Penganiaya Tetangga di Cengkareng Beberkan Kronologi Versinya, Beda Jauh dengan Pengakuan Korban
Rr Dewi Kartika H February 12, 2026 01:11 AM

TRIBUNJAKARTA.COM, CENGKARENG – Dodo, pria yang dilaporkan atas dugaan penganiayaan terhadap tetangganya di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat, akhirnya angkat bicara.

Ia membeberkan kronologi kejadian versi dirinya perihal penganiayaan sebagaimana yang viral di media sosial.

Dari apa yang disampaikan Dodo ada banyak perbedaan dengan pengakuan yang disampaikan versi korban, yakni Darwin dan istrinya.

Menurut Dodo, persoalan bermula dari hobi anaknya bermain drum di rumah orang tuanya yang sudah ditempati sejak 1976.

“Orang tua saya tinggal di situ sejak 1976. Karena rumah itu kosong, anak saya hobi main drum. Januari 2025 saya mulai bangun satu kamar untuk studio, yang menempel dengan rumah Darwin.

Waktu itu rumah di sebelahnya masih kosong dan belum laku,” kata Dodo saat ditemui di Polres Jakarta Barat, Rabu (11/2/2026).

Ia menjelaskan, studio tersebut mulai bisa digunakan pada Mei 2025. Saat itu, rumah di sebelahnya sudah dibeli dan dibangun kembali yang kemudian ditempati oleh Darwin dan istrinya.

Komplain Pertama Darwin

Dodo menyebut komplain pertama terjadi pada November 2025. Saat itu, anak keduanya tengah bermain drum pada sore hari.

Ia menegaskan anaknya tak pernah main drum sampai malam hari. Pernyataan ini berbeda dengan versi Darwin yang menyebut pelaku kerap main drum sampai tengah malam.

"Saya izinkan jam siang sampai sore paling lama jam 5. Lagipula siapa sih yang kuat main drum lebih dari dua jam," kata Dodo.

Dodo mengatakan, saat itu Darwin dan istrinya datang ke rumah dan melontarkan protes dengan nada tinggi.

“Anak saya sempat ditarik. Ada saksi, termasuk tetangga yang punya laundry. Hampir kontak fisik, tapi waktu itu bisa dipisahkan,” kata Dodo.

Padahal, ujar Dodo, dirinya telah memasang peredam di rumah itu agar suara drum anaknya tak terdengar ke tetangga.

Larang Anak Main Drum

Setelah kejadian itu, Dodo mengaku langsung melarang anaknya bermain drum.

Seminggu sebelum terjadinya aksi penganiayaan, anaknya disebut sempat meminta izin kembali untuk latihan.

Dodo mengatakan anaknya bahkan mencoba mengetuk rumah Darwin untuk memastikan ada atau tidaknya penghuni sebelum bermain.

Sedangkan peristiwa yang berujung penganiayaan terjadi pada kali kedua anak Dodo kembali diperbolehkan bermain drum.

Saat itu, ujar Dodo, Darwin kembali menegur putranya yang bermain drum dengan alasan suaranya terdengar sampai ke rumahnya.

Niat Cek Suara

Dodo mengetahui Darwin komplain usai ditelepon oleh anaknya.

"Wah cocok, saya bilang. Kita tes saja sekalian cek sound, kita mau dengar seberapa keras gitu," ujarnya.

Karenanya, Dodo saat itu langsung datang ke rumah lokasi kejadian dengan menggunakan mobil.

"Jalanlah saya gitu. Eh kira-kira 150 meter, saya lihatlah anak saya sudah diitarik. Saya sebagai orangtua panik. Waktu saya parkir, mobil saya senggol istrinya, bukan tabrak. Kalau tabrak pasti mental ke depan, ini jatuhnya ke samping,” ujarnya.

Ia mengaku turun dari mobil dan melihat anaknya sudah dalam posisi dipiting.

“Emosi saya keluar. Saya pukul bagian paha dan bokongnya. Bukan muka. Saya juga sudah sampaikan ke penyidik,” katanya.

Dodo menyebut dirinya sempat meminta Darwin melepaskan anaknya.

“Saya bilang ‘Ampun nggak?’ sampai akhirnya dilepas,” tutur dia.

Ia juga membantah tudingan telah menyebabkan luka serius, termasuk kepada istri Darwin yang disebut tengah menjalani program hamil.

“Istrinya enggak luka. Anak saya juga luka, tapi kami enggak visum,” ujarnya.

Saling Lapor

Sehari setelah kejadian, upaya mediasi melalui pengurus RW disebut sempat direncanakan.

Namun menurut Dodo, pihak Darwin menolak dan justru mengunggah peristiwa tersebut ke media sosial serta membuat laporan polisi (LP).

Mengetahui hal itu, Dodo juga melaporkan balik dugaan ancaman dan makian yang disebut terjadi sebelumnya.

“LP saya soal kausalitas, peristiwa sebelumnya yang memaki dan ancaman kekerasan,” ucapnya.

Bantah Ditegur Satpol PP

“Saya enggak pernah terima WA atau didatangi Satpol PP,” katanya.

Buka Peluang Damai

Meski proses hukum berjalan, Dodo menyatakan terbuka untuk berdamai.

“Saya ke penyidik juga bilang, tolong dibantu untuk damai. Saya ngaku salah, orang emosi pasti salah. Tapi ini ada sebab akibat,” ujarnya.

Ia berharap mediasi bisa difasilitasi kepolisian setelah situasi mereda.

“Siapa sih yang mau ribut sama tetangga. Apalagi saya sudah 50-an. Makin tua makin sedikit teman,” kata Dodo.

Hingga kini, kasus tersebut masih dalam penanganan Polres Metro Jakarta Barat.

Kronologi Versi Korban

Sebelumnya, Darwin membeberkan bahwa konflik ini bermula dari gangguan suara drum yang sudah berlangsung sejak Agustus 2025 silam.

Darwin mengaku sudah berulang kali menegur secara baik-baik, bahkan melibatkan RT hingga Satpol PP, namun suara bising tersebut tetap berlanjut.

"Sebenarnya sih simpel ya, ini masalah cuma dia berisik main drum. Terus saya sudah tegur lebih dari lima kali baik-baik, lewat RT sampai sudah sampai Satpol PP datang, tetap dia masih main," ujar Darwin saat ditemui di lokasi kejadian, Senin (9/2/2026).

Suara bising itu dinilai sangat mengganggu istri Darwin yang sedang menjalani program hamil hingga merasakan stres karena tak bisa istirahat.

"Kami sudah sampai emosi. Masalahnya, istri saya kan lagi program hamil, dia stres berat," ucap Darwin.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.