TRIBUN-MEDAN.COM - Kasus dugaan keracunan akibat konsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan publik setelah sebanyak 154 siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) HKBP Sidikalang, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, dirawat di rumah sakit.
Kejadian ini viral di media sosial, menimbulkan keprihatinan dan pertanyaan terkait keamanan program MBG yang digagas untuk meningkatkan gizi siswa.
Berikut kasus terbaru keracunan siswa diduga akibat konsumsi menu Makanan Bergizi Gratis (MBG):
Kejadian di SMK HKBP Sidikalang
Berdasarkan informasi yang beredar, para siswa mengonsumsi nasi MBG sekitar pukul 10.00-11.00 WIB pada Senin, 9 Februari 2026.
Namun, keluhan sakit mulai muncul pada malam harinya dan memuncak pada pagi hari berikutnya.
Foto-foto yang tersebar memperlihatkan ratusan siswa sedang dirawat dan menerima infus di rumah sakit.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sumatera Utara, T Agung Kurniawan, membenarkan adanya perawatan terhadap siswa tersebut.
Namun, ia menegaskan bahwa belum dapat dipastikan apakah keracunan tersebut disebabkan oleh kontaminasi makanan MBG.
Hal ini dikarenakan gejala keracunan biasanya muncul dalam waktu 3-4 jam setelah konsumsi makanan, sedangkan keluhan siswa muncul lebih dari itu.
"Kami masih menunggu hasil laboratorium dari sampel makanan yang telah dibawa ke Labkesda Sumut Medan," ujar Agung.
Ia juga menyebutkan bahwa menu lauk pada hari itu terdiri dari ayam gulai, tahu goreng, selada, timun, dan nasi putih.
Dapur penyedia MBG pun telah ditutup sementara untuk investigasi lebih lanjut.
Baca juga: Kronologi 154 siswa SMK di HKBP Sidikalang Diduga Keracunan MBG, Begini Kata Kepala BGN Sumut
Baca juga: 154 Siswa SMK HKBP Sidikalang Diduga Keracunan MBG, Kepala BGN Sumut Minta Maaf, Beberkan Kronologi
Kasus keracunan diduga akibat menu MBG bukanlah yang pertama terjadi.
Sebelumnya, ratusan siswa dan guru di SMA Negeri 2 Kudus, Jawa Tengah, mengalami gejala keracunan setelah menyantap ayam suwir kuah soto pada Rabu, 28 Januari 2026.
Hasil uji laboratorium dari Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah mengungkap adanya kontaminasi bakteri Escherichia coli (E-Coli) pada kuah soto dan sambal yang disajikan.
Temuan ini menjadi dasar evaluasi dan perbaikan program MBG di daerah tersebut.
Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, menyatakan bahwa dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Purwosari yang mengolah makanan tersebut belum memenuhi standar kelayakan, sanitasi, dan higiene pangan.
"Kejadian ini harus menjadi pembelajaran bagi seluruh penyelenggara MBG agar standar kebersihan dan keamanan pangan tidak ditawar," tegas Nanik.
Tindakan dan Evaluasi dari Badan Gizi Nasional (BGN)
Menanggapi kejadian-kejadian tersebut, Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan investigasi menyeluruh terhadap dapur-dapur penyedia MBG dan memperkuat pengawasan serta pendampingan teknis.
Penegakan standar operasional prosedur (SOP) menjadi fokus utama untuk memastikan program MBG berjalan aman dan berkualitas.
Kepala BGN, Dadan Hindayana, menyampaikan permintaan maaf atas kejadian yang menimpa para penerima manfaat MBG dan berjanji akan melakukan perbaikan agar kejadian serupa tidak terulang.
Pentingnya Keamanan dan Kualitas Program Makan Bergizi Gratis
Program Makan Bergizi Gratis merupakan inisiatif penting untuk meningkatkan status gizi anak-anak sekolah, terutama di daerah dengan tingkat gizi yang masih perlu diperbaiki.
Namun, kejadian keracunan ini mengingatkan semua pihak akan pentingnya pengelolaan yang ketat, mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan, hingga distribusi makanan.
Standar kebersihan dapur, pelatihan petugas pengolah makanan, serta pengawasan rutin harus menjadi prioritas agar manfaat program ini dapat dirasakan tanpa risiko kesehatan.
Kasus dugaan keracunan makanan bergizi gratis di SMK HKBP Sidikalang dan SMA Negeri 2 Kudus menjadi peringatan serius bagi penyelenggara program MBG.
Keamanan pangan harus menjadi perhatian utama agar tujuan meningkatkan gizi anak-anak tidak terganggu oleh insiden yang merugikan.
Pihak berwenang terus melakukan investigasi dan evaluasi untuk memastikan program MBG dapat berjalan dengan aman dan memberikan manfaat maksimal bagi generasi muda Indonesia.
(Cr5/tribun-medan.com)
Baca juga: Penyebab Keracunan MBG Ratusan Siswa dan Guru SMA Negeri 2 Kudus
Baca juga: Klarifikasi SPPG Seorang Siswa Meninggal Dikaitkan MBG, Ratusan Siswa Keracunan Usai Santap Soto