Korban MBA di Kota Tasikmalaya Mulai Melakukan Laporan ke Polres
ferri amiril February 11, 2026 09:35 PM

 

Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Jaenal Abidin 


TRIBUNPRIANGAN.COM, KOTA TASIKMALAYA - Polres Tasikmalaya Kota masih melakukan penyelidikan terkait laporan beberapa korban dugaan penipuan investasi bodong aplikasi MBA, Rabu (11/2/2026).

Mereka melaporkan dugaan penipuan investasi yang disebut-sebut memiliki basecamp di wilayah Kota Tasikmalaya. 

Bahkan, kerugian para korban bervariasi, mulai dari ratusan ribu rupiah hingga puluhan juta rupiah. 

Adapun korban berasal dari berbagai profesi dari mulai ibu rumah tangga, karyawan swasta hingga mahasiswa.

Para korban pun membawa cerita yang seragam dengan diiming-iming bonus berlapis, dan janji saldo yang tak pernah benar-benar bisa ditarik.

Baca juga: Manajemen MBA di Pangandaran Klaim Dapat Perpanjangan Waktu Verifikasi KYC

Menanggapi hal ini, Kasat Reskrim Polres Tasikmalaya Kota AKP Herman menjelaskan, pihaknya masih melakukan pendalaman terkait dugaan penipuan investasi tersebut.

AKP Herman mengaku memang sebelumnya ada yang melapor tapi jumlahnya belum pasti. Karena, informasinya cabang kantornya banyak.

"Yang pasti kita ingin mengumpulkan keterangan dulu, nanti bisa disimpulkan seperti apa awal mulanya," jelas AKP Herman.

Selain itu, dirinya pun tengah berkoordinasi dengan anggota Reskrim supaya bisa utuh kronologi dan jumlah korban di Kota Tasikmalaya.

"Nanti kita update perkembangannya sambil koordinasi dengan beberapa pihak terkait," tuturnya.

Sementara itu, salah satu korban asal Parungponteng Kabupaten Tasikmalaya Hendi (33) mengatakan, awalnya tergiur dengan bonus yang didapat setelah diajak keluarganya sendiri.

Hendi memulai dengan deposit kecil di bawah Rp500 ribu dan skema yang dijanjikan cukup menggoda.

“Awalnya ga percaya, takut penipuan. Tapi karena yang ngajak masih keluarga, akhirnya ikut daftar,” ungkapnya dikonfirmasi TribunPriangan.com.

Dirinya mengaku, untuk penghasilan harian sebesar Rp15 ribu. Bahkan, beberapa hari kemudian tergoda karena naik level.

“Naik ke Rp4,5 juta, terus ke Rp13,5 juta. Katanya penghasilan per hari bisa Rp450 ribu,” katanya.

Namun sejak naik level, janji penghasilan itu tak pernah benar-benar menjadi uang tunai. Saldo memang muncul di aplikasi, tetapi tak bisa ditarik.

“Saldo ada, tapi enggak pernah bisa ditarik. Dari Januari sampai sekarang Februari, belum pernah cair sama sekali,” jelas Hendi.

Hendi mengatakan, jaringan aplikasi MBA tidak hanya berhenti di Kota Tasikmalaya. Ia menyebut ada alur yang tersambung hingga Pangandaran.

“Yang bertanggungjawab di Tasik katanya juga ikut ke atasannya di Pangandaran,” katanya. 

Alasan melaporkan kejadian ini polisi, karena ia bersama korban lain tujuan utama untuk meminta pengembalian modal.

“Intina mah hoyong diuwihkeun modal wae (intinya ingin dikembalikan modal saja)," katanya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.