TRIBUNFLORES.COM, LARANTUKA - Takhta episkopal di kaki Gunung Ile Mandiri resmi memulai babak baru.
Mgr. Yohanes Hans Monteiro resmi ditahbiskan menjadi Uskup Larantuka di Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Rabu (11/2/2026).
Misa tahbisan ini menjadi momen krusial bagi Gereja Katolik setempat, menandai estafet kepemimpinan dari Mgr. Fransiskus Kopong Kung yang telah mendedikasikan 22 tahun pelayanannya di wilayah kepulauan tersebut.
Keputusan dari pimpinan tertinggi Gereja Katolik dibacakan oleh Monsinyur Michael Pawlowicz, Pelaksana Tugas Kedutaan Vatikan untuk Indonesia.
Di hadapan ribuan umat, Uskup Agung Ende Mgr. Paulus Budi Kleden menyampaikan homili yang memotret tajam realitas sosial yang menghimpit rakyat kecil.
Baca juga: Gemuruh Tepuk Tangan Umat Saat Pembacaan Mandat Paus Penahbisan Uskup Larantuka
Misa tahbisan ini menutup sebuah era panjang kepemimpinan Mgr. Fransiskus Kopong Kung yang dimulai sejak 2004.
Mgr. Kleden mengenang kembali momen 22 tahun silam ketika Mgr. Frans memulai pelayanan sebagai Uskup Koajutor. Menariknya, komentator liturgi saat itu adalah Mgr. Hans Monteiro yang kala itu masih muda.
"Tidak tahu apa yang bakal terjadi dengan kita hari ini yang juga masih muda dan tampil meyakinkan," ujar Mgr. Kleden.
Ia menggarisbawahi bahwa kepemimpinan di Larantuka adalah misi di wilayah yang menantang secara geografis dan rawan bencana.
"Untuk menjadi gembala di wilayah yang demikian sering mengalami bencana; banjir, gempa bumi, dan letusan gunung berapi. Dan untuk menjadi pemimpin bagi umat yang tinggal terpisah di pulau-pulau dan dibatasi gunung dan lembah, diperlukan batin yang terbuka pada kehendak Allah seperti Bunda Maria dan kesungguhan menghayati doa Yesus untuk merawat kesatuan," ungkapnya.
”Satu” yang Menyentuh Akar Rumput
Dalam tahbisannya, Mgr. Hans Monteiro memilih satu moto yang disebut tiga kali dalam bahasa Latin: Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes (Satu Tubuh, Satu Roh, Satu Harapan).
Mgr. Kleden membedah makna "Satu" ini sebagai komitmen yang menyentuh seluruh dimensi manusia: tubuh, roh, dan pengharapan.
"Moto ini menyadarkan kita bahwa kita semua, apa pun perbedaan yang ada di antara kita, hidup di bawah kolong langit yang satu dan menjejakan kaki di atas bumi yang sama. Kita adalah anak-anak dari Tuhan yang satu," tegas Mgr. Kleden. Namun, ia mengingatkan bahwa kesatuan ini harus membuka mata terhadap ketimpangan sosial yang nyata.
"Betapa ada jurang yang terbentang di antara kita. Jurang yang kian lebar antara mereka yang hidup dalam kelimpahan dan mereka yang merana dalam kemiskinan ekstrem. Antara yang berada di pusat kekuasaan dan yang terpental ke wilayah pinggiran."
Kritik terhadap Pinjol dan Eksploitasi
Suara kenabian Mgr. Kleden terdengar paling tajam saat ia menghubungkan urusan roh (Unus Spiritus) dengan persoalan material umat. Ia menegaskan bahwa seorang rohaniwan wajib berbicara tentang ketimpangan ekonomi dan kemiskinan yang menyayat.
"Roh itu dicurahkan kepada kita semua anggota Gereja. Diturunkan atas Bapak Uskup Hans supaya dibebaskan dari penjara ingat diri dan kecemasan akan keamanan diri. Kita berani dan sanggup mewartakan kabar pembebasan untuk melepaskan para petani dan nelayan kita dari genggaman para tengkulak yang kian agresif. Membebaskan keluarga-keluarga kita dari cengkraman para pelaku lembaga keuangan yang tidak saja memiskinkan tetapi juga merendahkan harga diri mereka, seperti pinjaman online dan kooperasi harian atau kooperasi mingguan," tuturnya tegas.
Ia juga menyerukan keberanian untuk melawan praktik perdagangan orang, pembabatan hutan, pencemaran air, dan eksploitasi kekayaan alam yang "menghancurkan ekosistem dan menggoyahkan kesatuan masyarakat."
”No Bale Nagi”: Pulang untuk Perutusan
Puncak khotbah ini bermuara pada seruan emosional: No Bale Nagi. Mgr. Kleden menekankan bahwa kepulangan Mgr. Hans ke Larantuka bukan sekadar nostalgia atau keinginan tinggal di tanah kelahiran.
"Bapak Uskup Hans, no bale nagi, pulang kampung, bukan karena itu mimpimu. Bukan pula karena umat keuskupan ini hanya bersedia digembalakan oleh seorang anak tanah. Sebab sudah terlampau tua dan berpengalaman Gereja di wilayah ini, yang telah dijejaki para gembala dari berbagai belahan bumi," ucap Mgr. Kleden.
"No bale nagi, pulang kampung, sebab itulah perutusan. No bale nagi, supaya melangkah dalam rangkulan kasih Tuhan Ma, mewartakan Tuhan Ana, Kristus yang tersalib, mati dan bangkit untuk kita."
Harapan itu, menurut Mgr. Kleden, kini harus disalurkan ke tengah dunia yang kian terancam kehilangan harapan.
Harapan yang terdengar dalam "lantunan si perempuan tua di kaki Ile Mandiri yang memendam rindu akan kembalinya si anak dari rantauan sambil menggumam syair: Bale nagi, bale nagi sinyo e, kendati nai beroe."
Misa tahbisan ini berakhir dengan doa agar Uskup baru mampu mengantar umat kembali ke dekap kasih Allah sambil membawa dunia yang terluka.
"Tuhan memberkati, Tuhan Ma mendoakan," tutup Mgr. Kleden.