BANGKAPOS.COM, BANGKA — Suara deru mesin penambangan beradu padu dengan suara hembusan angin siang itu. Sementara bunyi mesin dua unit ekskavator yang sedang beroperasi terdengar samar.
Di tengah terik panas matahari yang menyilaukan, ekskavator berwarna oranye itu seolah berestafet memindahkan pasir yang dikeruk dari bibir Muara Air Kantung, Jelitik, Sungailiat, Rabu (11/2/2026).
Satu ekskavator mengeruk pasir dari dalam air dan menumpuknya di sisi daratan. Satu lainnya memindahkan tumpukan pasir tersebut ke tempat yang lebih jauh seolah mencegah supaya pasir yang telah dikeruk itu tidak kembali jatuh ke dalam air laut.
Sementara itu, sekumpulan ponton (alat penambangan timah di laut-red) terlihat cukup jelas terlihat lantaran jaraknya cukup dekat dengan bibir muara dan seolah berdampingan dengan kapal-kapal nelayan yang parkir di luar muara lantaran tidak bisa masuk khawatir akan kandas.
Di bagian dalam muara, sejumlah ponton dengan berbagai warna dan ukuran juga tampak sedang terparkir dan tidak beroperasi.
Dari kejauhan, kondisi air laut di bibir muara tampak dangkal. Samar-samar terlihat pasir di dalam alur muara yang menjadi akses utama bagi ribuan kapal nelayan jelitik untuk keluar masuk.
Satu unit kapal nelayan bahkan kandas tepat di tengah alur-alur muara dengan posisi melintang. Beberapa perahu kecil dengan mesin tempel mengambil rute berliuk-liuk hanya untuk keluar masuk muara.
Kondisi ini menjadi pemandangan rutin yang dialami oleh para nelayan jelitik Sungailiat yang setiap tahun berharap adanya solusi soal pendangkalan muara tersebut.
Sudirman, salah seorang nelayan di pelabuhan jelitik Sungailiat bercerita kepada Bangkapos.com soal kondisi pendangkalan muara yang sudah mulai terasa sekira tahu 2011 silam.
Sambil merajut jala di teras rumahnya, pria berumur 51 tahun itu mengingat kembali masa-masa ketika melaut tanpa perlu dipusingkan soal pendangkalan muara.
“Kami mulai melaut tahun 1992, waktu itu saya berumur sekitar 20 atau 21 tahun,” kata Sudirman.
Dia menyebut, di tahun 90-an itu para nelayan pernah menghadapi kendala soal pendangkalan muara dan akses keluar masuk kapal nelayan masih sangat lancar.
Di masa-masa itu, kapal-kapal nelayan bisa leluasa melintas hanya dengan rute lurus tanpa harus mengambil rute meliuk-meliuk seperti sekarang hanya untuk terhindar dari kandas.
“Waktu itu kita enggak perlu ngelihat pasang surut air ataupun ketinggian air,” ungkapnya.
Namun sayangnya, masa-masa indah saat melaut itu perlahan-lahan mulai menghadapi kesulitan. Tepatnya mulai tahun 2011 silam dimana kondisi muara berangsur-angsur mengalami pendangkalan.
Kini, banyak hambatan yang harus dihadapi ketika hendak melaut. Para nelayan harus rajin mengecek dan memantau pasang surut air laut dan ketinggian air yang pas supaya bisa melintasi muara.
“Enggak bisa leluasa (melaut-red), harus tengok airnya dulu, pasang surutnya, baik keluar atau masuk (muara-red),” tuturnya.
Kondisi pendangkalan muara ini tentu berdampak terhadap aktivitas melaut nelayan yang kuantitasnya jauh menurun ketimbang dulu.
Kata Sudirman, bagi nelayan setempat, ada istilah yang disebut pergelap yang merupakan hitungan trip melaut dilakukan selama 15 hari.
“Pergelap itu selama 15 hari kami bisa sampai 3-4 kali (trip-red) turun melaut. Tapi sekarang ini cuma 2 kali, itupun maksa karena terkendala di pendangkalan tadi,” jelasnya.
Dengan begitu, jumlah tangkapan ikan yang didapatkan pun tentunya berkurang. Tak hanya itu, pendangkalan muara ini juga memberikan kerugian lain kepada nelayan.
Kapal-kapal nelayan yang terpaksa parkir di luar bibir muara lantaran khawatir kandas acapkali rusak dan hancur dihantam ombak.
Oleh karena itu, dirinya berharap kondisi pendangkalan muara ini tidak terjadi berlarut-larut. Kondisi inipun kadangkala terpaksa membuat para nelayan harus turun tangan sendiri.
Seakan lelah menunggu solusi dan aksi dari pemerintah, para nelayan tersebut sering melakukan aksi swadaya. Pernah beberapa mereka urunan atau patungan uang dari hasil melaut untuk menyewa alat berat guna mengeruk pasir di muara.
“Itulah upaya kami sebagai nelayan, sukarela kami,” ujarnya.
Kendati demikian, dirinya memohon pemerintah daerah, pemerintah provinsi maupun dan pejabat yang berwenang untuk membantu mengatasi kondisi tersebut.
Apalagi kata Sudirman, setidaknya ada sebanyak 1.700 kapal nelayan jelitik yang menggantungkan hidupnya dari melaut dan keluar masuk Muara Air Kantung.
“Bantulah kami, jangan kami terus-terus mengemis (memohon bantuan-red), kami juga butuh hidup. Kami butuh hidup sehat. Anak-anak kami bagaimana kalau kami terhambat melaut. Kami yang seharusnya turun (melaut-red) 4 kali jadi hanya 2 kali dalam pergelap. Disitulah penghasilan kami berkurang,” harapnya.
(Bangkapos.com/Arya Bima Mahendra)