkan apresiasi terhadap kecerdikan para penemu kuno yang menciptakan alat tanpa teknologi modern. Pengalaman ini menunjukkan bahwa belajar sains bukan hanya soal prinsip dari buku, tetapi juga tentang eksplorasi langsung, percobaan, dan perbaikan.
Belajar Sains Tidak Terpaku Teori
Kepala Sekolah Zhijin No 10 Primary School di Zhijin, Provinsi Guizhou, He Shenggang, menyebutkan bahwa kelas sains terbaik adalah yang berbasis kehidupan. la menjelaskan, pelajaran sains di ladang atau halaman sekolah seringkali lebih menarik daripada sekadar rumus.
Menurut Shenggang, membimbing anak-anak menelusuri jalan semut atau mencatat waktu munculnya pelangi sebenarnya mengajarkan mereka mengamati dunia dengan penuh rasa ingin tahu. Ketika guru membawa kelas ke dunia nyata, teknologi berubah dari konsep abstrak menjadi pengalaman nyata yang bisa dirasakan.
la menambahkan, rasa ingin tahu siswa terbangkitkan, dan keinginan mereka untuk mengeksplorasi menjadi menyala. Hasilnya jauh lebih bermakna dibanding sekadar menghafal teori.
Kementerian Pendidikan China, mengatakan bahwa pada 2035, ingin membangun ekosistem pendidikan sains yang lengkap. Ekosistem yang dimaksud yakni yang didukung dan dibentuk oleh sumber daya sosial dan penerapan luas pengajaran berbasis proyek, berbasis penyelidikan, dan interdisipliner.
Kini, berbagai sekolah sudah mengimplementasikan pedoman tersebut. Salah satunya dengan memasukkan 78 eksperimen penyelidikan wajib untuk siswa SD, selaras dengan fokus pedoman pada integrasi sains, teknologi, teknik, dan matematika.







