TRIBUNTRENDS.COM - Tragedi kecelakaan lalu lintas yang terjadi di kawasan Chinatown, Singapura, menyisakan luka mendalam bagi satu keluarga asal Indonesia.
Di tengah duka yang masih membekas, secercah kabar baik datang dari ruang perawatan intensif.
Sang ibu, yang sempat kritis setelah tertabrak mobil, kini mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan.
Namun, harapan itu harus berjalan berdampingan dengan kenyataan pahit: putri kecilnya yang baru berusia enam tahun tak berhasil diselamatkan.
Baca juga: Cedera Berat di Otak Penyebab Sheyna Meninggal Ditabrak di Singapura, Ibu Sudah Sadar, Patah Tulang
Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura menyampaikan bahwa ibu korban kecelakaan maut tersebut telah kembali sadar dan berada dalam kondisi stabil. Meski demikian, perawatan intensif masih terus dilakukan mengingat cedera serius yang dialaminya.
“Ibu korban yang tertabrak mobil dalam kecelakaan di Chinatown telah kembali sadar dan saat ini berada dalam kondisi stabil di ruang perawatan intensif,” ujar KBRI Singapura dikutip TribunTrends dari CNA pada Selasa (10/2).
Menanggapi pertanyaan dari CNA, pihak KBRI menjelaskan bahwa perempuan tersebut masih menjalani perawatan ketat di high-dependency unit Rumah Sakit Umum Singapura atau Singapore General Hospital (SGH).
Ia mengalami sejumlah luka berat, mulai dari cedera dalam hingga patah tulang akibat benturan keras saat insiden terjadi.
Di balik kabar perkembangan kondisi sang ibu, tragedi yang lebih menyayat hati tak terelakkan.
Putri korban yang masih berusia enam tahun dinyatakan meninggal dunia pada hari yang sama dengan kejadian nahas tersebut.
KBRI Singapura mengungkapkan bahwa anak tersebut dinyatakan meninggal dunia di rumah sakit pada pukul 12.44 waktu setempat, Jumat (6/2).
Hasil autopsi rumah sakit menyimpulkan bahwa penyebab kematian adalah cedera berat pada kepala dan otak.
“KBRI menyampaikan bahwa anak perempuan berusia enam tahun tersebut dinyatakan meninggal dunia di rumah sakit pada pukul 12.44 siang pada 6 Februari, dengan penyebab kematian berdasarkan autopsi rumah sakit adalah cedera kranio-serebral,” demikian keterangan resmi KBRI.
Sejak insiden tragis itu terjadi, KBRI Singapura menyatakan telah hadir mendampingi keluarga korban. Perwakilan kedutaan bahkan langsung menemui pihak keluarga pada hari kejadian.
“Perwakilan KBRI telah bertemu dengan keluarga korban pada 6 Februari, termasuk suami dan ayah dari para korban, untuk menyampaikan belasungkawa dan memberikan bantuan awal,” ujar pihak KBRI.
Pendampingan tersebut tidak berhenti di situ. KBRI memastikan terus berada di sisi keluarga korban dalam menghadapi masa-masa paling berat.
“KBRI secara berkelanjutan mendampingi keluarga sejak hari kejadian, termasuk sepanjang 7 Februari 2026, serta memfasilitasi pengurusan administrasi terkait penanganan jenazah dan pemulangan anak yang meninggal dunia,” lanjut pernyataan tersebut.
Jenazah sang anak kini telah dimakamkan di Indonesia, menutup satu bab tragis yang menyisakan luka mendalam bagi keluarga.
Baca juga: Keseharian Sheyna, Murid TK Korban Kecelakaan di Singapura: Peri Kecil yang Pergi Terlalu Cepat
Meski pihak keluarga memiliki keinginan untuk membawa sang ibu pulang ke Indonesia guna melanjutkan perawatan medis, kondisi kesehatannya saat ini belum memungkinkan.
“KBRI terus memantau kondisi medis sang ibu sambil berkoordinasi dengan pihak SGH terkait perawatannya,” kata KBRI.
“Meski keluarga menyampaikan keinginan untuk memindahkan yang bersangkutan ke Indonesia untuk perawatan lanjutan, para dokter yang menangani menyarankan bahwa kondisi medisnya saat ini belum memungkinkan untuk dilakukan evakuasi,” tambahnya.
Di sisi lain, aspek hukum dari kecelakaan ini juga menjadi perhatian serius. KBRI Singapura menegaskan bahwa mereka terus menjalin koordinasi erat dengan Kepolisian Singapura untuk mengikuti perkembangan penyelidikan terhadap pengemudi kendaraan yang terlibat.
“KBRI berada dalam koordinasi yang erat dengan Kepolisian Singapura untuk memantau perkembangan penyelidikan hukum terhadap pengemudi kendaraan,” jelas pihak kedutaan.
Wakil kepala perwakilan KBRI bersama staf juga kembali menemui keluarga korban pada Senin untuk menyampaikan belasungkawa resmi serta membahas bantuan lanjutan.
“Pertemuan tersebut dilakukan untuk menyampaikan belasungkawa secara resmi dan mengoordinasikan bantuan lebih lanjut, termasuk kemungkinan fasilitasi dukungan hukum apabila dibutuhkan oleh keluarga,” ujar KBRI.
Kecelakaan tragis ini terjadi di South Bridge Road, dekat Buddha Tooth Relic Temple, kawasan Chinatown, pada Jumat (6/2) sekitar pukul 11.50 waktu setempat.
Pihak kepolisian Singapura sebelumnya menyatakan bahwa dua pejalan kaki seorang anak perempuan berusia enam tahun dan seorang perempuan berusia 31 tahun sempat dibawa ke rumah sakit dalam kondisi sadar.
Namun, beberapa waktu kemudian, nyawa sang anak tidak tertolong.
KBRI menyebut bahwa kedua korban saat itu tengah menyeberang jalan di dekat area parkir terbuka.
Laporan awal mengidentifikasi korban sebagai ibu dan anak asal Indonesia yang sedang berkunjung ke Singapura. Informasi tersebut kemudian dikonfirmasi oleh pejabat Kementerian Luar Negeri RI pada 8 Februari.
Baca juga: Duka Berlapis Keluarga Sheyna, Bibi Berharap Penabrak Ponakannya di Singapura Dihukum Setimpal
Foto dan video pascakecelakaan yang beredar luas di media sosial memperlihatkan suasana memilukan di lokasi kejadian.
Dalam rekaman tersebut, terlihat seorang pria menggendong tubuh kecil sang anak, sementara sang ibu terbaring di jalan tak jauh dari mereka.
Beberapa warga sekitar tampak sigap memberikan pertolongan. Dalam salah satu video, terdengar seorang perempuan mengatakan bahwa ambulans telah dipanggil.
Sementara itu, orang-orang lain menggunakan payung untuk melindungi para korban dari terik matahari.
Pada 8 Februari, kepolisian Singapura mengumumkan bahwa pengemudi kendaraan yang terlibat telah ditangkap. Ia diduga mengemudi tanpa kehati-hatian yang wajar hingga menyebabkan kematian.
Sebelumnya, polisi menyatakan bahwa pengemudi perempuan berusia 38 tahun tersebut telah bekerja sama dan membantu proses penyelidikan.
Tragedi ini bukan hanya meninggalkan catatan hitam dalam laporan kepolisian, tetapi juga menyisakan luka yang mendalam bagi sebuah keluarga tentang seorang ibu yang berjuang untuk pulih, dan seorang anak yang tak pernah kembali.
***
(TribunTrends/Jonisetiawan)