TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR – Maemuna, jemaah umrah asal Makassar, Sulawesi Selatan, meninggal dunia di Bandara King Abdulaziz International Airport, Jeddah, Arab Saudi.
Peristiwa meninggalnya Maemuna terjadi pada, Kamis (5/2/2026) waktu setempat.
Menurut laporan awal dari Kementerian Haji (Kemenhaj) RI, Maemuna berada di Bandara King Abdulaziz dalam proses kepulangan ke Tanah Air bersama rombongan.
Namun terjadi delay pesawat yang memaksa rombongan umrah asal Makassar itu menunggu seharian di bandara.
Dalam penantian penerbangan kembali ke Indonesia, Maemuna dilaporkan meninggal dunia.
Hingga saat ini Kanwil Kemenhaj Sulsel, masih menunggu penyebab pasti meninggalnya jamaah umrah perempuan asal Makassar, Sulsel, Maemuna.
Kepala Kanwil Kemenhaj Sulsel Ikbal Ismail menduga, Maemuna meninggal karena kelelahan dan kedinginan di ruang tunggu Bandara.
Baca juga: Jemaah Umrah Asal Makassar Meninggal di Jeddah, Kanwil Kemenhaj Tunggu Hasil Investigasi
Pasalnya, ia menunggu lama jadwal keberangkatan pesawat setelah alami delay.
Kemungkinan juga ada potensi penyakit jantung.
Namun, kata, Ikbal, pihaknya masih menunggu hasil investigasi resmi.
Kanwil Kementerian Haji dan Umrah Sulsel telah memanggil pihak penerbangan cabang Makassar untuk dimintai keterangan.
Dalam waktu dekat, pihaknya juga akan memanggil Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) yang membawa Maemuna.
“Penyebab kematian jamaah umrah asal Makassar kita tunggu hasil investigasinya,” katanya saat dihubungi Tribun-Timur.com, Rabu (11/2/2026).
Iqbal menyebut, pengurusan jasad Maemuna diambil alih oleh petugas Bandara King Abdulaziz.
Jasadnya langsung dikebumikan hari itu juga di Arab Saudi.
“Pihak Bandara tangani langsung penguburan. Dimakamkan di Saudi,” sebut Ketua Umum Rabithah Alumni (Rama) MAPK/MAKN ini.
Ia menuturkan, pesawat ditumpangi Maemuna beserta rombongan jamaah Umrah lainnya ke Indonesia alami delay selama sehari.
Penyebabnya, tim teknisi menemukan kaca pesawat retak, sehingga perlu perbaikan.
Pihak maskapai pun mengarahkan jamaah umrah untuk menunggu di hotel.
Namun, tidak semua jamaah umrah memilih opsi tersebut.
Ada sekira 70 jamaah umrah, termasuk Maemuna memilih bertahan di ruang tunggu Bandara King Abdul Aziz.
Ternyata, waktu perbaikan pesawat memakan waktu lama.
“Lama menunggu di Bandara, padahal sudah disiapkan flyadeal ke hotel. Besoknya pesawat baru selesai pengerjaan, tapi jamaah (Maemuna) sudah meninggal,” tuturnya.
Agar hal serupa tak terulang lagi, Ikbal mengimbau seluruh jamaah untuk mengikuti seluruh instruksi dari maskapai.
Lantaran tim teknisi pasti sudah mempunyai perhitungan untuk perbaikan pesawat.
“Kalau ada disiapkan fasilitas, jamaah mengikut saja. Ini masalahnya mau tetap di Bandara sambil menunggu pesawat bagus,” ucap Ikbal.
Terakhir, Ikbal terus mengingatkan penyelenggara umrah untuk menyiapkan tim medis maupun obat-obatan untuk mengantisipasi kondisi tak diinginkan.
“Selalu siapkan tim medis dan obat-obatan,” ucapnya. (*)