TRIBUNAMBON.COM - Ketua DPRD Kabupaten SBT, Risman Sibualamo menyebut program Gentengnisasi perlu disesuaikan dengan kondisi geografis masing-masing daerah.
Program Gentengnisasi digagas Presiden Prabowo Subianto.
Program tersebut pertama kali disampaikan secara resmi oleh Prabowo Subianto dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 yang digelar di Sentul, Bogor, Senin (2/2/2026) lalu.
Kebijakan ini bertujuan untuk mengganti atap seng rumah warga dengan genteng yang dinilai lebih berkualitas dan memiliki daya tahan lebih lama.
“Kalau itu kan pidato presiden, tetapi kita juga harus melihat kondisi geografis di daerah,” ujarnya saat dikonfirmasi TribunAmbon.com di ruang kerjanya, Selasa (10/2/2026).
Baca juga: Potensi Gelombang Tinggi di Maluku Capai 2.5 M, Berlaku 11-14 Februari 2026
Baca juga: Jadwal Kapal Maluku: Hari Ini Tiga Kapal Siap Berlayar dari Pelabuhan Slamet Riyadi Ambon
Katanya, program tersebut pada prinsipnya merupakan arahan presiden yang patut dicermati.
Penggunaan genteng sebenarnya dinilai cukup baik jika diterapkan pada masyarakat yang mayoritas tinggal di wilayah pesisir.
Namun, ia mempertanyakan kesiapan daerah dalam hal produksi dan distribusi material genteng.
“Pertanyaannya, apakah genteng itu bisa diproduksi disini? Karena setahu saya produksinya di Jawa, dan membawa genteng ke Maluku itu luar biasa berat,” katanya.
Risman juga mengungkapkan, sejauh ini penggunaan genteng di SBT masih sangat terbatas.
Sebagian besar warga lebih banyak menggunakan atap asbes, yang kualitasnya dinilai belum sebanding dengan genteng.
“Kalau ada yang pakai genteng mungkin sangat sedikit, rata-rata masih pakai asbes. Padahal asbes itu kualitasnya tidak sama dengan genteng, dia tipis dan mudah rusak apalagi dengan kondisi panas di daerah kita,” jelasnya.
Ia menilai, jika program Gentengnisasi nantinya diterapkan di daerah, pemerintah pusat juga mempertimbangkan aspek produksi lokal dan distribusi.(*)