Miliki Kekayaan Rp14.280 Triliun, Elon Musk Akui Uang Tidak Bisa Membeli Kebahagiaan
Bobby Wiratama February 11, 2026 03:29 AM


TRIBUNNEWS.COM –
Kekayaan bersih Elon Musk melonjak menjadi 852 miliar dolar AS (sekitar Rp14.280 triliun) pekan lalu, rekor tertinggi yang dipicu oleh penggabungan dua perusahaannya, SpaceX dan xAI.

Namun, meski memiliki kekayaan lebih besar dibandingkan siapa pun dalam sejarah, Elon Musk tampaknya tidak yakin bahwa uang dapat menjamin kebahagiaan.

“Siapa pun yang mengatakan, ‘Uang tidak bisa membeli kebahagiaan,’ benar-benar tahu apa yang mereka bicarakan,” tulis Elon Musk di X pada Kamis (6/2/2026).

CUITAN ELON MUSK - Cuitan Elon Musk di X (sebelumnya Twitter) yang menyatakan uang tidak bisa membeli kebahagiaan.
CUITAN ELON MUSK - Cuitan Elon Musk di X (sebelumnya Twitter) yang menyatakan uang tidak bisa membeli kebahagiaan. (Tangkapan layar media sosial)

Pernyataan itu memicu reaksi di seluruh platform media sosial, termasuk dari kalangan orang superkaya yang bergumul dengan dilema serupa.

Miliarder pengelola dana lindung nilai, Bill Ackman, menawarkan sejumlah nasihat kepada Musk.

Ia mendesak Musk agar lebih fokus pada filantropi dan memiliki perspektif yang lebih luas.

“Banyak kebahagiaan datang dari membantu orang lain. Anda telah membantu jutaan orang, dan suatu hari nanti kemungkinan akan menjadi miliaran. Anda hanya perlu menghargai apa yang telah Anda capai untuk begitu banyak orang,” tulis Ackman.

Ackman juga menyarankan agar Musk mempertimbangkan untuk setia pada satu pasangan dalam jangka panjang.

Sebagai informasi, Elon Musk memiliki 14 anak dari empat wanita berbeda.

Baca juga: Elon Musk dan Mark Zuckerberg Muncul di Berkas Epstein, Hadiri Pesta Makan Malam yang Disebut Liar

PARTAI AMERIKA - Elon Musk saat menggelar konferensi pers dengan Donald Trump di Gedung Putih, 31 Mei 2025. Elon Musk mengumumkan pembentukan partai baru, Partai Amerika, ini 7 faktanya.
PARTAI AMERIKA - Elon Musk saat menggelar konferensi pers dengan Donald Trump di Gedung Putih, 31 Mei 2025. (Dok. Gedung Putih)

“Kebahagiaan juga dapat ditemukan dalam hubungan jangka panjang dengan seseorang yang benar-benar istimewa.

“Sudah saatnya Anda menemukan seseorang untuk jangka panjang. Ini hanya pendapat saya.”

Mark Cuban, investor miliarder dan mantan bintang acara Shark Tank, setuju dengan Musk sampai batas tertentu, tetapi menilai bahwa mengaitkan kekayaan dengan kebahagiaan bukanlah perkara sederhana.

Menurutnya, uang tidak secara mendasar mengubah kebahagiaan, melainkan memperbesar kondisi yang sudah ada.

“Jika Anda bahagia ketika miskin, Anda akan sangat bahagia jika menjadi kaya,” tulis Cuban di X.

“Jika Anda sengsara, Anda akan tetap sengsara, hanya dengan tekanan finansial yang jauh lebih sedikit.”

Hubungan Kebahagiaan dengan Uang

Mengutip Fortune, para peneliti telah lama mencoba menjawab pertanyaan apakah uang dapat membeli kebahagiaan.

Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak.

Sebuah studi Universitas Princeton pada 2010 menemukan bahwa kesejahteraan emosional sehari-hari meningkat seiring pendapatan, tetapi mencapai titik jenuh pada angka sekitar 75.000 dolar AS (sekitar Rp1,26 miliar) per tahun.

Penelitian yang lebih baru dari Wharton School, Universitas Pennsylvania, memperumit temuan tersebut.

Studi itu menunjukkan bahwa kebahagiaan memang meningkat seiring pendapatan, tetapi orang yang sejak awal tidak bahagia cenderung berhenti mengalami peningkatan kebahagiaan setelah pendapatannya mencapai sekitar 100.000 dolar AS (sekitar Rp1,685 miliar) per tahun.

“Secara sederhana, ini menunjukkan bahwa bagi kebanyakan orang, pendapatan yang lebih besar dikaitkan dengan kebahagiaan yang lebih tinggi,” kata Matthew Killingsworth, peneliti senior di Wharton dan penulis utama studi tersebut.

“Pengecualiannya adalah mereka yang kaya secara finansial tetapi tidak bahagia."

“Misalnya, jika Anda kaya dan sengsara, lebih banyak uang tidak akan membantu."

“Bagi semua orang lain, lebih banyak uang dikaitkan dengan tingkat kebahagiaan yang lebih tinggi, meskipun dengan variasi tertentu.”

Temuan ini sejalan dengan pandangan Cuban bahwa uang sering kali bertindak sebagai penguat, tetapi bukan solusi.

Meski dapat mengurangi stres dan memperluas pilihan, uang tidak secara otomatis menyelesaikan persoalan seperti hubungan pribadi yang bermasalah atau perasaan dasar tentang kehidupan.

Musk: Filantropi Bukan Hal Mudah

Meski sebagian besar kekayaan Musk terikat pada valuasi perusahaan dan bukan dalam bentuk tunai, skala hartanya tetap memberinya fleksibilitas luar biasa.

Dengan aset sebesar itu, Musk pada dasarnya mampu membeli hampir semua hal, termasuk menciptakan dampak besar melalui filantropi.

Namun, Musk menegaskan bahwa berbuat baik melalui donasi tidaklah semudah yang dibayangkan.

“Saya setuju dengan cinta kasih terhadap kemanusiaan, dan saya pikir kita harus mencoba melakukan hal-hal yang membantu sesama manusia,” kata Musk dalam podcast WTF akhir tahun lalu.

“Tetapi itu sangat sulit."

“Tantangan terbesar yang saya temukan dengan yayasan saya adalah mencoba menyumbangkan uang dengan cara yang benar-benar bermanfaat bagi orang lain."

“Sangat mudah menyumbangkan uang demi kesan kebaikan. Sangat sulit menyumbangkan uang untuk kebaikan yang sesungguhnya.”

Musk bukan satu-satunya yang menghadapi dilema tersebut.

Sejumlah pemimpin teknologi, termasuk Mark Zuckerberg, Larry Ellison, dan Musk sendiri, telah menandatangani Giving Pledge, inisiatif yang diluncurkan oleh Bill Gates, Melinda French Gates, dan Warren Buffett untuk menyumbangkan sebagian besar kekayaan mereka untuk tujuan amal.

Namun, para kritikus mencatat bahwa banyak penandatangan bergerak lambat dalam memenuhi komitmen tersebut.

Investor miliarder Peter Thiel bahkan dilaporkan mendesak Musk meninggalkan janji itu, dengan alasan bahwa Gates akan menyalurkan dana tersebut ke “organisasi nirlaba sayap kiri”.

Bill Gates, di sisi lain, lebih jujur mengenai batas kemampuan kekayaan ekstrem dalam menciptakan kebahagiaan.

Saat ditanya dalam sesi tanya jawab Reddit pada 2019 apakah menjadi miliarder membuatnya lebih bahagia dibandingkan jika ia berada di kelas menengah, Gates menjawab ya.

“Saya tidak perlu memikirkan biaya kesehatan atau biaya kuliah,” ujar Gates.

“Bebas dari kekhawatiran finansial adalah berkah yang nyata.”

Namun, ia menambahkan, “Tentu saja, Anda tidak membutuhkan satu miliar dolar untuk mencapai titik itu. Kita perlu menekan pertumbuhan biaya di sektor-sektor tersebut.”

Bisakah Elon Musk Menjadi Triliuner Pertama di Dunia?

Seorang triliuner adalah individu dengan kekayaan bersih minimal 1 triliun dolar AS.

Kini dengan kekayaan sekitar 845 miliar dolar AS, Elon Musk semakin mendekati angka tersebut.

Tesla merupakan karya Musk yang paling dikenal.

Namun, untuk mencapai status lebih kaya daripada negara-negara maju, Musk tidak lagi bergantung pada bisnis mobil listrik, melainkan pada SpaceX.

Mengutip cryptopolitan.com, hampir dua pertiga kekayaan Elon Musk kini berasal dari SpaceX.

Nilai itu melonjak setelah SpaceX mengakuisisi perusahaan AI miliknya, xAI, yang mengembangkan kecerdasan buatan dan mengelola platform media sosial X (sebelumnya Twitter).

Kesepakatan tersebut memberi valuasi perusahaan gabungan sebesar 1,25 triliun dolar AS.

Elon Musk memiliki sekitar 43 persen saham, yang berarti kepemilikannya kini bernilai lebih dari 530 miliar dolar AS.

Merger tersebut mengubah sumber utama pendapatannya dan mendorong Musk semakin dekat ke status triliuner.

SpaceX telah meluncurkan satelit, membangun roket, bekerja sama dengan pemerintah AS, serta menjalankan proyek pertahanan.

Sementara xAI membawa model AI canggih dan kendali atas platform yang bergantung pada keterlibatan pengguna serta dinamika politik.

SpaceX telah menghasilkan lebih dari 20 miliar dolar AS dari kontrak pemerintah AS, menurut riset FedScout.

Elon Musk mengatakan merger ini merupakan bagian dari rencana pembangunan pusat data orbital yang akan menggunakan satelit untuk menjalankan sistem AI di luar Bumi, bukan di pusat data konvensional.

Dalam dokumen proksi terbaru Tesla, perusahaan menyatakan bahwa “sebagian besar kekayaan Musk kini berasal dari usaha bisnis lain”.

Hal itu dinilai tidak sepenuhnya positif bagi Tesla.

Elon berencana membawa SpaceX melantai di bursa pada 2026.

Jika terwujud, langkah itu berpotensi meningkatkan kekayaannya lebih jauh.

Paket Gaji Tesla dan Pengaruh Politik

Elon masih memiliki kepentingan besar pada Tesla.

Tahun lalu, Cryptopolitan melaporkan bahwa pemegang saham Tesla menyetujui paket gaji yang nilainya bisa mencapai 1 triliun dolar AS.

Namun, nilai itu tidak dijamin karena dibagi dalam 12 tahap dan hanya cair jika Tesla mencapai target tertentu.

Target awal adalah valuasi perusahaan sebesar 2 triliun dolar AS, sekitar 460 miliar dolar AS di atas nilai saat ini.

Dewan direksi Tesla menyatakan kesepakatan itu bertujuan menjaga fokus Elon agar tidak mengabaikan Tesla demi usaha lain.

Pengaruh Elon tidak hanya terbatas pada roket dan mobil, tetapi juga merambah ke politik.

Laporan Oxfam menyebut sedikitnya lima orang berpotensi menjadi triliuner dalam satu dekade ke depan.

Pada 2024, kekayaan para miliarder tumbuh sebesar 2 triliun dolar AS, sementara tingkat kemiskinan dunia hampir tidak berubah sejak 1990.

Direktur Oxfam, Amitabh Behar, menyatakan:

“Permata mahkota oligarki ini adalah seorang presiden miliarder yang didukung dan dibiayai oleh orang terkaya di dunia, Elon Musk, yang memimpin ekonomi terbesar di dunia. Laporan ini kami sajikan sebagai peringatan keras bahwa orang-orang biasa di seluruh dunia dihimpit oleh kekayaan luar biasa segelintir orang.”

Elon juga menggunakan kendalinya atas X untuk memengaruhi politik.

Di India, ia mengizinkan pemerintah menyembunyikan cuplikan film dokumenter BBC yang mengkritik Narendra Modi.

Di Turki, platformnya menangguhkan akun-akun oposisi menjelang pemilu 2023.

Semakin besar kekayaan Elon, semakin besar pula pengaruh politik yang ia miliki.

Ia telah menunjukkan hal tersebut melalui ribuan unggahan di media sosial.

Oxfam menilai pemerintah perlu turun tangan dengan mengenakan pajak lebih tinggi pada para miliarder serta mencegah satu individu memiliki pengaruh sebesar ini.

(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.