Surabaya Bakal Punya KRL, Ini Bedanya SURP dan SRRL yang Siap Ubah Wajah Transportasi Jawa Timur
Putra Dewangga Candra Seta February 11, 2026 10:32 PM

 

SURYA.co.id – Impian warga Surabaya memiliki sistem transportasi massal berbasis rel seperti KRL Jabodetabek perlahan mendekati kenyataan.

Pada 2026, wacana yang selama bertahun-tahun hanya menjadi diskusi kini mulai masuk tahap serius, ditandai dengan penyusunan studi kelayakan, dukungan internasional, serta koordinasi lintas pemerintah.

Pemerintah Kota Surabaya menyiapkan dua proyek besar sekaligus untuk menjawab tantangan kemacetan dan mobilitas kawasan metropolitan, yakni Surabaya Urban Rail Project (SURP) dan Surabaya Regional Railway Line (SRRL).

Keduanya digadang-gadang menjadi tulang punggung baru transportasi Jawa Timur, dengan konsep yang berbeda namun saling terintegrasi.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Surabaya, Irvan Wahyudrajat, menegaskan bahwa penguatan konektivitas menjadi strategi jangka panjang kota.

“Rencana pengembangan angkutan massal berbasis rel di kawasan Surabaya saat ini masih dalam tahap koordinasi dan penyelarasan strategi,” kata Irvan kepada SURYA.co.id.

SURP Jantung Transportasi Dalam Kota

KERETA LISTRIK - Foto Kereta Listrik (KRL) terhenti karena listrik pada di Jatinegara, Jakarta Timur, Minggu (4/8/2019). Proyek kereta listrik Surabaya Regional Railway Line (SRRL) menjadi salah satu agenda strategis pemerintah Daerah di Jawa Timur saat ini.
KERETA LISTRIK - Foto Kereta Listrik (KRL) terhenti karena listrik pada di Jatinegara, Jakarta Timur, Minggu (4/8/2019). Proyek kereta listrik Surabaya Regional Railway Line (SRRL) menjadi salah satu agenda strategis pemerintah Daerah di Jawa Timur saat ini. (kompas.com)

SURP diposisikan sebagai solusi mobilitas di dalam Kota Surabaya, terutama pada titik-titik dengan kepadatan tinggi.

Proyek ini dirancang menyerupai konsep MRT atau LRT di Jakarta, dengan opsi jalur bawah tanah (underground) maupun layang (elevated).

Dukungan terhadap proyek ini datang dari Pemerintah Inggris melalui kerja sama UK–FCDO GCIEP.

Bahkan, pengembangan SURP turut masuk dalam pembahasan bilateral tingkat tinggi.

Pada akhir Januari 2026, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bertemu dengan Secretary of State for Business and Trade (DBT) Kerajaan Inggris, The Rt Hon Peter Kyle MP.

Pertemuan tersebut menghasilkan penandatanganan Economic Growth Partnership (EGP) di London.

Baca juga: Apa Itu SURP dan SRRL?  Dua Kereta Baru Yang Akan Dimiliki Surabaya 

Dikutip dari laman resmi Pemerintah Inggris, Kerajaan Inggris menyatakan dukungannya terhadap pengembangan sistem transportasi Surabaya melalui Proyek Kereta Perkotaan Surabaya (SURP), termasuk peluang kolaborasi lanjutan dalam penyusunan studi kelayakan.

Menurut Irvan, studi tersebut mencakup penentuan trase dan tahapan pelaksanaan proyek.

“Pemerintah Kota Surabaya mendukung penuh karena sudah tertuang dalam RPJPD 2025–2045 dan RPJMD 2025–2029,” ujarnya.

Ia menambahkan, kereta urban Surabaya nantinya akan terintegrasi dengan simpul transportasi lain berbasis jalan, rel, maupun sungai.

SRRL Menghubungkan Gerbangkertosusila

Jika SURP berperan sebagai “urat nadi” dalam kota, maka SRRL disiapkan sebagai kereta komuter regional yang menghubungkan wilayah Gerbangkertosusila, yakni Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, hingga Lamongan.

Proyek ini dinilai lebih matang dibanding SURP. Dukungan internasional bahkan telah mengerucut pada tahap pendanaan konkret.

Jerman melalui KfW Development Bank akan menjadi investor utama tahap pertama dengan nilai pembiayaan mencapai Rp4,4 triliun.

PERTEMUAN - Duta Besar Jerman untuk Indonesia H.E. Mr. Ralf Beste bertandang ke Gedung Negara Grahadi Surabaya, Jumat (9/1/2026). Disambut langsung oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Wagub Jatim Emil Elestianto Dardak, pertemuan kali ini sarat membahas kelanjutan proyek angkutan publik Surabaya Regional Railway Line (SRRL) yang akan ground breaking pada tahun 2027 mendatang.
PERTEMUAN - Duta Besar Jerman untuk Indonesia H.E. Mr. Ralf Beste bertandang ke Gedung Negara Grahadi Surabaya, Jumat (9/1/2026). Disambut langsung oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Wagub Jatim Emil Elestianto Dardak, pertemuan kali ini sarat membahas kelanjutan proyek angkutan publik Surabaya Regional Railway Line (SRRL) yang akan ground breaking pada tahun 2027 mendatang. (Surya.co.id/Fatimatuz Zahro)

Duta Besar Jerman untuk Indonesia, H.E. Mr. Ralf Beste, juga telah bertemu Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa pada awal Januari 2026 untuk membahas keberlanjutan SRRL.

Proyek ini ditargetkan menjadi tulang punggung mobilitas Surabaya Raya mulai 2027.

Dengan rute yang lebih panjang dan lintas daerah, SRRL diharapkan menjadi solusi utama bagi warga penyangga yang setiap hari beraktivitas menuju Surabaya.

Mengapa Ini Berbeda dengan Kereta Komuter Sekarang?

Baik SURP maupun SRRL tidak dirancang seperti layanan kereta komuter konvensional yang ada saat ini.

Salah satu pembeda utama adalah rencana elektrifikasi dan frekuensi keberangkatan yang lebih rapat, menyerupai sistem KRL Jabodetabek.

Selain itu, Pemkot Surabaya juga menyiapkan pendekatan Transit Oriented Development (TOD) dan skema Land Value Capture (LVC) untuk menopang pembiayaan infrastruktur.

Kawasan yang dikaji antara lain sekitar Stasiun Gubeng, Pasar Turi, serta Wonokromo–TIJ Joyoboyo.

“Pengembangan TOD diharapkan dapat meningkatkan nilai manfaat dan nilai lahan untuk mendukung pembiayaan infrastruktur,” kata Irvan yang juga mantan Kepala Dinas Perhubungan Surabaya.

Dalam proses perencanaan, Bappeda Surabaya berperan aktif mengawal keselarasan tata ruang, integrasi antarmoda, serta dampak sosial ekonomi.

“Bappeda memastikan rencana transportasi selaras dengan perencanaan daerah, mengawal integrasi antarmoda, tata ruang, serta dampak sosial ekonominya,” ujar Irvan.

Ia juga memastikan bahwa dua proyek besar tersebut tidak akan berjalan sendiri-sendiri.
“Nanti akan terhubung,” kata Irvan, menegaskan integrasi SURP dengan SRRL.

Dengan dua proyek rel raksasa yang disiapkan bersamaan, Surabaya berada di titik krusial transformasi transportasi.

Harapannya, SURP mampu menjadi solusi mobilitas dalam kota, sementara SRRL menjawab kebutuhan perjalanan regional seperti KRL Jabodetabek di Jakarta.

Namun, tantangan terbesar bukan hanya teknis, melainkan konsistensi lintas pemerintah, skema pendanaan, dan kelincahan birokrasi.

Implementasi fisik masih menunggu finalisasi studi kelayakan, penentuan trase, hingga kelembagaan pengelola.

Jika semua berjalan sesuai rencana, Surabaya bukan hanya akan punya “KRL sendiri”, tetapi juga sistem transportasi terintegrasi yang berpotensi mengubah wajah mobilitas Jawa Timur secara permanen.

Anggota DPRD Jatim Dukung Penuh SRRL

Anggota DPRD Jatim Cahyo Harjo Prakoso menyatakan dukungan terhadap rencana pembangunan Surabaya Regional Railway Line atau SRRL yang merupakan salah satu Program Strategis Nasional (PSN).

Upaya tersebut diyakini sangat positif. 

Melalui keterangan tertulis kepada wartawan, Cahyo menilai bahwa SRRL merupakan langkah yang patut didukung bersama. 

"Karena menyangkut kepentingan mobilitas masyarakat dan masa depan transportasi publik di Surabaya Raya,” kata Cahyo, Senin (2/1/2026). 

Dikutip dalam penjelasan Pemprov Jawa Timur sebelumnya, SRRL tersebut telah tercantum dalam Perpres nomor 12 tahun 2025 tentang RPJMN 2025-2029 dan telah berproses dari tahun 2020 melalui Blue Book Bappenas 2020-2024. 

Cahyo mengungkapkan, SRRL menjadi bagian penting dari arah kebijakan pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Termasuk Kota Surabaya memiliki posisi strategis sebagai penghubung utama perekonomian Indonesia bagian timur. 

Sehingga kehadiran SRRL dianggap strategis guna memperkuat peran Kota Surabaya sebagai kota penyangga pertumbuhan ekonomi nasional.

Lebih jauh, Cahyo menegaskan bahwa transportasi publik modern akan memberikan dampak langsung terhadap kualitas lingkungan dan keadilan sosial.

Pun demikian akan membantu masyarakat yang selama ini tergantung kendaraan pribadi.

"Dengan kendaraan umum yang baik, masyarakat yang sebelumnya bergantung pada kendaraan pribadi bisa terbantu, dan ini tentu memberikan manfaat yang besar,” ujar legislator dapil Surabaya ini.

Di luar berbagai hal positif ini, Cahyo juga mengingatkan pemerintah kota Surabaya terkait kesiapan integrasi transportasi.

Ketua DPC Partai Gerindra Surabaya tersebut menekankan pentingnya penguatan konektivitas antara SRRL dengan transportasi lokal. 

“Kami berharap pemerintah kota Surabaya memperkuat integrasi antara SRRL dengan transportasi publik lokal atau feeder yang bisa masuk sampai ke kampung-kampung,” ucap Anggota Komisi E DPRD Jatim ini. 

Untuk diketahui, SRRL (Surabaya Regional Railway Line) adalah proyek angkutan umum kereta api listrik di kawasan Gerbang Kertasusila, Jawa Timur.

Proyek ini bertujuan meningkatkan konektivitas antarwilayah di sekitar Surabaya dengan fokus pada pembangunan fase 1 dan kajian tarif .

Proyek ini direncanakan mulai dibangun pada tahun 2027.(Bobby Constantine/Yusron Naufal/Putra Dewangga/SURYA.co.id)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.